
<p>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id/44302-10-kaidah-dalam-menyucikan-jiwa-bag-5.html">10 Kaidah dalam Menyucikan Jiwa (Bag. 5)</a></span></p>
<p><b>Kaidah kelima: Membersihkan dan menghiasi</b></p>
<p>Sesungguhnya hakikat penyucian jiwa adalah diawali dengan membersihkan jiwa <i>(takhliyyah) </i><b>(تخلية)</b>, yaitu membersihkannya dari kotoran, maksiat, dan perbuatan dosa, setelah itu menghiasinya <i>(tahliyyah) </i><b>(تحلية)</b> dengan melakukan berbagai amal ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah Ta’ala.</p>
<p>Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ</span></p>
<p>“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka.” <b>(QS. At-Taubah [9]: 103)</b></p>
<p>Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) <i>“membersihkan mereka”</i> terdapat isyarat tentang kedudukan <i>“takhliyyah” </i>dari keburukan, yaitu membersihkan diri dari perbuatan dosa.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/5389-meraih-ketenangan-hati-yang-hakiki.html">Meraih Ketenangan Hati yang Hakiki</a></span></p>
<p>Dalam firman Allah Ta’ala (yang artinya) <i>“menyucikan mereka”</i> terdapat isyarat tentang kedudukan <i>“tahliyyah”, </i>yaitu menghiasi diri dengan keutamaan dan kebaikan.</p>
<p>Mendahulukan “pembersihan” <i>(thath-hiir) </i><b>(تطهير)</b> dari “penyucian” <i>(tazkiyyah)</i> <b>(تزكية) </b>pada ayat di atas, layaknya mendahulukan (<i>takhliyyah</i>) sebelum melakukan <i>tahliyyah.</i></p>
<p>Oleh karena itu, menjadi sebuah keniscayaan bagi orang yang ingin menyucikan jiwanya agar melepaskan diri terlebih dahulu dari dosa dan pelanggaran yang dapat merusak dan menutupi hatinya dari cahaya hidayah dan keimanan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam, </i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ العَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]</span></p>
<p><i>“</i>Apabila seorang hamba melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila dia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila dia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan dengan <b><i>“ar-raan”</i></b> yang Allah Ta’ala sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”<i>. </i><b>(QS. Al-Muthaffifiin [83]: 14)</b><i>” </i><b>(HR. Tirmidzi no. 3334 dan dinilai hasan oleh Al-Albani dalam </b><b><i>Shahih At-Targhiib wa At-Tarhiib </i></b><b>2: 268)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44073-merasakan-bahagia-ketika-ber-khalwat-bersama-allah.html">Merasakan Bahagia Ketika Ber-khalwat Bersama Allah</a></span></p>
<p>Kemudian, setelah itu dia dapat bersungguh-sungguh memperbanyak amal shalih yang dapat menyucikan jiwanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ</span></p>
<p>“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” <b>(QS. Al-‘Ankabut [29]: 69)</b></p>
<p>Ibnu Taimiyah <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">فالتزكية وإن كان أصلها النماء، والبركة وزيادة الخير، فإنما تحصل بإزالة الشر؛ فلهذا صار التزكي يجمع هذا وهذا</span></p>
<p><i>“At-tazkiyah, </i>meskipun makna asalnya adalah pertumbuhan, keberkahan dan pertambahan kebaikan, namun hal itu hanya bisa tercapai dengan menjauhi segala keburukan. Sehingga jadilah <i>tazkiyah </i>itu mengumpulkan antara menjauhi keburukan dan meningkatkan kebaikan.” <b>(</b><b><i>Majmuu’ Al-Fataawa, </i></b><b>10: 97)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43399-terlalu-banyak-tertawa-mengeraskan-hati.html">Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan Hati</a></span></p>
<p>Ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ</span></p>
<p>“Sebenarnya Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki-Nya.” <b>(QS. An-Nisa’ [4]: 49)</b></p>
<p>Syaikh ‘Abdurrahman As-Sa’di <i>rahimahullahu Ta’ala </i>berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أي: بالإيمان والعمل الصالح بالتخلي عن الأخلاق الرذيلة، والتحلي بالصفات الجميلة</span></p>
<p>“Yaitu Allah membersihkan diri mereka dengan iman dan amal shalih, yaitu dengan at-takhalli, membersihkan diri dari akhlak yang buruk, dan at-tahalliy, menghiasi diri dengan sifat-sifat yang mulia.” <b>(</b><b><i>Taisiir Karimirrahman, </i></b><b>hal. 182)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43108-tidak-semua-kejadian-viral-harus-dikomentari.html">Tidak Semua Kejadian Viral Harus Dikomentari</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39642-keutamaan-menghadiri-majelis-ilmu-di-masjid.html">Keutamaan Menghadiri Majelis Ilmu Di Masjid</a></span></li>
</ul>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p>***</p>
<p>@Rumah Lendah, 18 Shafar 1440/ 27 Oktober 2018</p>
<p><b>Penerjemah: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p>Artikel: <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id">Muslim.Or.Id</a></span></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p>Diterjemahkan dari kitab <b><i>‘Asyru qawaaida fi tazkiyatin nafsi, </i></b>hal. 23-24, karya Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al-Badr <i>hafidzahullahu Ta’ala. </i></p>
 