
<p><strong>Kiat kelima menggapai keberkahan: Membayar zakat dan berinfak di jalan Allah <em>Ta’ala</em>.</strong></p>
<p>Zakat, baik zakat wajib atau sunnah (<em>shadaqah</em>) adalah salah satu amalan yang menjadi penyebab turunnya keberkahan. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يَمْحَقُ اللّهُ الْرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ</p>
<p>“<em>Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah.</em>” (Qs. al-Baqarah: 276). Pada ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ  حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ  وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاء وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ</p>
<p>“<em>Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang  yang  menafkahkan  hartanya di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih  yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus  biji. Allah melipat gandakan bagi orang yang Ia kehendaki. Dan Allah  Maha Luas lagi Maha Mengetahui.</em>” (Qs. al-Baqarah: 261). Pada ayat lain Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاء مَرْضَاتِ اللّهِ  وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا  وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ  فَطَلٌّ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ</p>
<p>“<em>Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka  karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti  sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan  lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan  lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimispun (memadai). Dan Allah  Maha Melihat apa yang kamu perbuat</em>.” (Qs. al-Baqarah: 265).</p>
<p>Pada ayat lain, Allah berfirman,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّبًا لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا  يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ  اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ</p>
<p>“<em>Dan sesuatu riba yang engkau berikan agar bertambah pada harta  manusia, maka riba itu tidak bertambah pada sisi Allah. Dan apa yang  kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai Wajah Allah  (keridhaan-Nya), maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang  melipat gandakan</em>.” (Qs. ar-Rum: 39).</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلانِ  فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا. وَيَقُولُ  الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا (متفق عليه</p>
<p>“<em>Tiada pagi hari, melainkan ada dua malaikat yang turun, kemudian  salah satunya berucap (berdoa), ‘Ya Allah, berilah orang yang berinfak  pengganti’, sedangkan yang lain berdoa, ‘Ya Allah, timpakanlah kepada  orang yang kikir (tidak berinfak) kehancuran.</em>‘” (HR. <em>Muttafaqun ‘alaih</em>).</p>
<p>Pada hadits lain beliau<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">(مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ  إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللَّهُ  (رواه مسلم</p>
<p>“<em>Tidaklah sedekah itu akan mengurangi harta, dan tidaklah Allah  menambahkan kepada seorang hamba dengan memaafkan melainkan kemuliaan,  dan tidaklah seseorang ber-tawadhu’/ merendahkan diri karena  Allah,  melainkan Allah akan meninggikannya.</em>” (HR. Muslim).</p>
<p>Para ulama menjelaskan maksud hadits ini dengan menyebutkan dua penafsiran:</p>
<p>Maksudnya, Allah akan memberkahi hartanya dan menjaganya dari  kerusakan, sehingga kekurangan yang terjadi dapat tertutupi dengan  turunnya keberkahan. Hal ini dapat dirasakan langsung dan juga dapat  dilihat contohnya di masyarakat.</p>
<p>Walaupun secara hitungan harta berkurang, akan tetapi pahala yang  berlipat ganda dapat menutupi kekurangan tersebut, bahkan melebihinya  (lihat <em>Syarah Muslim</em> oleh an-Nawawi, 8/399 dan <em>Faidhul Qadir</em>, 5/642).</p>
<p>Makna kedua ini selaras dengan hadits berikut,</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">يقول ابن آدَمَ: مَالِي مَالِي قال: وَهَلْ لك يا بن آدَمَ من مَالِكَ  إلاَّ ما أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أو لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أو تَصَدَّقْتَ  فَأَمْضَيْتَ. رواه مسلم)</p>
<p>“A<em>nak keturunan Adam (senantiasa) berkata, ‘Hartaku, hartaku!’  Apakah engkau wahai anak Adam mendapatkan bagian dari hartamu selain  yang engkau makan sehingga engkau habiskan, atau engkau pakai sehingga  engkau rusakkan atau yang engkau sedekahkan sehingga engkau sisakan  (untuk kehidupan akhirat).</em>” (HR. Muslim).</p>
<p>Walaupun demikian, kedua penafsiran di atas sama-sama benar adanya, dan tidak saling bertentengan.</p>
<p>Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin Baderi, M.A<br> Artikel <a href="http://www.PengusahaMuslim.com" target="_blank">www.PengusahaMuslim.com</a></p>
 