
<p><em>Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du.</em></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Al-Qur’an dan Al-Fatihah</strong></span></h2>
<p>Al-Qur’an Al-Karim adalah kitabullah yang paling sempurna diantara seluruh kitab-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, yang merupakan bahasa paling sempurna. Al-Qur’an tentunya memiliki mutu bahasa yang paling tinggi. Tata bahasa Al-Qur’an, gaya bahasa Al-Qur’an, dan keindahan bahasa Al-Qur’an memiliki nilai tertinggi karena Al-Qur’an adalah <em>kalamullah</em> yang paling sempurna. Tidak ada satu pun yang menyamai Al-Qur’an, apalagi mengalahkannya.</p>
<p>Al-Fatihah merupakan salah satu surah di dalam Al-Qur’an. Keindahan surah Al-Fatihah tentunya memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan dengan surah lainnya. Surah Al-Fatihah juga merupakan surah paling utama dalam Al-Qur’an. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam </em>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَتْ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الْإِنْجِيلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الْفُرْقَانِ مِثْلُهَا</span></p>
<p><em>“Demi Allah yang jiwaku ada ditangan-Nya, tidaklah diturunkan dalam At-Taurah, Al-Injil, Az-Zabuur, dan Al-Furqan (Al-Qur’an), semulia Al-Fatihah”</em> (HR. At-Tirmidzi, sahih).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Al-Fatihah memiliki banyak keutamaan</strong></span></h2>
<p>Surah Al-Fatihah memiliki banyak nama. Surah Al-Fatihah disebut juga dengan nama <em>Ummul Qur’an </em>(induk Al-Qur’an), <em>Ummul Kitab </em>(induk kitabullah), dan masih banyak nama lainnya. Imam As-Suyuthi <em>Rahimahullah </em>menyebutkan ada 25 nama untuk surah Al-Fatihah.</p>
<p>Surah Al-Fatihah mengandung tujuan Al-Qur’an yang terbesar, yaitu penetapan tauhid, janji dan ancaman, perintah dan larangan Allah dalam hal ibadah, jalan kebahagiaan dan bagaimana melaluinya, dan kisah-kisah orang yang melanggar hukum Allah. Al-Fatihah juga mencakup tiga macam tauhid, yaitu tauhid <em>rububiyyah</em>, tauhid <em>uluhiyyah</em>, dan tauhid <em>asma’ wa sifat</em>.</p>
<p>Surah Al-Fatihah dapat menjadi obat untuk hati dan badan. Surah Al-Fatihah juga mengandung doa terpenting dan mengandung sebab terkabulkannya doa. Masih banyak keistimewaan surah ini sehingga tidak heran jika para ulama <em>Rahimahumullah </em>memberi perhatian yang khusus terhadapnya.</p>
<p>Para ulama membuat penjelasan ilmiah dan pengamalan terkait surah Al-Fatihah. Ulama melakukan hal tersebut dikarenakan surah Al-Fatihah mengandung prisnsip-prinsip keimanan yang dibutuhkan oleh setiap muslim dan muslimah. Oleh karena itu, surah Al-Fatihah benar-benar surah yang paling istimewa.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72506-tafsir-ringkas-surah-al-fatihah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Tafsir Ringkas Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Keindahan Bahasa Al-Fatihah</strong></span></h2>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (١) ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ (٢) ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ (٣) مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ (٥) ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ (٦) صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ (٧)</span></p>
<p><em>“(1) Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (2) Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. (3) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (4) Yang menguasai di Hari Pembalasan. (5) Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. (6) Tunjukilah kami jalan yang lurus, (7) (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”</em> (QS. Al-Fatihah: 1-7).</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Indahnya pembukaan surah Al-Fatihah</strong></span></h3>
<p>Pembukaan surah Al-Fatihah sangat indah karena diawali dengan menyebut seluruh nama Allah <em>Ta’ala</em> dan pujian kepada-Nya dengan berbagai sifat ketuhanan yang sempurna. بِسْمِ اللّٰهِ mengandung makna, “Saya memulai bacaan ini dengan menyebut hanya seluruh nama Allah sembari memohon pertolongan dan keberkahan kepada-Nya.”</p>
<p>Alasan diartikan sebagai “seluruh nama Allah” karena adanya kata tunggal <em>ismun</em> yang disandarkan kepada lafaz <em>Allah </em>yang menunjukkan makna umum, seluruh nama Allah. Apabila <em>isim mufrod</em> (tunggal) disandarkan kepada isim lainnya, maka akan menunjukkan makna umum yang cakupannya menyeluruh.</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Rahasia huruf <em>ba’ </em>yang ada dalam ayat pertama</strong></span></h3>
<p>Mengucapkan { بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ } hakikatnya adalah memohon pertolongan dan keberkahan kepada Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p>Huruf <em>ba’</em> dalam ayat ini adalah <em>ba’</em> <em>lilisti’anah</em>. Maknanya memohon pertolongan kepada Allah <em>Ta’ala </em>semata. Segala permohonan pertolongan kepada Allah semata pasti memohon keberkahan dari Allah juga. Keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan tetapnya kebaikan tersebut. Tentu saja permohonan pertolongan seorang hamba kepada Allah <em>Ta’ala</em> hakikatnya memohon pertolongan terbaik sehingga mengandung keberkahan.</p>
<p>Makna ayat pertama adalah, “Saya mulai bacaanku dengan hanya [1] menyebut seluruh nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang sembari memohon pertolongan dan keberkahan kepada-Nya dalam bacaanku ini [2].”</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Rahasia yang mengagumkan dalam <em>lafzhul jalaalah</em> “الله”</strong></span></h3>
<p>Dalam <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” terdapat beberapa keindahan bahasa yang mengagumkan, yaitu:</p>
<h4><strong>Pertama, keindahan maknanya</strong></h4>
<p>“الله” adalah salah satu dari nama-nama-Nya yang paling indah (<em>al-asma’ul husna</em>). Sifat yang terkandung dalam nama “الله” adalah sifat <em>al-uluhiyyah</em> karena setiap nama-Nya pasti mengandung sifat-Nya.</p>
<p>Ulama tafsir dari kalangan sahabat, Ibnu Abbas <em>Radiyallahu‘anhuma,</em> berkata ketika menjelaskan makna nama “الله”,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الله ذو الألوهية والعبودية على خلقه أجمعين</span></p>
<p><em>“Allah adalah Yang memiliki hak untuk diibadahi atas seluruh makhluq-Nya.”</em></p>
<p>Inilah yang disebut dengan sifat <em>al-uluhiyyah </em>(berhak untuk diibadahi/disembah).</p>
<h4><strong>Kedua, keindahan akar bahasanya</strong></h4>
<p>Menurut Al-Kisaa’i dan Al-Farraa’ <em>Rahimahumullah </em>[3] bahwa <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” asalnya dari الإله dengan <em>hamzah</em> yang dihilangkan. Kemudian di-<em>idgham</em>-kan huruf <em>lam</em> yang satu ke <em>lam</em> yang lainnya. Sehingga menjadi satu <em>lam</em> saja, namun ber-<em>tasydid</em> dan dibaca tebal.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/72130-keutamaan-surat-al-fatihah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Surah Al-Fatihah (Bag. 1)</a></strong></p>
<p>Sebagian ahli bahasa menyebutkan ditebalkan (di-<em>tafkhim</em>) dalam membaca “الله” dalam rangka mengagungkan Allah <em>Ta’ala.</em></p>
<p><em>Hamzah</em> setelah <em>alif lam</em> dihilangkan dari <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” karena <em>hamzah</em> itu berat diucapkan oleh lisan Arab jika letaknya di tengah kata [4].</p>
<p><em>Alif</em> (setelah <em>lam</em> sebelum <em>ha’</em>) dihilangkan dalam penulisan <em>lafzhul jalaalah</em> “الله”, meski tetap ada saat diucapkan. Ini merupakan pendapat terkuat menurut para ulama. Dikarenakan <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” banyak diucapkan dan ditulis, sehingga diringankan dalam penulisannya dengan cara menghilangkan <em>alif </em>dari <em>lafzhul jalaalah</em> “الله”.</p>
<p>Sebagaimana dihilangkan <em>alif</em> (setelah <em>mim</em> sebelum <em>nun</em>) dalam penulisan الرحمن, maka huruf <em>alif</em> (setelah <em>lam</em> sebelum <em>ha’</em>) dihilangkan juga dalam penulisan إله dan <span dir="rtl">اللهم</span>, meski tetap ada saat diucapkan [5].</p>
<p>Az-Zujaji <em>Rahimahullah</em> berpendapat bahwa <em>alif lam ta’riif</em> dimasukkan pada awal <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” untuk menunjukkan bahwa Allah adalah tuhan yang <em>haqq. </em>Lafaz إله itu umum penggunaannya sehingga bisa untuk tuhan yang <em>haqq</em> dan bisa juga untuk tuhan yang batil. Sedangkan <em>lafzhul jalaalah</em> “الله” hanya untuk nama bagi tuhan yang <em>haqq</em>, yaitu Allah <em>Ta’ala</em> semata [6].</p>
<p>Adapun الإله disini mengikuti wazan فعال yang maknanya adalah sesembahan (yang berhak disembah). Hal ini berdasarkan <em>qira’ah</em> Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhuma</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَذَرُ مُوْسٰى وَقَوْمَهٗ لِيُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَۗ</span></p>
<p><em>“Dan para pemuka dari kaum Fir‘aun berkata, ‘Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) dan <strong>meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?</strong>‘”</em> (QS. Al-A’raf: 127).</p>
<p>Ini adalah <em>qiro’ah</em> yang terkenal di tengah-tengah kaum muslimin. Akan tetapi, Ibnu Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhuma</em> membacanya dengan salah satu dari <em>Qiro’ah Sab’ah</em> lainnya, yaitu (وَيَذَرَكَ وَ إِلاَهَتَكَ) yang artinya, “<em>dan <strong>meninggalkanmu serta penyembahan terhadap dirimu</strong></em>”. Apabila dua macam <em>qiro’ah</em> ini digabungkan, maka akan menunjukkan bahwa beliau memahami makna الإله sebagai sesembahan (yang berhak disembah) [7].</p>
<h4><strong>Ketiga, keindahan statusnya sebagai nama Allah yang teragung</strong></h4>
<p>Nama “الله” adalah nama-Nya yang paling agung [8]. Seluruh nama Allah <em>Ta’ala </em>yang lain merupakan turunan dari nama “الله”.</p>
<p>“الله” adalah nama Allah yang khusus bagi-Nya dan mengandung sifat <em>al-uluhiyyah </em>(berhak diibadahi). Tidak boleh makhluk bernama dengan nama tersebut dan tidak boleh pula makhluk bersifat dengan sifat yang terkandung di dalamnya.</p>
<p>Nama “الله” adalah nama Allah yang paling agung dan asal dari seluruh nama-nama Allah yang lain. Dengan demikian, seluruh nama-nama Allah yang lain disandarkan kepada nama “الله”. Nama Allah yang lain digunakan untuk menyifati nama “الله”.</p>
<p>Nama “الله” menunjukkan kepada seluruh nama-nama yang lain secara global. Sedangkan nama-nama Allah yang lain adalah perincian dan penjelasan makna nama “الله”.</p>
<p>Allah disifati dengan sifat <em>al-uluhiyyah </em>(berhak diibadahi) karena menunjukkan bahwa Allah Mahasempurna dalam segala sifat-sifat-Nya. Konsekuensi nama “الله” itu menunjukkan kepada seluruh nama dan sifat Allah lainnya.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/70311-nama-nabi-dan-rasul-dalam-alquran-assunnah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Nama-Nama Nabi dan Rasul dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah (Bag. 1)</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/69077-al-quran-dan-musik-itu-bagaikan-minyak-dan-air.html" data-darkreader-inline-color="">Al-Quran dan Musik Itu Bagaikan Minyak dan Air</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Sa’id Abu Ukkasyah</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><strong>[1]</strong>  “Hanya” disini didapatkan dari mengakhirkan penentuan kata kerja yang tak disebutkan (<em>taqdir mahdzuf</em>) dari <em>jar majrur</em>nya, yaitu أبتدئ بسم الله مستعينا به.</p>
<p><strong>[2]</strong> <em>Syarah Tsalatsatul Ushul, Al-‘Utsaimin</em>, Ad-Durrul Mashuun, Al-Halabi dan I’rabul Qur’an, Ad-Darwisy <em>Rahimahumullah.</em></p>
<p><strong>[3]</strong> <em>Fathul Majid</em>, Syekh Abdur Rahman Alusy Syaikh <em>Rahimahullah.</em></p>
<p><strong>[4]</strong> https://www.alukah.net/literature_language/0/80377/#ixzz7KlElWyB6.</p>
<p><strong>[5]</strong> <em>Dalilul hairan ‘ala maurizh zham’an, </em>Ibrahim At-Tunisi<em> Rahimahullah</em> hal. 37, Al-Anbari <em>Rahimahullah </em>dalam <em>Al-Bayan fi Gharib I’rabil Qur’an </em>(1/32), dan As-Syathibi <em>Rahimahullah</em> di dalam <em>Aqilah atrabil qashaid fi asnal maqashid fi ‘ilmi rasmil Mashahif, </em>hal. 14.</p>
<p><strong>[6]</strong> http://www.alfaseeh.com/vb/showthread.php?t=64126.</p>
<p><strong>[7]</strong> <em>At-Tamhid</em>, Shaleh Alusy Syaikh <em>Rahimahullah.</em></p>
<p><strong>[8]</strong> Berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dalam musnadnya, Imam Al-Hakim dan selainnya. Imam Al-Hakim menyatakan sahih sesuai syarat Imam Muslim.</p>
 