
<p>Ini serial terakhir dari buku 24 Jam di Bulan Ramadhan, yaitu tentang amalam di sepuluh hari terakhir Ramadhan.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Pertama: Lebih serius dalam beribadah pada akhir Ramadhan</h3>
<p>Dari Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.</p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim, no. 1175)</p>
<p>Dikatakan oleh istri tercinta beliau, ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ</p>
<p>“Apabila Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari, no. 2024 dan Muslim, no. 1174).</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Kedua: Melakukan i’tikaf</h3>
<p>I’tikaf maksudnya adalah berdiam di masjid beberapa waktu untuk lebih konsen melakukan ibadah.</p>
<p>Dalam hadits disebutkan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ:- أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ اَلْعَشْرَ اَلْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ, حَتَّى تَوَفَّاهُ اَللَّهُ, ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ</p>
<p>Dari ‘Aisyah <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata bahwasanya Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>biasa beri’tikaf di sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan hingga beliau diwafatkan oleh Allah. Lalu istri-istri beliau beri’tikaf setelah beliau wafat. (HR. Bukhari, no. 2026 dan Muslim, no. 1172).</p>
<p>Hikmah beliau seperti itu disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri berikut di mana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>mengatakan,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">إِنِّى اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوَّلَ أَلْتَمِسُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ ثُمَّ اعْتَكَفْتُ الْعَشْرَ الأَوْسَطَ ثُمَّ أُتِيتُ فَقِيلَ لِى إِنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلْيَعْتَكِفْ فَاعْتَكَفَ النَّاسُ مَعَهُ</p>
<p>“Aku pernah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari Ramadhan yang pertama. Aku berkeinginan mencari malam lailatul qadar pada malam tersebut. Kemudian aku beri’tikaf di pertengahan bulan, aku datang dan ada yang mengatakan padaku bahwa lailatul qadar itu di sepuluh hari yang terakhir. Siapa saja yang ingin beri’tikaf di antara kalian, maka beri’tikaflah.” Lalu di antara para sahabat ada yang beri’tikaf bersama beliau. (HR. Bukhari, no. 2018 dan Muslim, no. 1167).</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;">Ketiga: Meraih lailatul qadar</h3>
<p>Allah menyebut keutamaan lailatul qadar,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ (5)</p>
<p>“<em>Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar</em>.” (QS. Al-Qadr: 3-5)</p>
<p>Dari Abu Hurairah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>, dari Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, beliau bersabda,</p>
<p dir="RTL" style="font-family: Calibri; font-size: 23px; text-align: center;">مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ</p>
<p>“<em>Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni</em>.” (HR. Bukhari, no. 1901)</p>
<p>Bisa juga kita mengamalkan do’a yang pernah diajarkan oleh Rasul kita <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>jikalau kita bertemu dengan malam Lailatul Qadar yaitu do’a: “ALLAHUMMA INNAKA ‘AFUWWUN TUHIBBUL ‘AFWA FA’FU’ANNI” (<span lang="EN-US">artinya: Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–</span>). Sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam </em>pernah mengajarkan do’a ini pada ‘Aisyah, istri tercinta beliau.</p>
<p> </p>
<h3 style="text-align: center;"><span style="color: #000080;"><strong>Silakan download buku PDF dan covernya, tersedia juga buku versi tablet via dropbox:</strong></span></h3>
<h1 style="text-align: center;"><a href="https://www.dropbox.com/s/a8142koxoml9zex/24%20Jam%20di%20Bulan%20Ramadhan%20Cetakan%20Kedua.pdf?dl=0" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>“24 Jam di Bulan Ramadhan” (Cetakan Kedua)</strong></span></a></h1>
<hr>
<p>Disusun oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc.</a></p>
<p>Artikel <a href="http://Rumaysho.Com" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Rumaysho.Com</a></p>
 