
<p>Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i>bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ</span></p>
<p>“Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu (agama), maka akan Allah Ta’ala mudahkan baginya jalan menuju surga.” <b>(HR. Muslim no. 2699)</b></p>

<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala dalam menuntut ilmu agama adalah dengan meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya sendiri, kemudian mengangkat kebodohan dari orang lain. Karena asal usul manusia adalah berada dalam kebodohan. Allah Ta’ala berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu </span><b>dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu</b> <b>pun,</b><span style="font-weight: 400;"> dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” </span><b>(QS. An-Nahl [16]: 78)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menuntut ilmu agama adalah ibadah, karena Allah Ta’ala yang memerintahkannya dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ</b></span></p>
<p><b>“Ketahuilah (ilmuilah)</b><span style="font-weight: 400;"> bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah.” </span><b>(QS. Muhammad [47]: 19)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan juga dalam firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ وَأَنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ</b></span></p>
<p><b>“Ketahuilah (ilmuilah),</b><span style="font-weight: 400;"> bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” </span><b>(QS. Al-Maidah [5]: 98)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan setiap yang Allah Ta’ala perintahkan adalah ibadah. Oleh karena itu, menuntit ilmu (belajar) di majelis pengajian atau di bangku sekolah resmi (universitas, misalnya) bernilai ibadah jika diikhlaskan niatnya untuk Allah Ta’ala. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menuntut ilmu agama juga bagian dari </span><i><span style="font-weight: 400;">jihad fi sabilillah, </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana firman-Nya,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak sepatutnya bagi orang beriman itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang </span><b>untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama</b><span style="font-weight: 400;"> dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” </span><b>(QS. At-Taubah [9]: 122)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/51246-metode-mempelajari-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Metode yang Benar dalam Mempelajari Ilmu Agama (Bag. 1)</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mengamalkan ilmu agama</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Amal adalah buah dari ilmu. Amal adalah sebab terjaganya ilmu, dan juga sebab bertambahnya ilmu. Sebagaimana perkataan Sufyan Ats-Tsauri </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah, </span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>العلم يهتف بالعمل فإن أجابه وإلا ارتحل</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ilmu itu akan memanggil amal. Jika amal menyambutnya, (maka ilmu akan terjaga). (Jika amal tidak menyambutnya), ilmu pun pergi.” (Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abdil Barr dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Jaami’ Bayaan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi, </span></i><span style="font-weight: 400;">1: 706)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa saja yang tidak mengamalkan ilmu, dia berhak mendapatkan hukuman. Oleh karena itu, Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengajarkan doa memohon perlindungan </span><i><span style="font-weight: 400;">(isti’adzah) </span></i><span style="font-weight: 400;">dari ilmu yang tidak diamalkan. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ، الْقَبْرِ اللهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah, ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah, ya Tuhanku</span><b>, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna (tidak bermanfaat),</b><span style="font-weight: 400;"> hati yang tidak khusyuk, diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.’” </span><b>(HR. Muslim no. 2722)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setiap kita hendaknya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan manfaat dari ilmu yang telah dipelajari, yaitu dengan mengamalkannya, dan untuk mengajarkan kita ilmu yang bermanfaat. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">mengajarkan doa,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, berilah manfaat dari ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku. Ajarkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat. Dan tambahkanlah ilmu untukku.” </span><b>(HR. Tirmidzi no. 3599 dan Ibnu Majah no. 251 dan no. 3833, shahih)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50749-ilmu-agama-itu-lebih-berharga-daripada-harta-benda.html" data-darkreader-inline-color="">Ilmu Agama Itu Lebih Berharga daripada Harta Benda</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Mendakwahkan ilmu yang telah dipelajari</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah, “Inilah jalan (agama)-ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” </span><b>(QS. Yusuf [12]: 108)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah Ta’ala juga berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu), </span><b>“Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, </b><span style="font-weight: 400;">dan jangan kamu menyembunyikannya.” </span><b>(QS. Ali ‘Imran [3]: 187)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ayat di atas, meskipun pada asalnya berkaitan dengan ahlul kitab, namun berlaku umum untuk umat Islam juga. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa saja yang tidak mengamalkan ilmunya, dia akan mendapatkan hukuman dengan dicabutnya ilmu, sebagaimana firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami laknat mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, </span><b>dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya.”</b> <b>(QS. Al-Maidah [5]: 13)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47061-hanya-ada-waktu-waktu-sisa-untuk-belajar-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Hanya Ada Waktu-Waktu Sisa untuk Belajar Ilmu Agama</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/29242-derajat-mulia-penuntut-ilmu-agama-2.html" data-darkreader-inline-color="">Derajat Mulia Penuntut Ilmu Agama</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor Mikro Jogja, 28 Syawal 1441/ 20 Juni 2020</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Taqyiidusy Syawaarid minal Qawaa’id wal Fawaaid, </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah Ar-Rajihi, hal. 12-14.</span></p>
 