
<p>Dalam  artikel yang lalu, kita telah membahas dua dari empat tips dalam  mengevaluasi kinerja karyawan. Berikut ini adalah kedua tips  lanjutannya.</p>
<p><strong>1. Menciptakan komunikasi dua arah.</strong></p>
<p>Salah  satu kesalahan terbesar yang dilakukan banyak pimpinan adalah tidak  meminta pendapat karyawan terhadap hasil penilaian. Padahal, meminta  opini dari karyawan terhadap evaluasi kinerja mereka akan membuahkan  hasil yang positif, dan secara tidak langsung meningkatkan probabilitas  diterimanya hasil penilaian oleh karyawan sendiri. Dengan menciptakan  komunikasi dua arah, pimpinan pun bisa mengurangi ketidakadilan yang  sering dirasakan oleh karyawan.</p>
<p><strong>2. Menciptakan budaya yang kolaboratif terhadap saran dan kritik.</strong></p>
<p>Apabila  ketiga tips di atas lebih terkonsentrasi pada pemimpin, maka tips yang  terakhir ini untuk mengatasi keengganan karyawan dalam menerima masukan.  Dengan demikian, budaya yang terbuka dalam menerima saran dan kritik  akan sangat membantu pimpinan agar evaluasi mereka diterima oleh  karyawan. Evaluasi dan masukan dari pimpinan akan sia-sia apabila  karyawan tidak menghiraukan dan mencoba untuk berubah ke arah yang lebih  baik.</p>
<p>Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh dengan adanya  keterbukaan terhadap masukan adalah terciptanya komitmen, kepercayaan,  dan pengertian antara pemimpin dan karyawan terhadap standard kinerja  perusahaan. Hal ini juga mendorong adanya masukan dan kritik yang  berkesinambungan, sehingga karyawan mengerti harapan pemimpin dan akan  berusaha untuk meningkatkan kinerja mereka. Dengan adanya budaya yang  terbuka akan kritik dan saran, karyawan pun akan merasa terbiasa dan  tidak takut dalam menerima masukan dari pemimpinnya, terutama apabila  evaluasi yang disampaikan cenderung negatif, yang terkadang malah bisa  berimplikasi sebaliknya (contoh: karyawan menjadi tidak semangat bekerja  dan rendah diri).</p>
<p>Meski demikian, keempat tips di atas rasanya akan sulit dilakukan apabila pemimpin tidak memiliki “<em>relevant skill</em>”  (yaitu kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh seseorang dalam suatu  bidang untuk membantunya dalam menjalankan tugas di bidang tersebut, <em>ed.</em>)  dan kesadaran akan pentingnya evaluasi kinerja dalam meningkatkan mutu  kinerja karyawan. Contohnya, untuk menciptakan komunikasi dua arah,  dibutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan berinteraksi (<em>interpersonal communication skill</em>).  Di sisi lain, perusahaan juga berperan penting dalam menciptakan budaya  yang mendukung keterbukaan terhadap kiritik dan saran yang membangun.</p>
<p><strong>Referensi:</strong><br> Cederblom, D. (1982). <em>The Performance Appraisal Interview: A Review, Implications, and Suggestions</em>. The Academy of Management Review, 7(2), 219-227.<br> London, M., &amp; Smither, J. W. (2002). <em>Feedback Orientation, Feedback Culture, and The longitudinal Performance Management Process</em>. Human Resource Management Review, 12, 81–100.<br> <em>http://www.whitestag.org/skills/index.html</em> (diunduh pada 3 Juni 2011 pukul 09.00).</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://www.pengusahamuslim.com">www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 