
<p><span style="font-weight: 400;">Bismillah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Segala puji dan syukur sudah sepantasnya kita tujukan kepada Allah atas segala nikmat dan karunia yang Allah berikan kepada kita. Betapa besar kebutuhan kita sebagai manusia kepada Allah dan ibadah kepada-Nya. Tidak ada satu pun kebaikan melainkan Allah yang menguasainya, dan tidak pula tertolak marabahaya kecuali dengan pertolongan dan bantuan-Nya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Musibah pandemi yang kini melanda manusia beberapa bulan lamanya benar-benar mengingatkan kita tentang kecil dan lemahnya kekuatan manusia di hadapan kebesaran dan kekuasaan Allah Rabb penguasa alam semesta. Meskipun demikian, bagi seorang mukmin maka musibah itu adalah ladang pahala. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Apabila menimpa padanya kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu baik baginya.”</span></i><strong> (HR. Muslim)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Musibah bukan saja menjadi ladang pahala bagi mereka yang bersabar menghadapinya. Akan tetapi, musibah juga mengingatkan manusia akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Karena tidaklah turun bala dan malapetaka kecuali disebabkan dosa-dosa umat manusia. Sebagaimana hal itu pernah dinasihatkan oleh Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ini menuntut kita sebagai hamba untuk selalu menyadari dosa dan kekurangan kita dalam menghamba kepada Allah. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/27197-mengharap-pahala-dari-tiap-musibah.html" data-darkreader-inline-color="">Mengharap Pahala Dari Tiap Musibah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah yang disebut oleh para ulama dengan istilah </span><i><span style="font-weight: 400;">muthola’atu ‘aibin nafsi wal ‘amal</span></i><span style="font-weight: 400;">; menelaah aib pada diri dan amal perbuatan. Seperti terukir dalam untaian doa sayyidul istighfar yang diajarkan kepada kita. Penggalan doa itu berbunyi </span><i><span style="font-weight: 400;">‘wa abuu’u bi dzanbii, faghfirlii’</span></i><span style="font-weight: 400;"> artinya, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Dan aku pun mengakui atas dosa-dosaku. Maka ampunilah diriku..”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang hamba betapa pun tinggi kedudukan dan prestasi yang dapat dia gapai, sesungguhnya ia adalah lemah dan fakir senantiasa butuh kepada bantuan dan bimbingan Allah; Dzat yang menciptakan dirinya dan segenap alam ini. Lihatlah keadaan manusia yang telah menggantungkan hatinya kepada selain Allah. Mereka justru terjebak dalam kebingungan dan kesengsaraan. Karena selain Allah tidak menguasai manfaat maupun mudharat. Padahal, bagi kaum beriman tiada tempat bergantung bagi mereka kecuali kepada Rabbnya. Sebagaimana karakter orang-orang yang masuk surga tanpa hisab adalah, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Mereka bertawakal hanya kepada Rabbnya.” </span></i><strong>(HR. Bukhari)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam kondisi musibah dan kesulitan semacam ini, seorang muslim ditempa kesabaran dan tawakalnya kepada Allah. Dengan kesabaran dia akan mendapatkan pertolongan. Dengan tawakal kepada Allah maka dia akan mendapatkan kecukupan. Tawakal mengandung sikap berserah diri kepada Allah dan tidak bergantung hati kepada sebab yang ditempuh. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketika menerangkan hadits tentang orang yang masuk surga tanpa hisab, Syaikh Abdul Karim al-Khudhair </span><i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan maksud dari tawakal :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يفوضون أمورهم جميعها، دقيقها وجليلها إلى الله -جل وعلا-، وليس معنى هذا أنهم يعطلون الأسباب؛ لأن الأسباب لا تنافي التوكل، لكن لا يلتفتون إلى هذه الأسباب بما يخدش التوكل.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Artinya, mereka menyerahkan urusan mereka semua; yang kecil maupun yang besar kepada Allah. Dan ini bukan berarti mereka meninggalkan sebab (usaha). Karena sebab tidak bertentangan dengan tawakal. Akan tetapi maksudnya adalah mereka tidak menoleh (menyandarkan hati) kepada sebab ini yang akan bisa merusak tawakkal.”</span></i><strong> (Simak <i>Syarh Kitab at-Tauhid </i>oleh beliau)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah kiranya yang perlu untuk kita asah dan kita murnikan kembali. Sejauh mana hati kita bergantung kepada Allah dan tidak bersandar kepada selain-Nya. Disinilah keimanan kita diuji. Disinilah penghambaan seorang dinilai dan diukur. Jangan-jangan selama ini kita telah mengangkat makhluk yang lemah sebagai tempat bergantungnya hati dan sesembahan tandingan tanpa kita sadari. </span><i><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah mengampuni dosa dan kesalahan kita selama ini</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26696-musibah-adalah-karena-dosa-kita-1.html" data-darkreader-inline-color="">Musibah Adalah Karena Dosa Kita</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23996-untuk-saudaraku-yang-sedang-tertimpa-musibah.html" data-darkreader-inline-color="">Untuk Saudaraku Yang Sedang Tertimpa Musibah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color="">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><b>Referensi :</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Website Syaikh Abdul Karim al-Khudhair </span></p>
<p><a href="https://shkhudheir.com/scientific-lesson/1369830554"><span style="font-weight: 400;">https://shkhudheir.com/scientific-lesson/1369830554</span></a></p>
 