
<p><span style="font-weight: 400;">Wajib bagi seorang murid, ketika gurunya sedang menyampaikan sebuah ilmu, menjelaskan sebuah pelajaran, atau membahas sebuah materi, untuk mendengarkan secara antusias kalam gurunya tersebut, sembari menunjukkan perhatian yang besar atas apa yang diterangkan oleh gurunya, walaupun si murid bisa jadi sudah mengetahui tentang ilmu tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita simak riwayat dari para salaf tentang permasalahan adab ini, sebagai berikut:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عن معاذ بن سعيد قال: كنا عند عطاء بن أبي رباح، فتحدَّث رجل بحديث، فاعترض له آخر في حديثه، فقال عطاء: سبحان الله، ما هذه الأخلاق؟ ما هذه الأحلام؟ إني لأسمع الحديث من الرجل، وأنا أعلم منه، فأُرِيهم من نفسي أني لا أُحسِن منه شيئا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Mu’adz ibn Sa’id, beliau berkata: Kami sedang berada di majelis ‘Atha’ ibn Abi Rabah, di mana seseorang meriwayatkan sebuah hadits lalu ada orang lain yang menyanggahnya saat dia sedang membawakan hadits tersebut. Maka ‘Atha’ berkata, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanallah</span></i><span style="font-weight: 400;">. Akhlak apa ini? Mimpi apa ini? Sesungguhnya aku mendengar hadits dari seseorang, sementara aku lebih berilmu dari dia, maka aku tunjukkan kepadanya bahwa aku tidak tahu sama sekali tentang hadits tersebut.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">قال عطاء: إن الشاب ليتحدث بحديث فأستمع له كأني لم أسمع، ولقد سمعته قبل أن يولد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari ‘Atha’, beliau berkata, “Ada seorang pemuda sedang meriwayatkan sebuah hadits. Maka aku mendengarkannya seolah aku belum pernah mendengar hadits tersebut, padahal aku telah mendengarnya sebelum dia dilahirkan.”</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">عن خالد بن صفوان قال: إذا رأيت محدِّثا يحدِّث حديثا قد سمعته، أو يخبر خبرا قد علمته، فلا تشاركه فيه، حرصا على أن تُعلِم من حضرك أنك قد علمته، فإن ذلك خفة وسوء أدب</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Khalid ibn Shafwan, beliau berkata, “Jika engkau melihat seseorang sedang meriwayatkan sebuah hadits yang telah engkau dengar, atau mengabarkan kabar yang telah engkau tahu, maka jangan ikut meriwayatkan hadits tersebut karena ingin memberi tahu kepada orang-orang yang hadir bahwa engkau telah mengetahuinya. Sesungguhnya itu adalah sikap meremehkan dan adab yang buruk.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari nukilan di atas, kita simpulkan bahwa merupakan adab yang buruk ketika kita menunjukkan kepada orang lain bahwa kita sudah tahu ilmu yang sedang dia bicarakan. Apalagi jika dia adalah guru kita, yang sedang mengajarkan ilmu, membahas sebuah hukum, menyebutkan sebuah hadits, atau mengupas faidah dari perkataan ulama’, dan kita sedang duduk di majelis atau kajian beliau. Tidak boleh bagi kita untuk kemudian menunjukkan sikap bahwa kita sudah paham apa yang diterangkan oleh guru kita tersebut, walaupun kita sebenarnya memang sudah paham dan bisa jadi hafal seluruh ilmu yang beliau bawakan. Wajib bagi kita untuk mendengarkan beliau secara antusias, seolah kita baru mendapatkan faidah itu pertama kali, dalam rangka menghormati guru kita dengan cara memiliki sikap tawadhu’ di hadapannya dan memberikan kebahagiaan di dalam hatinya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu wa Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> memperbaiki adab dan akhlak kita, terutama kepada guru kita, dan semoga Dia memberikan keberkahan kepada ilmu dan waktu kita.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47339-penuntut-ilmu-menahan-komentar-yang-memperkeruh-suasana.html" data-darkreader-inline-color="">Penuntut Ilmu Menahan Komentar yang Memperkeruh Suasana</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/44670-empat-nasihat-untuk-penuntut-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">4 Nasihat untuk Penuntut Ilmu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><i><span style="font-weight: 400;">@ Dago, Bandung, 15 Syawwal 1441 H</span></i></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/andylatief" data-darkreader-inline-color="">Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">@almaaduuriy / andylatief.net</span></i></p>
<p> </p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Referensi:</span></i></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">Adab Thalibil-’Ilm</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Anas Ahmad Karzun.</span>
</li>
<li style="font-weight: 400;">
<i><span style="font-weight: 400;">al-Akhlaq az-Zakiyyah fiy Adabith-Thalib al-Mardhiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;">, karya Ahmad ibn Yusuf al-Ahdal.</span>
</li>
</ol>
 