
<p>Pada artikel ini kami akan menjelaskan pendapat para ulama tentang keberadaan rasul dari kalangan jin. Terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ulama berkaitan dengan masalah apakah terdapat rasul dari kalangan jin. Perbedaan pendapat terbagi menjadi dua, ada yang berpendapat terdapat rasul dari kalangan jin, dan ada pendapat yang mengatakan tidak. Selain penjalasan itu, kami bawakan pula pendapat yang lebih kuat di antara keduanya. Simak penjelasan berikut ini.</p>

<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pendapat pertama, terdapat rasul dari kalangan jin</strong></span></h2>
<p>Pendapat ini dinisbatkan kepada Adh-Dhahak, Muqaatil, dan dipilih oleh Ibnu Hazm <em>Rahimahumullah</em>.</p>
<p>Mereka berdalil dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإِنسِ أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاء يَوْمِكُمْ هَـذَا قَالُواْ شَهِدْنَا عَلَى أَنفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُواْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُواْ كَافِرِينَ</span></p>
<p><em>“Hai golongan jin dan manusia, apakah belum datang kepadamu <strong>rasul-rasul dari golongan kamu sendiri,</strong> yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata, ‘Kami menjadi saksi atas diri kami sendiri’, kehidupan dunia telah menipu mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir”</em> <strong>(QS. Al-An’am [6]: 130)</strong>.</p>
<p>Maksud dari ayat,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رُسُلٌ مِّنكُمْ</span></p>
<p>“rasul-rasul dari golongan kamu sendiri”; adalah “dari golongan jin dan manusia.”</p>
<p>Dari ayat ini, para ulama tersebut mengatakan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> mengabarkan bahwa dari golongan jin juga terdapat rasul yang diutus kepada mereka. Sebagaimana dari golongan manusia juga terdapat rasul yang diutus kepada mereka.</p>
<p>Akan tetapi, para ulama yang mengatakan bahwa tidak ada rasul dari golongan jin memberikan argumentasi untuk membantah hal ini. Mereka mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah “rasul dari salah satu dari dua golongan yang disebutkan”.</p>
<p>Hal ini sama seperti firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ</span></p>
<p><em>“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu”</em> <strong>(QS. Ar-Rahman [55]: 19)</strong>.</p>
<p>Kemudian Allah <em>Ta’ala</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ</span></p>
<p><em>“Dari <strong>keduanya</strong> keluar mutiara dan marjan”</em> <strong>(QS. Ar-Rahman [55]: 22)</strong>.</p>
<p>Mutiara dan marjan hanyalah keluar dari air laut, bukan dari air tawar. Makna ayat tersebut adalah “keluar dari salah satu di antara keduanya” <strong>(Lihat <em>Tafsir Ath-Thabari,</em> 12: 122)</strong>.</p>
<p>Dari sisi bahasa Arab, jika rasul itu berasal dari golongan manusia, kemudian jin diperintahkan untuk mengikuti rasul dari golongan manusia tersebut, tidak masalah jika diungkapkan dengan kalimat,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ</span></p>
<p>“Apakah belum datang kepadamu <strong>rasul-rasul dari golongan kamu sendiri</strong>.”</p>
<p>Semisal dengan ungkapan ini adalah jika dikatakan kepada orang Arab dan non-Arab,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ألم يجئكم رسل منكم يا معشر العرب و العجم</span></p>
<p>“Apakah belum datang kepada kalian wahai bangsa Arab dan non-Arab?”</p>
<p>Kalimat ini tidaklah menunjukkan bahwa untuk bangsa Arab ada rasul tersendiri, dan untuk bangsa non-Arab ada rasul yang lain.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/25351-serial-27-alam-jin-jin-ada-yang-masuk-surga.html" data-darkreader-inline-color="">Ada yang Masuk Surga</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pendapat kedua, tidak ada rasul dari kalangan jin</strong></span></h2>
<p>Mereka berpendapat Rasul hanya khusus berasal dari golongan manusia. Adapun jin, yang ada hanyalah pemberi peringatan. Pendapat ini dinisbatkan kepada Ibnu ‘Abbas <em>Radhiyallahu ‘anhuma</em>, juga merupakan pendapat Mujahid, dan dipiliholeh Ibnu Abi Zamanin, Ibnul Qayyim, dan Ibnu Katsir <em>Rahimahumullah</em>.</p>
<p>Mereka berdalil dengan firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَراً مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ</span></p>
<p>“Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al-Quran. Maka ketika mereka menghadiri pembacaan-(nya), lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai, mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan” <strong>(QS. Al-Ahqaf [46]: 29)</strong>.</p>
<p>Mujahid <em>Rahimahullah </em>berkata, “Rasul itu berasal dari golongan manusia, sedangkan pemberi peringatan dari golongan jin.” Beliau kemudian membaca ayat,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَّوْا إِلَى قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ</span></p>
<p>“ … mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.”</p>
<p>Mereka (pemberi peringatan dari golongan jin) adalah yang mendengarkan perkataan rasul (manusia) kemudian menyampaikan kepada kalangan mereka sendiri (sesama jin) tentang apa yang mereka dengar” <strong>(Lihat <em>Tafsir Ats-Tsa’labi, </em>4: 191)</strong>.</p>
<p>Dalil lainnya adalah firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِن بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُوراً</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya. Dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَرُسُلاً قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلاً لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللّهُ مُوسَى تَكْلِيماً</span></p>
<p><em>“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung.”</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">رُّسُلاً مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلاَّ يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللّهُ عَزِيزاً حَكِيماً</span></p>
<p><em>“(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”</em> <strong>(QS. An-Nisa’ [4]: 163-165)</strong>.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman berkaitan dengan Nabi Ibrahim <em>‘Alaihis salaam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَجَعَلْنَا فِي ذُرِّيَّتِهِ النُّبُوَّةَ وَالْكِتَابَ وَآتَيْنَاهُ أَجْرَهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ</span></p>
<p>“Dan Kami anugerahkan kepda Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, dan <strong>Kami jadikan kenabian dan Al-Kitab pada keturunannya,</strong> dan Kami berikan kepadanya balasannya di dunia. Dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang salih” <strong>(QS. Al-‘Ankabut [29]: 27)</strong>.</p>
<p>Dalam ayat tersebut, Allah <em>Ta’ala</em> membatasi kenabian dan kitab suci hanya pada Nabi Ibrahim <em>‘Alaihis salaam </em>dan keturunannya. Namun tidak ada satu pun ulama yang mengatakan bahwa ada kenabian (rasul) dari golongan jin sebelum diutusnya Nabi Ibrahim <em>‘Alaihis salaam</em>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini</strong></span></h2>
<p>Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah bahwa tidak ada rasul dari golongan jin. Di antara golongan jin hanya terdapat pemberi peringatan saja, berdasarkan dalil-dalil yang telah disebutkan di atas. Adapun pendapat yang mengatakan bahwa terdapat rasul dari golongan jin adalah pendapat yang ganjil <em>(syadz), </em>yang tidak pernah dikatakan oleh ulama salaf terdahulu. Penisbatan pendapat tersebut kepada Adh-Dhahak <em>rahimahullah </em>juga tidak sahih dari sisi sanad (jalur periwayatan).</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23852-serial-25-alam-jin-jin-terpecah-menjadi-beberapa-golongan.html" data-darkreader-inline-color="">Jin Terpecah Menjadi Beberapa Golongan</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22655-serial-24-alam-jin-jin-yang-beriman-pada-al-quran.html" data-darkreader-inline-color="">Jin yang Beriman pada Al Quran</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>[Selesai]</strong></p>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1442/14 Maret 2021</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" href="http://Muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>Disarikan dari kitab <em>Al-Mabaahits Al-‘Aqdiyyah Al-Muta’alliqah bil Imaan bir Rusul</em> karya Ahmad bin Muhammad bin Ash-Shadiq An-Najar<em>, </em>hal. 106-109.</p>
<p> </p>
 