
<p style="text-align: left;"><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1a1a;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/59333-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-10-berilmu-jangan-lupa-beradab.html" data-darkreader-inline-color=""> Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa Beradab</a></span></strong></p>
<p><em>Bismillah</em></p>
<p>Orang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ</span></p>
<p>“<em>Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’</em>” <strong>(QS. Al-Maidah: 4)</strong>.</p>
<p>Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah <em>Ta’ala </em>saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.</p>
<p>Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾</span></p>
<p>“<em>Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa</em> <em>derajat</em>” <strong>(QS. Al-Mujadilah: 11)</strong>.</p>
<p>Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.</p>
<p>Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam <em>Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi</em> mengutip nasihat Imam Syafi’i <em>Rahimahullah</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">من لم يصن العلم لم يصنه العلم</span></p>
<p>“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”</p>
<p>Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.</p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>Rahimahullah</em> mengatakan,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يكون البطال من الحكماء</span></p>
<p>“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/57001-adab-murid-terhadap-guru-mendengarkan-penjelasan-beliau-dengan-antusias.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Adab Murid terhadap Guru: Mendengarkan Penjelasan Beliau dengan Antusias</strong></span></a></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Bagaimana cara menjaga marwah ilmu?</strong></span></h2>
<p>Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه</span></p>
<p>“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”</p>
<p>Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:</p>
<p><strong>Pertama</strong>, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah.</p>
<p><strong>Kedua</strong>, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.</p>
<p>Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.</p>
<p>Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,</p>
<h4 style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">التخلية قبل التحلية</span></h4>
<p>“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”</p>
<p>Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dalil perintah menjaga marwah ilmu</strong></span></h2>
<p>Imam Sufyan bin ‘Uyainah <em>Rahimahullah</em> pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (<em>muru-ah</em>) dalam Alquran?”</p>
<p>“Ada …” jawab Imam Sufyan <em>Rahimahullah</em>, Ada di firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<h4 style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾</span></h4>
<p>“<em>Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh</em>”  <strong>(QS. Al-A’raf: 199)</strong>.</p>
<h4 style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق</span></h4>
<p>“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” <strong>(<em>Khulashoh Ta’dhimil Ilmi,</em> hal. 33)</strong>.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadi</strong></span></h2>
<p>Mencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/35690-60-adab-dalam-menuntut-ilmu.html"><strong><span style="color: #ff0000;">60 Adab Dalam Menuntut Ilmu</span></strong></a></p>
<p> </p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/aanshori"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Ahmad Anshori, Lc.</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p> </p>
 