
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/54914-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-8-jangan-terburu-buru.html" data-darkreader-inline-color=""> Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 8): Jangan Terburu-Buru</a></span></strong></p>
<p><em><span style="font-weight: 400;">Bismillah…</span></em></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjadi orang berilmu adalah cita-cita mulia. Dan sudah menjadi sunatullah di dunia ini, tak ada satupun cita-cita mulia kecuali harus diraih dengan kesabaran. Oleh karennya, hanya ada satu solusi agar seorang dapat istiqomah menggapai cita-cita mulia, yaitu mensabarkan diri untuk terus berjuang. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di dalam Al-Quran, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar pada dua hal,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran : 200)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perintah sabar yang pertama, adalah sabar mewujudkan iman yang pokok. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian sabar yang kedua, untuk mewujudkan penyempurna iman. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini menunjukkan pentingnya sabar, dan kita diperintah sabar, sampai bertemu Allah. Karena memperjuangkan agar iman ini semakin dan semakin sempurna; diantara yang paling urgent berjuang melalui ilmu, adalah perjuangan sampai akhir hayat. Ini juga bukti bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Karena pahalanya pun tak terbatas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah kita sadar dan menjalani bahwa belajar itu perlu sabar, fase setelahnya pada ayat yang lain, Allah mengajak kita untuk bersabar dalam menyampaikan ilmu/mengajar,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. (QS. Al-Kahfi : 28)</span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Ini menunjukkan bahwa, kesetiaan bersama ilmu itu meliputi dua fase sabar: </strong></span></p>
<ol>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sabar saat belajar.</span></li>
<li><span style="font-weight: 400;"> Sabar saat mengajar.</span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat belajar perlu sabar, karena menghafal ilmu harus sabar, memahami ilmu dan konsisten hadir di kajian, juga butuh sabar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat mengajar juga perlu sabar, karena untuk betah duduk menyampaikan ilmu kepada masyarakat, perlu sabar, memahamkan mereka, perlu sabar, saat menjumpai kekurangan murid, juga harus bersabar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk di dalam fase kedua ini adalah, mengamalkan ilmu. Karena diantara cara mengajar adalah, memberikan teladan yang baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kesimpulannya, bersama ilmu, harus siap bersabar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syekh Sholih Al-‘Ushoimi menasehatkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وفوق هذين النوعين من صبر العلم, الصبر على الصبر فيهما و الثبات عليهما</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kesabaran lebih tinggi dari dua fase sabar terhadap ilmu di atas adalah, sabar untuk bisa bersabar serta konsisten dalam sabar pada dua fase tersebut.” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 29) </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama memberikan nasehat kepada kita tentang pentingnya sabar bersama ilmu :</span></p>
<p><b>Yahya bin Abi Katsir</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menafsirkan yang dimaksud dalam surat Al-Kahfi ayat 28 di atas adalah, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">هي مجالس الفقه </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">majelis-majelis fikih/ilmu.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لا يستطاع العلم براحة الجسد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ilmu ini tak akan bisa didapat dengan bersantai-santai.</span></p>
<p><strong>Baca pembahasan selanjutnya pada artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/59333-agar-aku-sukses-menuntut-ilmu-bag-10-berilmu-jangan-lupa-beradab.html" data-darkreader-inline-color="">Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag. 10): Berilmu Jangan Lupa Beradab</a></span></strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51513-keutamaan-belajar-ilmu-agama-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Ilmu Agama (Bag. 1)</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/51084-keutamaan-belajar-bahasa-arab-dan-ilmu-nahwu.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan Belajar Bahasa Arab dan Ilmu Nahwu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><strong>Ditulis oleh :<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/aanshori" data-darkreader-inline-color=""> Ahmad Anshori</a></span></strong></p>
<p><strong>Atikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, cet. Ke 1, th. 1432 H / 2011 M. Karya Syekh Sholih bin Abdullah bin Hamd Al-‘Ushoimi -hafidzohullah-.</span></p>
 