
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tertidur Ketika Khutbah Jumat</span></strong></h2>
<p>Bisa jadi ketika khutbah Jumat, ada beberapa jamaah yang sangat mengantuk. Jika sampai tertidur ketika khutbah, tentu hal ini sangat tidak disukai oleh syariat. Seorang Ulama di kalangan tabi’in, Muhammad bin Sirin berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كانوا يكرهون النوم والإمام يخطب ويقولون فيه قولا شديدا. قال ابن عون: ثم لقيني بعد ذلك فقال: تدري ما يقولون؟ قال: يقولون مثلهم كمثل سرية أخفقوا</span></p>
<p>“Mereka (para sahabat) membenci orang yang tidur ketika imam sedang berkhutbah. Mereka mencela dengan celaan yang keras.”</p>
<p>Ibnu Aun mengatakan, saya bertemu lagi dengan Ibnu Sirin. Beliau pun bertanya, “Apa komentar sahabat tentang mereka?” Ibn Sirin mengatakan, “Mereka (para sahabat) berkata, orang semisal mereka (yang tidur ketika mendengarkan khutbah) seperti pasukan perang yang gagal (tidak menang dan mendapatkan ghanimah).” [1]
</p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Tips Mudah Menghalau Rasa Kantuk Saat Khutbah Jumat</span></strong></h2>
<p>Ada tips yang mudah dan insyaallah bisa segera menghilangkan rasa mengantuk ketika khutbah Jumat berlangsung, yaitu segera pindah tempat</p>
<h3><strong><span style="font-size: 18pt;">1. Berpindah Tempat Duduk</span></strong></h3>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِذَا نَعَسَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الجُمُعَةِ فَلْيَتَحَوَّلْ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ</span></p>
<p><em>“Apabila kalian ngantuk pada hari Jumat, maka berpindahlah dari tempat duduknya.”</em>[2]
</p>
<p>Hikmahnya adalah perpindahan dan bergerak akan menghilanhkan rasa ngantuk dengan mudah. Syaikh Muhammad Al-Mubarakfury menjelaskan hadits ini, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ﻭﺍﻟﺤﻜﻤﺔ ﻓﻲ ﺍﻷﻣﺮ ﺑﺎﻟﺘﺤﻮﻝ ﺃﻥ ﺍﻟﺤﺮﻛﺔ ﺗﺬﻫﺐ ﺍﻟﻨﻌﺎﺱ</span></p>
<p>“Hikmah perintah untuk pindah tempat adalah pergerakan pindah akan menghilangkan rasa ngantuk.”[3]
</p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>2. Mandi sebelum berangkat shalat Jumat</strong></span></h3>
<p>Karena mandi memberikan rasa segar dan menghilangkan penat.</p>
<p>Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">غُسْل يوم الجُمُعة واجبٌ على كلِّ محتل</span></p>
<p>“Mandi pada hari Jumat, wajib bagi setiap orang yang sudah baligh.”[4]
</p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>3. Berusaha fokus mendengarkan khutbah</strong></span></h3>
<p>Dengan cara menghadapkan muka ke arah khatib dam fokus memperhatikan khatib</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ ابْنُ مَسْعُوْدٍ كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا اسْتَوَى عَلَى الْمِنْبَرِ اسْتَقْبَلْنَاهُ بِوُجُوهِنَا</span></p>
<p><em>“Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam sudah berdiri tegak di atas mimbar, maka kami langsung menghadapkan wajah kami ke arah beliau.”</em>[5]
</p>
<p> </p>
<p>Untuk bisa fokus, perlu juga menghindari hal-hal atau perbuatan yang bisa melalaikan dari khutbah seperti memainkan ujung baju, mengelupas kuku, memainkan kunci dan lain-lain.</p>
<p>Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَ</span></p>
<p><em>“Barangsiapa yang memegang (memain-mainkan) batu kerikilberarti dia telah berbuat sia-sia.”</em>[6]
</p>
<h3><span style="font-size: 18pt;"><strong>4. Hindari duduk memeluk lutut</strong></span></h3>
<p>Karena ini adalah posisi yang bisa menyebabkan mengantuk</p>
<p>Muadz bin Jabal berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَن النَبيَ صَلى اللهُ عَليه وَسَلمَ نَهَى عَنْ الْحَبْوَةِ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ</span></p>
<p><em>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang duduk memeluk lutut pada hari ketika imam sedang berkhutbah.”</em>[7]
</p>
<p>Imam Al-Khattabi menjelaskan hadits ini, beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">نهى عنها لأنها تجلب النوم فتعرض طهارته للنقض، ويمنع من استماع الخطبة</span></p>
<p><em>“Perbuatan ini dilarang, karena ini bisa menyebabkan ngantuk,sehingga bisa jadi wudhunya batal (jika tertidur sangat pulas, adapun hanya tidur ringan maka tidak batal, pent), dan terhalangi mendengarkan khutbah.”</em>[8]
</p>
<p>Demikian semoga bermanfaat</p>
<p>@Yogyakarta Tercinta</p>
<p><strong>Penyusun: <a href="https://muslim.or.id/author/raehan">dr. Raehanul Bahraen</a></strong><br>
<strong>Artikel </strong><a href="http://muslim.or.id"><strong>Muslim.or.id</strong></a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Catatan kaki:</span></strong></p>
[1] Tafsir al-Qurthubi 18/117, Darul Kutub Al-Mishriyah, Koiro, cet.II, syamilah<br>
[2] HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani<br>
[3] Lihat Tuhfatul Al-Ahwadzi karya Al-Mubarakfury<br>
[4] HR. Bukhari dan Muslim<br>
[5] HR. At-Tirmidzi no. 509 dishahih oleh Al-Albani di Shahih At-Tirmidzi<br>
[6] HR. Muslim<br>
[7] HR. Abu Daud, Tirmidzi dan dihasankan al-Albani<br>
[8] Al-Majmu’ 4/592, syamilah
 