
<p><strong>AHLUS SUNNAH DAN TERORISME</strong></p>
<p>Oleh<br>
Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr</p>
<p>Kedatangan <strong>Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr</strong> dari Negeri Syam (Yordania) di kota Solo, dalam rangka muhibbahnya ke beberapa kota, di antaranya Solo dan Yogyakarta, <em>alhamdulillah</em> telah menambahkan pemahaman di dalam beragama, khususnya kepada Salafiyin, dan kaum Muslimin pada umumnya. Dari sesi tanya jawab, nampak beragamnya persoalan atau perkara-perkara yang ingin diketahui kaum Muslimin. Di antaranya persoalan yang kembali muncul ke khalayak, yakni issu global tentang terorisme. Sebuah ironi, Salafiyin tak kurang mendapatkan tuduhan semacam. Padahal Salafiyin berlepas diri dari sikap ekstrim seperti itu. Bagaimanakah pandangan <strong>Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr</strong> menanggapi issu terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin? Berikut adalah penjelasan beliau –<em>hafizhahullah</em>– menanggapi pertanyaan tersebut saat muhadharah di Masjid al Karim, Pabelan, Sukoharjo, Surakarta pada hari <strong>Ahad, 20 Muharram 1427H/19 Februari 2006M.</strong> Penjelasan beliau ini ditranskrip dan diterjemahkan oleh<strong> Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali </strong>dengan memberikan beberapa catatan kaki yang diperlukan. Semoga bermanfaat. <strong>(Redaksi)</strong></p>
<p><strong>Tentang tuduhan terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin</strong>,<em> Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr</em> memberikan tanggapan:</p>
<p>Saya (<strong>Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr, Red</strong>) katakan :<br>
Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk <em>ahlul ghuluw </em>(berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah <em>salafiyah</em>. Dakwah <em>salafiyah</em> adalah dakwah Islam. Dakwah <em>salafiyah</em> adalah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.<a href="#_ftn1" name="_ftnref1">[1]</a> Namun demikian, tidak boleh seorang <em>salafi </em>(siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau akhlak para sahabatnya.</p>
<p>Dakwah <em>salafiyah </em>berdiri di atas aqidah yang benar, aqidah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berkeyakinan dengannya. Dakwah <em>salafiyah </em>tegak di atas <em>manhaj </em>(jalan, metode, tata cara) Islam yang benar dan lurus, berdiri di atas dalil. Dakwah ini benar-benar mengagungkan <em>as salaf ash shalih </em>(generasi terdahulu yang <em>shalih</em>), dari kalangan para sahabat dan <em>tabi’in</em>. Dakwah ini mengagungkan dan menghormati dalil, (berupa) firman Allah dan (sabda) RasulNya, tidak mengutamakan dan mengedepankan perkataan siapapun (di atas perkataan Allah dan RasulNya) betapapun tinggi derajat dan kedudukan orang itu. Dakwah <em>salafiyah </em>menyeru kepada Allah, kepada ajaran Islam yang benar, seimbang dan adil. Menyeru kepada kelemah-lembutan dan menolak kekerasan. Maka, <strong>menuduh dakwah salafiyah sebagai terorisme adalah dusta!</strong></p>
<p>Karena, siapakah yang benar-benar menentang para teroris dan <em>takfiriyin </em>(orang-orang yang sangat mudah mengafirkan orang lain tanpa sebab yang haq) saat ini?</p>
<p>Siapakah mereka kalau bukan para ulama dakwah <em>salafiyah</em>? Mereka, yang pada zaman ini dikenal sangat gigih membela dan berdakwah dengan dakwah <em>salafiyah</em> ini. Yang paling dikenal di antara mereka, seperti <em>al Imam al Muhaddits asy Syaikh </em>Muhammad Nashiruddin al Albani, kemudian <em>asy Syaikh al ‘Allaamah </em>Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, <em>asy Syaikh al ‘Allaamah </em>Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin. Kemudian murid-murid <em>al Imam al Muhaddits asy Syaikh </em>Muhammad Nashiruddin al Albani, dan murid-murid mereka semua.</p>
<p>Merekalah yang jelas-jelas nyata paling menentang dan membantah pemikiran terorisme ini, baik dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab mereka, kaset-kaset kajian ilmiah mereka, dan dari seputar kajian-kajian ilmiah mereka secara langsung. Hal ini diketahui oleh setiap <em>munshif</em> (orang yang adil dalam menghukumi).</p>
<p>Adapun <em>mukabir </em>(orang yang sombong dan keras kepala) dan orang yang mendustakan kenyataan mereka semua, maka sesungguhnya dia merupakan generasi (pelanjut) dari tokoh-tokoh (penentang) terdahulu, (yaitu orang-orang) yang menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, orang gila, pemalsu dan pembuat al Qur`an, pendusta. Mereka hanya menuduh, menuduh, dan terus menuduh (tanpa haq dan bukti yang benar).</p>
<p>Namun inilah taqdir para nabi, mereka selalu didustakan oleh sebagian umatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا.</strong></p>
<p><em>Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka. </em>[al-An’am/6: 34].</p>
<p>Oleh karena itu, demikianlah keadaan para da’i yang berdakwah kepada Allah, keadaan para penuntut ilmu agama. Mereka akan selalu mendapatkan halangan dan rintangan serta hambatan dari orang-orang sesat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah. Mereka akan disakiti oleh para penentang itu.</p>
<p>Para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, (mereka) tidak akan pernah berhenti melancarkan usaha-usaha keji (yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian dan permusuhan di kalangan masyarakat, sehingga para da’i yang ikhlas berdakwah kepada Allah dan para penuntut ilmu agama, (mereka) akan selalu mendapatkan rintangan ini.</p>
<p>Ada dua pondok pesantren yang ber<em>manhaj salaf</em> di sebuah pulau. Setelah para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah ini mengetahui keberadaan dua pondok pesantren ini, mereka segera menghasut masyarakat setempat, dan akhirnya merekapun berhasil menghancurkan dan memporakporandakan ke dua pondok pesantren ini.</p>
<p>Tidak ada yang memicu mereka untuk melakukan tindakan keji ini, melainkan <em>hasad</em>, dengki dan kebencian yang membakar dada-dada mereka terhadap para da’i dan para penuntut ilmu agama yang benar dan lurus.</p>
<p>Demikianlah, karena orang sesat memang tidak akan pernah mencintai kebenaran dan ahlinya!</p>
<p>Betapapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan <em>manhaj salaf,</em> pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha berbuat <em>madharat </em>terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p><strong>لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.</strong></p>
<p><em>Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mempedulikan mereka) sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian.</em> <a href="#_ftn2" name="_ftnref2">[2]</a></p>
<p>Dan golongan ini, para ulama telah menafsirkan, bahwa mereka adalah <em>ahlul hadits</em> dan <em>ahlul atsar </em>(yaitu orang-orang yang konsisten mengikuti hadits-hadits dan jejak para <em>as salaf ash shalih</em>).</p>
<p>Maka, saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang <em>salafi</em>. Saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang <em>salafi</em>.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3">[3]</a> Hendaknya setiap muslim ber<em>manhaj, </em>seperti apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebuah <em>manhaj </em>yang tidak berpihak kepada personal tertentu, atau kepada jamaah-jamaah tertentu.</p>
<p><em>As salafiyah </em>bukanlah bayi perempuan yang baru terlahir sekarang. Bukan pula sebuah organisasi yang baru didirikan saat ini. <em>As salafiyah </em>adalah ajaran yang turun dari Allah, berupa wahyu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada putrinya Fathimah<a href="#_ftn4" name="_ftnref4">[4]</a> Radhiyallahu anha tatkala ia meninggal dunia :</p>
<p><strong>اِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ.</strong></p>
<p><em>Bergabunglah bersama pendahulu kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un</em><a href="#_ftn5" name="_ftnref5">[5]</a></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata (yang maknanya): “Bukan (merupakan) aib, jika seseorang me<em>nisbah</em>kan (menyandarkan) dirinya kepada <em>salaf</em>, karena <em>manhaj salaf </em>adalah (<em>manhaj</em> yang) <em>a’lam </em>(lebih berilmu), <em>ahkam</em> (lebih bijak dan berhukum), dan <em>aslam </em>(lebih selamat)”.</p>
<p>Karena jika tidak demikian, bagaimana kita bisa merealisasikan   <strong>مَا</strong> <strong>أَناَ</strong> <strong>عَلَيْهِ</strong> <strong>وَأَصَحَابِيْ</strong>  ?!</p>
<p>Lihatlah! Sekarang banyak jamaah dengan bermacam-macam pola mereka, ada yang ke barat, ada yang ke timur. Semuanya mengikuti jalannya masing-masing yang berbeda-beda. Kecuali, hanya dakwah <em>salafiyah </em>yang diberkahi Allah ini. Golongan inilah yang tetap konsisten berpegang teguh kuat-kuat dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya.</p>
<p>Oleh karena itu, saya memohon kepada Allah agar mereka -baik para da’i, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang ber<em>manhaj salaf </em>ini- senantiasa diberikan kemudahan dan keutamaan dariNya, dan agar mereka dijadikan olehNya generasi-generasi terbaik pewaris mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang berkenan mengabulkan do’a ini dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidaklah ada seorang yang menentang dakwah yang haq ini, melainkan Allah pasti akan membinasakannya. Karena Allah akan selalu membela orang-orang yang beriman (yang membela agamaNya).</p>
<p>Karenanya, seluruh model dakwah apapun (di muka bumi ini) yang berusaha menghalang-halangi, menentang, dan merintangi dakwah <em>salafiyah</em>, usaha mereka pasti sia-sia dan gagal. Bahkan yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan penyesalan. Sedangkan Allah senantiasa membela dan menolong dakwah <em>salafiyah</em> ini, karena Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela agamaNya, sebagaimana firmanNya:</p>
<p><strong>وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ.</strong></p>
<p><em>Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. </em>[al Hajj/22:40].</p>
<p>Demikianlah, akhirnya saya cukupkan jawaban saya sampai di sini. Saya berharap bisa bertemu dengan kalian pada kesempatan yang lain, <em>insya</em> Allah.</p>
<p><em>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.</em></p>
<p>[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196. Kontak Pemasaran 085290093792, 08121533647, 081575792961, Redaksi 08122589079]<br>
_______<br>
Footnote<br>
<a href="#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> Berdasarkan hadits <em>iftiraqul ummah </em>(perpecahan umat) yang <em>shahih</em> dan masyhur, yang dikeluarkan oleh Abu Dawud (4/197-198 no. 4596 dan 4597), at Tirmidzi (5/25-26 no. 2640 dan 2641), Ahmad (2/332, 3/120 dan 145, 4/102), Ibnu Majah (2/1231-1232 no. 3991-3993), dari hadits Abu Hurairah dan Auf bin Malik  Radhiyalalhu anhuma, dan lain-lain, yang di salah satu lafazh akhir hadits-haditsnya adalah:<br>
<strong>((وَهِيَ الْجَمَاعَةُ))، ((مَا أَناَ عَلَيْهِ وَأَصَحَابِيْ)).</strong><br>
<em>“Mereka adalah <strong>al Jama’ah”</strong></em> dan <em>“(Yaitu) mereka seperti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya”.</em><br>
Hadits ini <em>dishahihkan</em> oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani rahimahullah di dalam <em>ash Shahihah</em> (3/480) dan kitab-kitab beliau lainnya.<br>
<a href="#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> HR Muslim (3/1523 no. 1920) dari hadits Tsauban Radhiyallahu anhu, dan yang semakna dengannya diriwayatkan oleh al Bukhari (2/2667 no. 6881) dari hadits al Mughirah bin Syu’bah Radhiyallahu anhu, dan lain-lain.<br>
<a href="#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr memang mengulangi kata-katanya ini dua kali.<br>
<a href="#_ftnref4" name="_ftn4">[4]</a> Demikian yang Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr sampaikan. Mungkin yang beliau maksud adalah <strong>Ruqayah</strong> binti Rasulillah Radhiyallahu anha, karena Fathimah Radhiyallahu anha meninggal sekitar setengah tahun setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, sebagaimana yang telah diketahui dan telah banyak keterangannya di dalam kitab-kitab <em>tarajim </em>(biografi) para sahabat. Lihat <em>Taqrib at Tahdzib</em>, hlm. 1367, no. 8749.<br>
<a href="#_ftnref5" name="_ftn5">[5]</a> HR ath Thabrani di dalam <em>al Mu’jam al Ausath</em> (6/41 no. 5736) dan lain-lain. Hadits ini pernah diucapkan pula oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika putri beliau Zainab meninggal, sebagaimana dalam <em>Musnad al Imam Ahmad</em> (1/237 dan 335 no. 2127 dan 3103) dan lain-lain. Juga ketika putra beliau Ibrahim meninggal, sebagaimana dalam al <em>Mu’jam al Kabir</em> (1/286 no.837) dan lain-lain.<br>
Al Imam adz Dzahabi di dalam <em>Siyar A’lam an Nubala</em> (2/252), beliau membawakan biografi Ruqayah Radhiyallahu anha, beliau menghukumi hadits ini dan berkata: “<em>Munkar</em>”.<br>
Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali –<em>hafizhahullah</em>– di dalam kitabnya (<em>Basha-iru dzawi asy Syaraf bi Marwiyati Manhaj as Salaf</em>), hlm 18, berkata: “Telah diriwayatkan dari Nabi r sabdanya kepada putri beliau Ruqayah, tatkala ia meninggal…,” lalu beliaupun (Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali) membawakan hadits ini. Kemudian beliau komentari pada catatan kaki: “<em>Dha’if</em>, dikeluarkan oleh al Imam Ahmad (1/237 dan 335), dan Ibnu Sa’ad di dalam <em>ath Thabaqat</em> (8/37), dan hadits ini dipermasalahkan oleh <em>syaikh </em>kami –<em>rahimahullah</em>– di dalam <em>adh Dha’ifah</em> (no. 1715), karena terdapat (di sanadnya) Ali bin Zaid bin Jud’an”.<br>
Dan Ali bin Zaid bin Jud’an adalah perawi yang <em>dha’if</em>. Lihat <em>Taqrib at Tahdzib</em>, hlm. 696, no. 4768.<br>
<strong>Atau</strong>, mungkin yang dimaksud oleh beliau (Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr) adalah justru perkataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada putri beliau Fathimah Radhiyallahu anha ketika beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) menjelang wafat. Jika ini yang dimaksud, maka haditsnya adalah <em>muttafaq ‘alaih</em>, dikeluarkan oleh al Bukhari (5/2317 no. 5928)  dan Muslim (4/1904 no. 2450) dari A’isyah Radhiyallahu anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :<br>
<strong>…فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ</strong> <strong>…</strong><br>
<em>Sesungguhnya aku adalah sebaik-baik pendahulu bagimu. </em><br>
Dan lafazh hadits ini lafazh <em>Shahih Muslim</em>.<br>
Lihat pula kitab Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali lainnya yang berjudul <em>Limadza Ikhtartu al Manhaj as Salafi</em>, hlm. 30. <em>Wallahu a’lam</em>.</p>
 