
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="en-US">Di dunia ini, Allah Ta’ala telah memberikan dan melimpahkan kita berbagai macam nikmat dan rizki yang tidak terhitung jumlahnya. Allah Ta’ala memelihara kita di dunia ini dengan rizki-Nya, setelah sebelumnya Allah menciptakan kita. Lalu, apakah hal itu Allah lakukan hanya karena “suka-suka” dan “main-main” saja, tidak ada hikmah dan tidak ada tujuan tertentu?</span></span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Beriman bahwa Allah adalah Dzat yang Menciptakan Kita</b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Sebagaimana yang telah kita maklumi bersama bahwa Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menciptakan kita setelah sebelumnya kita tidak ada. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Insan [76]: 1).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">juga berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">قَالَ كَذَلِكَ قَالَ رَبُّكَ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَقَدْ خَلَقْتُكَ مِنْ قَبْلُ وَلَمْ تَكُ شَيْئًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Tuhan berfirman, ‘Demikianlah.’ Tuhan berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku. Dan sesungguhnya telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali.’” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Maryam [19]: 9).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Adapun yang menciptakan kita adalah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span><span lang="id-ID">Hal ini dapat kita ketahui berdasarkan dalil </span><span lang="id-ID"><i>sam’i </i></span><span lang="id-ID">(dalil berupa wahyu) dan dalil </span><span lang="id-ID"><i>‘aqli </i></span><span lang="id-ID">(dalil berupa logika). Berdasarkan dalil </span><span lang="id-ID"><i>sam’i </i></span><span lang="id-ID">misalnya firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala,</i></span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Allah adalah Pencipta segala sesuatu.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Az-Zumar [39]: 62).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Adapun dalil logika, sebagaimana yang ditunjukkan oleh firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala,</i></span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Ath-Thuur [52]: 35).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dalam ayat ini terdapat dalil logika tentang pencipataan manusia. Karena berdasarkan logika kita, adanya manusia dan dunia ini tidak lepas dari tiga kemungkinan. Kemungkinan pertama, mereka ada tanpa adanya pencipta apa pun. Kemungkinan ke dua, mereka menciptakan diri mereka sendiri. Dan kemungkinan yang ke tiga, ada yang menciptakan, </span><span lang="en-US">D</span><span lang="id-ID">ia</span><span lang="en-US">–</span><span lang="id-ID">lah Rabb Yang Maha kuasa. Kemungkinan pertama dan ke dua tentu kemungkinan yang tidak benar, sedangkan yang benar adalah kemungkinan ke tiga. Oleh karena itulah, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">mengajak manusia untuk berfikir (yang artinya),</span><span lang="id-ID"><i> “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?”</i></span></p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Beriman bahwa Allah adalah Dzat yang Memberikan Rizki kepada Kita dan Tidak akan Membiarkan Kita Begitu Saja</b></span></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Setelah menciptakan kita, maka Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">pun memberikan kepada kita berbagai rizki yang dapat membantu dan memudahkan kehidupan kita di dunia ini. Dan dengan rizki itulah kita dapat mewujudkan tujuan penciptaan kita di dunia ini, yaitu beribadah kepada-Nya semata. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman, </span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّ اللَّهَ يَرْزُقُ مَنْ يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Ali ‘Imran [3]: 37).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Setelah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menciptakan kita, maka ketahuilah bahwa Allah tidaklah lantas membiarkan kita begitu saja. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menciptakan dan memberi kita rizki karena hikmah tertentu. Tidaklah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menciptakan kita hanya sekedar main-main saja tanpa tujuan. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Mu’minuun [23]: 115).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">juga berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى (36) أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى (37) ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّى (38)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Apakah manusia mengira, bahwa dia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya?” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Qiyamah [75]: 36-38).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dalam ayat yang lain Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER">وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu, karena mereka akan masuk neraka.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. Shaad [38]: 27).</span></p>
<h4 lang="en-US" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Ibadah: Hikmah dan Tujuan Penciptaan Manusia</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">tidaklah menciptakan kita di dunia ini untuk hidup bersenang-senang saja, sekedar untuk makan-minum, istirahat, foya-foya, dan bergembira, dan setelah itu kita meninggal tanpa ada urusan lagi atau pertanggung-jawaban apa pun. Allah tidaklah menciptakan kita sebagaimana binatang, yang tidak dibebani syariat apa pun, baik berupa perintah maupun larangan. Akan tetapi, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menciptakan kita karena hikmah yang sangat agung dan karena tujuan yang sangat mulia, yaitu agar kita beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikit pun dari mereka dan Aku juga tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. Adz-Dzaariyat [51]: 56-57).</span></p>
<h4 lang="en-US" align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Kehidupan Dunia, Tempat Berladang dan Bercocok Tanam</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Oleh karena itulah, kehidupan kita di dunia ini hakikatnya bagaikan tempat berladang dan bercocok tanam, yang akan kita petik hasilnya di negeri akhirat kelak. Kita menyiapkan diri kita dengan berbagai amal shalih</span><span lang="en-US">.</span> <span lang="en-US">S</span><span lang="id-ID">etelah itu kita pun mati, dibangkitkan, dihisab, dan diberi balasan terhadap amal yang telah kita kerjakan.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Sebetulnya, akal kita pun telah menunjukkan hal itu. Karena tentu merupakan hal yang bertentangan atau tidak sesuai dengan hikmah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala</i></span><span lang="id-ID"> ketika Dia menciptakan manusia, memberikan mereka berbagai macam rizki, kemudian setelah itu dibiarkan begitu saja, tanpa ada pertanggung-jawaban dan balasan apa pun. Ini adalah perbuatan sia-sia. Oleh karena itu, sebuah keniscayaan untuk memberikan balasan amal-amal manusia di dunia ketika berada di negeri akhirat kelak.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Marilah kita berfikir sejenak, ketika di dunia bisa saja kita melihat seseorang yang sangat bersemangat beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">akan tetapi dia hidup dalam kemiskinan. Di sisi lain, ada seseorang yang sangat dzalim dan sering melanggar hak orang lain, namun tidak mendapatkan balasan (hukuman) apa-apa di dunia. Ada pula orang kafir yang menentang Allah dan Rasul-Nya, namun hidupnya mewah dan penuh dengan kesenangan dan kecukupan. Apakah sesuai dengan keadilan dan hikmah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala, </i></span><span lang="id-ID">ketika Allah membiarkan hamba-Nya yang taat tanpa ada balasan apa pun dan membiarkan orang kafir tanpa ada hukuman apa pun, kalau setelah kehidupan di dunia tidak ada pertanggung-jawaban? Hal ini bertentangan dengan hikmah Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sama sekali. Oleh karena itulah, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">menjadikan negeri yang lain, yaitu negeri akhirat, sehingga Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">membalas hamba-Nya yang taat atas ketaatannya dan membalas hamba-Nya yang durhaka atas kedurhakaannya. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelaslah bahwa dunia adalah ladang untuk beramal, sedangkan akhirat adalah negeri balasan, baik surga maupun neraka. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">tidak akan membiarkan kita begitu saja, sebagaimana sangkaan orang-orang musyrik -yang tidak beriman dengan hari kebangkitan- yang Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">ceritakan dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa.’ Dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. Al-Jatsiyah [45]: 24).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">sendiri telah membantah anggapan mereka itu dalam firman-Nya,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ (35) مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ (36)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Maka apakah patut kami menjadikan orang-orang Islam itu sama (balasannya) dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir)? Atau adakah kamu (berbuat demikian), bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. Al-Qalam [68]: 35-36)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Dalam ayat yang lain, Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal salih, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. Al-Jatsiyah [45]: 21).</span></p>
<h4 align="JUSTIFY">
<span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><b>Untuk Mewujudkan Tujuan Penciptaan, Diutuslah Rasulullah </b></span></span><span style="color: #ff0000;"><span lang="en-US"><i><b>shallallahu ‘alaihi wa sallam</b></i></span></span>
</h4>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Agar manusia dapat mewujudkan tujuan </span><span lang="en-US">penciptaan tersebut </span><span lang="id-ID">–yaitu beribadah kepada-Nya-, maka Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">pun mengutus rasul kepada kita, yaitu Muhammad </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</i></span><span lang="id-ID"> Karena ibadah tidaklah didasarkan atas sangkaan baik kita semata atau didasarkan atas ikut-ikutan orang lain. Sehingga Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">pun mengutus rasul untuk menjelaskan kepada kita bagaimana cara beribadah kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span><span lang="id-ID">Oleh karena itu, di antara hikmah diutusnya rasul adalah untuk menjelaskan bagaimana tatacara beribadah yang benar kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">dan melarang manusia dari perbuatan syirik dan kekafiran. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Di antara dalil yang menunjukkan pengutusan rasul ini adalah firman Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala,</i></span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولًا (15) فَعَصَى فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا (16)</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Sesungguhnya kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Mekah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Fir’aun. Maka Fir’aun mendurhakai rasul itu, lalu kami siksa dia dengan siksaan yang berat.” </i></span><span lang="id-ID">(QS. Al-Muzammil [73]: 15-16).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Barangsiapa yang menaati rasul tersebut, maka sungguh dia telah mendapatkan petunjuk dan masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepada rasul, maka dia berada dalam kesesatan dan masuk neraka. Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan jika kamu taat kepadanya (rasul), niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. An-Nuur [24]: 54).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">juga berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. An-Nuur [24]: 56).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">« كُلُّ أُمَّتِى يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ ، إِلاَّ مَنْ أَبَى » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى قَالَ « مَنْ أَطَاعَنِى دَخَلَ الْجَنَّةَ ، وَمَنْ عَصَانِى فَقَدْ أَبَى »</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Seluruh umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.” </i></span><span lang="id-ID">Para sahabat bertanya,</span><span lang="id-ID"><i>”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” </i></span><span lang="id-ID">Rasulullah menjawab,</span><span lang="id-ID"><i>”Barangsiapa yang taat kepadaku, maka masuk surga. Dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka dia adalah orang yang enggan (masuk surga).” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Bukhari, dari sahabat Abu Hurairah </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span><span lang="id-ID">).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span lang="id-ID">bersabda,</span></p>
<p class="arab" align="CENTER"><span lang="id-ID">« </span>وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِى أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الأُمَّةِ يَهُودِىٌّ وَلاَ نَصْرَانِىٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ <span lang="id-ID">»</span></p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidaklah ada seorang pun dari umatku yang mendengar dakwahku, meskipun seorang Yahudi atau Nasrani, kemudian mati dalam keadaan tidak beriman terhadap ajaran yang aku bawa, kecuali dia adalah penghuni neraka.” </i></span><span lang="id-ID">(HR. Muslim, dari sahabat Abu Hurairah </span><span lang="id-ID"><i>radhiyallahu ‘anhu</i></span><span lang="id-ID">).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="id-ID">Karena rasul telah menjelaskan segala hal tentang kewajiban kita kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">di dunia ini, maka tidak boleh ada seorang pun yang mengatakan pada hari kiamat, </span><span lang="id-ID"><i>“Saya tidak tahu bahwa aku diciptakan untuk beribadah kepada Allah. Saya tidak tahu apa yang Allah perintahkan dan apa yang Allah larang.” </i></span><span lang="id-ID">Hal ini karena hal itu telah dijelaskan oleh Rasulullah </span><span lang="id-ID"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam. </i></span><span lang="id-ID">Dengan pengutusan rasul, maka tegaklah </span><span lang="id-ID"><i>hujjah </i></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">kepada manusia. Sehingga tidak ada lagi alasan yang dapat dipakai oleh manusia ketika mereka durhaka kepada Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala. </i></span><span lang="id-ID">Allah </span><span lang="id-ID"><i>Ta’ala </i></span><span lang="id-ID">berfirman,</span></p>
<p class="arab" lang="id-ID" align="CENTER">رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا</p>
<p align="JUSTIFY">“<span lang="id-ID"><i>(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan </i></span><span lang="id-ID"><i><b>agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.</b></i></span><span lang="id-ID"><i> Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”</i></span><span lang="id-ID"> (QS. An-Nisa’ [4]: 165).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="en-US">Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, sehingga kita dapat mewujudkan tujuan penciptaan kita di dunia ini, yaitu beribadah dan taat kepada-Nya, serta tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. </span></p>
<p align="JUSTIFY">***</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Selesai disempurnakan ba’da dzuhur, Sint-Jobskade Rotterdam NL, Sabtu 5 Sya’ban 1436</span></p>
<p lang="" align="LEFT">Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><span lang="">Penulis:</span><b> </b><span lang="id-ID"><b>M. Saifudin Hakim</b></span></p>
<h5 lang="en-US" align="JUSTIFY"><b>Referensi:</b></h5>
<ul>
<li>
<span lang=""><i>Hushuulul Ma’muul bi Syarhi Tsalaatsatil Ushuul, </i></span><span lang="">‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan, Maktabah Ar-Rusyd Riyadh KSA, cetakan ke dua, tahun 1430.</span>
</li>
<li>
<span lang=""><i>Syarhu Al-Ushuuli Ats-Tsalaatsah, </i></span><span lang="">Syaikh Dr. Shalih Fauzan bin ‘Abdillah Al-Fauzan, Daar Al-Imam Ahmad Kairo Mesir, cetakan pertama, tahun 1427.</span>
</li>
</ul>
<p>—</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 