
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Pengertian Siwak</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak adalah bagian dari syariat Islam. Yang dimaksud siwak adalah menggunakan kayu atau sejenisnya untuk membersihkan kotoran dan warna kuning yang menempel pada gigi dan gusi dan menghilangkan baunya. </span><span style="font-weight: 400;">Bersiwak bisa dengan kayu semisal kayu arok, zaitun, tangkai kurma, atau kayu jenis lain yang tidak mudah hancur dan tidak melukai mulut.</span><strong> (<i>Al Mulakhos al Fiqhy</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam An-Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Siwak menurut istilah para ulama yaitu kegiatan menggunakan ranting atau yang semcamnya untuk menghilangkan warna kuning serta kotorang lain yang ada pada gigi. “ <strong>(</strong></span><strong><i>Syarh Shahih Muslim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apakah siwak boleh menggunakan sikat gigi dan pasta gigi ? Jawabannya boleh. Dianjurkan siwak menggunakan kayu arok. Jika tidak ada maka boleh menggunakan benda lain yang bisa membersihkan gigi dan mulut. Termasuk dalam hal ini menggunakan sikat gigi dan pasta gigi. </span><i><span style="font-weight: 400;">Walllahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">. <strong>(</strong></span><strong><i>Shahih Fiqhu Sunnah</i>)</strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Bersiwak Hukumnya Sunnah</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersiwak hukumnya sunnah dilakukan pada setiap waktu berdasarkan keumuman dalam hadits ‘Aisyah, bahwasanya Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Siwak membuat bersih mulut dan mendatangkan ridho Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(H.R Ahmad, </strong></span><strong><i>shahih</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bersiwak merupakan sunnah para rasul-rasul terdahulu. Yang pertama kali bersiwak adalah Nabi Ismail </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihi sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. Terdapat lebih dari hadits yang menjelaskan tentang siwak dan motivasi untuk melakukannya. Ini menunjukkan bahwa siwak adalah sunnah yang sangat ditekankan untuk diamalkan. <strong>(</strong></span><strong><i>Al Mulakhos al Fiqhy</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Siwak hukumnya sunnah dan tidak wajib dalam keadaaan apapun, baik ketika hendak shlat maupun dalam kondisi lain” <strong>(</strong></span><strong><i>Syarh Shahih Muslim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Manfaat Siwak</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِّ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Siwak membuat bersih mulut dan mendatangkan ridho Allah</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(H.R Ahmad, </strong></span><strong><i>shahih</i>) </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini menunjukkan dua manfaat penting bersiwak :</span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Manfat duniawi yaitu akan membersihkan mulut. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Manfaat ukhrawi yaitu akan mendapatkan keridhoan Allah. </span></li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini menunjukkan perbuatan yang ringan bisa menghasilkan kebaikan dan pahala yang agung. <strong>(</strong></span><strong><i>Asy Syarhu al Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’</i>) </strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disamping membersihkan gigi dan mulut dengan siwak juga bermanfaat untuk menjaga kebersihan dan bau mulut serta bermanfaat bagi kesehatan untuk mencegah terjadinya penyakit.</span></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Cara Bersiwak</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Cara bersiwak adalah dengan menggosok gigi dan gusi dimulai dari sisi mulut sebelah kanan kemudian ke kiri. Dalil yang menunjukkan hal ini karena kebiasaan Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang diterangkan dalam hadits berikut :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِيْ تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُوْرِهِ وَفِيْ شَاْنِهِ كُلِّهِ</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sangat menyukai memulai pada bagian kanan saat mengenakan sandal, menyisir rambut, bersuci, dan dalam urusannya yang penting semuanya.</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(</strong></span><strong><i>Muttafaqun ‘alaihi</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama berselisih pendapat apakah memegang siwak menggunakan tangan kanan ataukah tangan kiri ?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagain ulama </span><span style="font-weight: 400;">berpendapat menggunakan tangan kanan. Bersiwak adalah termasuk sunnah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, dan sunnah adalah ketaatan kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Ketaatan kepada Allah tidak layak dilakukan dengan yang kiri. Karena ini adalah termasuk ibadah maka yang lebih utama adalah menggunakan tangan kanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama yang lain berpendapat yang lebih utama adalah dengan tangan kiri karena bersiwak adalah termasuk membersihkan kotoran. Kegiatan membersihkan kotoran adalah menggunakan tangan kiri seperti saat melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">istinja’</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau </span><i><span style="font-weight: 400;">isitijmar</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagian ulama yang lainnya memberikan perincian. Jika niat bersiwak untuk membersihkan kotoran seperti saat bangun tidur atau membersihkan sisa makan dan minum maka menggunakan tangan kiri karena ini termasuk perbuatan membersihkan kotoran. Jika niatnya untuk melaksanakan sunnah maka menggunakan tangan kanan karena hal ini semata perbuatan ibadah. Seperti bersiwak ketika hendak wudhu atau ketika akan sholat maka menggunakan tangan kanan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menyikapi peerbedaan pendapat di atas, Syaikh Muhammad bin Shalih al‘Utsaimin </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyimpulkan bahwa dalam maslah ini perkaranya luwes dan fleksibel, bisa menggunkan tangan kanan maupun tangan kiri. Tidak ada dalil yang jelas dan tegas dalam masalah ini. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Asy Syarhu al Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’</i>)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Waktu Untuk Bersiwak</b><span style="font-weight: 400;"> </span></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak lebih ditekankan untuk dilakukan pada kondisi berikut :</span></p>
<h3><strong>(1) Ketika wudhu</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan hadits Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa Rasul </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pernah bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوءٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali berwudhu</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(HR. Ahmad, shahih).</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut Syaikh Shalih Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> bahwa bersiwak ketika wudhu dilakukan saat berkumur-kumur. <strong>(</strong></span><strong><i>Al Mulakhos al Fiqhy</i>)</strong></p>
<h3><strong>(2) Ketika shalat</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي أَوْ عَلَى النَّاسِ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلَاةٍ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Seandainya tidak memberatkan umatku, sungguh aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap hendak melaksanakan shalat</span></i><span style="font-weight: 400;">.” <strong>(HR. Al-Bukhari).</strong></span></p>
<h3><strong>(3) Ketika membaca Al Qur’an</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhyiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, beliau mengatakan, ‘Kami diperintahkan untuk bersiwak dan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda :</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>إن العبد إذا قام يصلي أتاه الملك فقام خلفه يستمع القرآن ويدنو فلا يزال يستمع ويدنو حتى يضع فاه على فيه فلا يقرأ آية إلا كانت في جوف الملك</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya seorang hamba ketika hendak mendirikan shalat datanglah malaikat padanya. Kemudian malaikat itu berdiri di belakangnya, mendengarkan bacaan Al-Qu’rannya, dan semakin mendekat padanya. Tidaklah dia berhenti dan mendekat sampai dia meletakkan mulutnya pada mulut hamba tadi. Tidaklah hamba tersebut membaca suatu ayat kecuali ayat tersebut masuk ke perut malaikat itu.</span></i><span style="font-weight: 400;">”<strong> (HR. Baihaqi, </strong></span><strong><i>shahih</i>)</strong></p>
<h3><strong>(4) Ketika masuk rumah</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Al Miqdam bin Syuraih dari ayahnya, dia berkata,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>سَأَلْتُ عَائِشَةَ قُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ كَانَ يَبْدَأُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ قَالَتْ بِالسِّوَاكِ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Aku bertanya pada Aisyah, “Apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan ketika mulai memasuki rumah beliau?” Aisyah menjawab, “Bersiwak”</span></i><strong> (<i>Muttafaqun ‘alaihi</i>).</strong></p>
<h3><strong>(5) Ketika hendak shalat malam</strong></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Hudzaifah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;"> menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ يَشُوصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ </span><i><span style="font-weight: 400;">Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bangun tidur di malam hari, maka beliau bersiwak.</span></i><span style="font-weight: 400;">” <strong>(</strong></span><strong><i>Muttafaqun ‘alaih</i>, <i>Shahih Fiqhu Sunnah</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Nawawi </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> menjelaskan bahwa siwak hukukmnya sunnah dilakukan kapanpun saja di setiap waktu. Akan tetapi ada lima keadaan yang lebih ditekankan untuk bersiwak : (1) ketika hendak shalat, (2) ketika hendak wudhu, (3) saat hendak membaca Al Qur’an, (4) saat bangun tidur, dan (5) saat ada perubahan bau mulut seperti misalnya karena lama tidak makan dan minum, memakan makan yang berbau tidak enak, lama diam, dan banyak bicara. <strong>(Lihat </strong></span><strong><i>Syarh Shahih Muslim</i>)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga bermanfaat. </span><i><span style="font-weight: 400;">Allahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad.</span></i></p>
<p> </p>
<p><b>Penyusun : <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/adika" data-darkreader-inline-color="">Adika Mianoki</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Referensi :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(1).</span><i><span style="font-weight: 400;"> Syarh Shahih Muslim</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Al Imam An Nawawi</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(2).</span><i><span style="font-weight: 400;"> Al Mulakhos al Fiqhy</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Shalih bin Fauzan bin ‘Abdilah al Fauzan  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(3).</span><i><span style="font-weight: 400;"> Shahih Fiqhu Sunnah</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Abu Malik Kamaal bin Sayyid Saalim  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(4).</span><i><span style="font-weight: 400;"> Asy Syarhu al Mumti’ ‘alaa Zaadil Mustaqni’ </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin</span></p>
 