
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Karakter Lebah dan Lalat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebah dan lalat sama-sama spesies serangga. Namun ternyata lebah memiliki banyak keistimewaan yang tidak dimiliki lalat. Apakah berbagai keistimewaan itu? Bagaimana lebah bisa memilikinya? Sebaliknya mengapa lalat tidak memilikinya?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lebah mempunyai karakter </span><b>pribadi</b><span style="font-weight: 400;"> yang baik. Selain itu kehidupan </span><b>sosialnya </b><span style="font-weight: 400;">juga baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebaliknya, karakter pribadi lalat buruk. Kehidupan sosialnya juga buruk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Walaupun sama-sama serangga, namun mengapa pribadi dan sosial keduanya berbeda?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebab lebah </span><b>mendapat wahyu dari Allah dan mengamalkannya</b><span style="font-weight: 400;">. Sedangkan lalat tidak demikian.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ . ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rabbmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon dan di tempat-tempat yang dibikin manusia. Kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan. Lalu tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu)”. Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang berwarna-warni. Di dalamnya ada obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh pada hal itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir”. </span></i><strong>[QS. An-Nahl (16): 68-69.]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/19817-noda-di-hati-yang-membandel.html" data-darkreader-inline-color="">Noda Di Hati, Yang Membandel</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 28px;">Dibalik Pribadi Lebah dan Lalat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara </span><b>pribadi, lebah</b><span style="font-weight: 400;"> memiliki karakter baik. Sebab dia hanya makan yang baik-baik dan menghasilkan yang baik-baik pula. Secara</span><b> sosial </b><span style="font-weight: 400;">pun, lebah hidup bermasyarakat dengan sangat baik. Memiliki pemimpin yang dipatuhi. Saling bekerjasama antara lebah pekerja dengan lebah penjaga. Semua bekerja dalam sistem yang sangat rapi. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bandingkan dengan </span><b>kepribadian lalat.</b><span style="font-weight: 400;"> Dia gemar mengganggu dan mencuri makanan. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menceritakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِنْ يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَا يَسْتَنْقِذُوهُ مِنْهُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Jika </span></i><b><i>lalat merampas</i></b><i><span style="font-weight: 400;"> sesuatu dari mereka (manusia), mereka tidak akan dapat merebutnya kembali”. </span></i><strong>[</strong><strong>QS. Al-Hajj (23): 73.]</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ditambah lagi yang dipindahkan oleh lalat pun adalah virus penyakit yang merugikan. Inilah karakter pribadi lalat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Secara </span><b>sosial,</b><span style="font-weight: 400;"> lalat tidak hidup bermasyarakat. Justru hidup sendiri-sendiri dan tidak teratur.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/17128-ujian-keimanan-di-balik-mendoan.html" data-darkreader-inline-color="">Ujian Keimanan Di Balik Mendoan</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Hikmah dari Karakter Lebah dan Lalat</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Nah, silakan memilih, akan mengikuti wahyu Allah atau mengabaikannya? Siapapun yang mengikuti wahyu-Nya, maka pribadi dan sosialnya akan baik. Contohnya lebah. Sebaliknya, siapapun yang meninggalkan wahyu Allah, maka pribadi dan sosialnya akan buruk. Seperti lalat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jangan heran, bila Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400;"> “</span><span style="font-size: 21pt;">وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ، إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏لَكَمَثَلِ النَّحْلَةِ، أَكَلَتْ طَيِّبًا، وَوَضَعَتْ طَيِّبًا، وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Demi Allah, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu seperti lebah. Yang dia makan adalah yang baik-baik. Yang dia keluarkan juga yang baik-baik. Bila hinggap di sesuatu, maka ia tidak mematahkan atau merusaknya”. </span></i><strong>[HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim.]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9847-empati-pendidikan-untuk-anak-miskin.html" data-darkreader-inline-color="">Empati Pendidikan Untuk Anak Miskin</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/9277-bukan-sembarang-dzikir.html" data-darkreader-inline-color="">Bukan Sembarang Dzikir</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 12 Jumadal Ula 1440 H / 18 Januari 2019</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abdullahzaen" data-darkreader-inline-color="">Ustadz Abdullah Zaen, Lc, MA.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 