
<h2>“Saya memaafkanmu” VS “Saya tidak akan memaafkanmu, urusannya di akhirat!”</h2>
<p class="arab">بسم الله الرحمن الرحيم, الحمد لله رب العالمين و صلى الله و سلم و بارك على نبينا محمد و آله و صحبه أجمعين, أما بعد</p>
<p>Apa kabar kawan pembaca…?<br> Semoga urusan Anda dan saya selalu dimudahkan oleh Allah <em>Ta’ala</em>. <em>Allahumma amin</em>.</p>
<p>Di  bawah ini, tertulis beberapa prinsip mulia Islam dalam etika  berhubungan sosial dengan sesama makhluk terutama dengan seorang muslim.</p>
<p>1. Memaafkan Sebuah Kezhaliman Lebih Baik daripada Mendendam Dibawa Sampai ke Akhirat</p>
<p>Memaafkan  seseorang yang pernah berbuat kezhaliman kepada kita, apapun bentuk  kezhalimannya, adalah merupakan syariat Islam dan sesuatu yang  diperintahkan di dalam Alquran yan mulia serta dicontohkan di dalam  hadits Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> yang agung.</p>
<p>Memang berat, tapi ganjaran pahalanya juga sangat besar, yaitu diampuni Allah <em>Ta’ala</em> dosa-dosanya.</p>
<p>Mari kita perhatikan ayat dan hadits mulia berikut:</p>
<p class="arab">وَلَا  يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي  الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ  لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ .. النور: 22</p>
<p><em>“Dan janganlah  orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu  bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum  kerabat (nya), orang-orang yang miskin, dan orang-orang yang berhijrah  pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.  Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.” </em>(QS. An Nur: 22).</p>
<p>Ayat ini  diturunkan menceritakan kisah Abu Bakar Ash Shiddiq <em>radhiallahu ‘anhu</em>,  yang telah bersumpah untuk tidak lagi membiayai dan menafkahi Misthah  bin Utsatsah <em>radhiallahu ‘anhu,</em> karena Misthah <em>radhiallahu ‘anhu</em> termasuk orang yang mengatakan berita dusta tentang Aisyah <em>radhiallahu  ‘anha.</em></p>
<p>Dan ketika Allah <em>Ta’ala</em> telah menurunkan ayat yang  menjelaskan tentang keterlepasan Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> dari segala  tuduhan yang telah dibuat-buat kaum munafik tersebut, kemudian keadaan  kaum muslim menjadi tenang kembali, Allah <em>Ta’ala</em> memberikan taubat-Nya  kepada kaum beriman yang ikut berkata dalam berita ini, dan diberikan  pidana atas yang berhak mendapatkan hukuman karena perbuatannya.</p>
<p>Maka  Allah dengan kemuliaan dan kemurahan-Nya, mengajak Abu Bakar Ash  Shiddiq <em>radhiallahu ‘anhu</em> untuk memaafkan Misthah <em>radhiallahu ‘anhu</em>,  yang juga merupakan anak bibi beliau, seorang miskin yang tidak  mempunyai harta kecuali hanya dari pemberian Abu Bakar Ash Shiddiq  <em>radhiallahu ‘anhu</em> saja, dan Misthah radhiallahu ‘anhu termasuk dari kaum  Muhajirin serta telah diterima taubatnya oleh Allah Ta’ala, apalagi  Misthah radhiallahu ‘anhu sudah mendapatkan hukuman pidana atas  perbuatannya tersebut. Lalu apa sikap Abu Bakar Ash Shiddiq <em>radhiallahu  ‘anhu</em> akhirnya, mari perhatikan hadits berikut:</p>
<p class="arab">أَنَّ  عَائِشَةَ – رضى الله عنها – زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم –  قَالَتْ: “… فَلَمَّا أَنْزَلَ اللَّهُ هَذَا فِى بَرَاءَتِى قَالَ أَبُو  بَكْرٍ الصِّدِّيقُ – رضى الله عنه – وَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى مِسْطَحِ  بْنِ أُثَاثَةَ لِقَرَابَتِهِ مِنْهُ ، وَفَقْرِهِ وَاللَّهِ لاَ أُنْفِقُ  عَلَى مِسْطَحٍ شَيْئًا أَبَدًا بَعْدَ الَّذِى قَالَ لِعَائِشَةَ مَا  قَالَ ، فَأَنْزَلَ اللَّهُ ( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ  وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ  وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ  تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ )  قَالَ أَبُو بَكْرٍ بَلَى ، وَاللَّهِ إِنِّى أُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ  اللَّهُ لِى ، فَرَجَعَ إِلَى مِسْطَحٍ النَّفَقَةَ الَّتِى كَانَ يُنْفِقُ  عَلَيْهِ ، وَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَنْزِعُهَا مِنْهُ أَبَدًا</p>
<p>Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em> Istri Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> berkata, “Ketika Allah telah menurunkan keterlepasanku (dari  berita dusta yang disebarkan kaum munafik), Abu Bakar Ash Shiddiq  <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata tentang Misthah bin Utsatsah <em>radhiyallahu  ‘anha</em>, yang mana Misthah adalah orang yang beliau nafkahi, karena  hubungan kekerabatannya dengan beliau dan karena kemiskiannya: “Demi  Allah, selamanya aku tidak akan menafkahi Misthah sedikit pun, setelah  apa yang ia katakan tentang Aisyah <em>radhiallahu ‘anha</em>“, maka Allah-pun  menurunkan ayat:</p>
<p class="arab">( وَلاَ يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ  مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِى الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ  وَالْمُهَاجِرِينَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلاَ  تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ )</p>
<p><em>“Dan  janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara  kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum  kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah  pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada.  Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha  Pengampun lagi Maha Penyayang.”</em></p>
<p>Maka Abu bakar berkata, “Tentu, demi  Allah, aku menginginkan agar aku diampuni Allah <em>Ta’ala</em>“. Maka beliau  kembali memberi nafkah kepada Misthah yang dulu beliau beri nafkah. Dan  beliau berkata, “Demi Allah, aku tidak akan meninggalkan nafkah  untuknya.” (HR. Bukhari dan Muslim. Lihat<em> Tafsir Alquran Al Azhim</em>, karya  Ibnu Katsir rahimahullah).</p>
<p>Kawan pembaca…saya yakin Anda paham ceritanya…</p>
<p>Jadi…Abu  Bakar <em>radhiallahu ‘anhu</em> yang awalnya ingin menghentikan membiayai  Misthah <em>radhiallahu ‘anhu</em>, disebabkan Misthah radhiyallahu ‘anhu  termasuk orang yang ikut berkata akan berita dusta tentang Aisyah  radhiallahu ‘anha yang telah diprakarsai oleh kaum munafik, tetapi  setelah melihat ganjaran pahala yang begitu besar dari Allah Ta’ala jika  beliau memaafkan Misthah radhiallahu ‘anhu, maka Abu Bakar <em>radhiallahu  ‘anhu</em> pun memilih untuk mendapatkan ganjaran tersebut, yaitu berupa  ampunan dari Allah Ta’ala, daripada menyimpan dendam yang tiada  habisnya. Allahu Akbar!.</p>
<p>Maafkanlah kesalahan saudara-saudara  seiman kita, apapun kesalahannya, jangan dendam tersebut selalu  menyesakkan dada kita, apakah kita tidak mau mendapatkan ampunan Allah  Ta’ala. Memaafkan = Mendapat Ampunan Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p>2. Memaafkan Harus Dibarengi dengan Perasaan Lapang Dada</p>
<p>Kesempurnaan  sikap memaafkan adalah jika dibarengi dengan perasaan lapang dada, yang  menganggap seakan tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.</p>
<p>Sebagian mungkin bisa memaafkan tetapi tidak bisa lapang dada, contohnya:</p>
<p> Si A telah memaafkan B, orang yang pernah berbuat salah kepadanya tetapi:<br> – si A tidak ingin lagi bertemu dengan si B,<br> – si A malas untuk berkumpul bersama dengan si B lagi,<br> – si A masih selalu mengungkit kesalahan si B,<br> – si A tidak mau lagi berurusan dengan si B,<br> – si A tidak lagi mau menolong si B, jika si B membutuhkan pertolongan,<br> dan contoh-contoh yang lain masih banyak. Mungkin bisa cari sendiri.</p>
<p>Padahal,  kalau kita perhatikan ayat-ayat suci Alquran, maka seorang muslim  diperintah untuk memaafkan dengan dibarengi lapang dada, mari kita  perhatikan:</p>
<p class="arab">وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا [النور: 22]</p>
<p><em>“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada…”</em> (QS. An Nur: 22).</p>
<p>Di  dalam ayat yang mulia ini terdapat pelajaran yaitu: Perintah untuk  memaafkan dan lapang dada, walau apapun yang didapatkan dari orang-orang  yang pernah menyakiti. (Lihat Tafsir al Karim Ar Rahman fi Tafsir Al  Kalam Al Mannan, karya As Sa’di rahimahullah).</p>
<p class="arab">فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [المائدة: 13]</p>
<p><em>“…maka maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”</em> (QS. Al Maidah: 13).</p>
<p><strong>Ayat yang mulia ini memberi beberapa pelajaran:</strong></p>
<p> 1. Sikap memaafkan yang dibarengi dengan perasaan lapang dada adalah sifatnya seorang muhsin.</p>
<p>2. Seorang muhsin keutamaannya adalah dicintai Allah <em>Ta’ala</em>. Dan keutamaan orang yang dicintai Allah <em>Ta’ala</em> adalah:</p>
<p>– Masuk surga.</p>
<p class="arab">عَنْ  أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضى الله عنه قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ  اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى  السَّاعَةُ قَالَ « وَمَا أَعْدَدْتَ لِلسَّاعَةِ ». قَالَ حُبَّ اللَّهِ  وَرَسُولِهِ قَالَ « فَإِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ ».</p>
<p>Anas bin  Malik <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata, “Seorang lelaki pernah datang kepada  Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan bertanya, “Wahai  Rasulullah, kapan hari kiamat?” Beliau menjawab, <em>“Apa yang telah kamu  siapkan untuk hari kiamat?”</em> Lelaki itu menjawab, “Kecintaan kepada Allah  dan Rasul-Nya.” Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,  <em>“Maka sungguh kamu akan bersama yang kamu cintai.”</em> (HR. Bukhari dan  Muslim).</p>
<p>– Diharamkan oleh Allah <em>Ta’ala</em> untuk masuk neraka.</p>
<p class="arab">عنْ أَنَسٍ رضى الله عنه قَال: قَالََ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « والله, لاَ يُلْقِى اللَّهُ حَبِيبَهُ فِى النَّارِ ».</p>
<p>Anas  bin Malik r<em>adhiallahu ‘anhu</em> berkata, Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi  wa sallam</em> bersabda, “D<em>emi Allah, tidak akan Allah melemparkan orang yang  dicintai-Nya ke dalam neraka.”</em> (HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam  kitab Silsilat Al Ahadits Ash Shahihah, no. 2047).</p>
<p>– Dicintai oleh seluruh malaikat ‘alaihimussalam dan diterima oleh penduduk bumi:</p>
<p class="arab">عَنْ  أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى  الله عليه وسلم – « إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِذَا أَحَبَّ  عَبْدًا نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبَّهُ  فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ، ثُمَّ يُنَادِى جِبْرِيلُ فِى السَّمَاءِ إِنَّ  اللَّهَ قَدْ أَحَبَّ فُلاَنًا فَأَحِبُّوهُ ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ  السَّمَاءِ وَيُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِى أَهْلِ الأَرْضِ » .</p>
<p>Abu  Hurairah <em>radhiallahu ‘anhu</em> berkata, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa  sallam</em> bersabda, “<em>Jika Allah Tabaraka wa Ta’ala mencintai seorang hamba,  maka Allah Ta’ala memanggil Jibril: “Sesungguhnya Allah telah mencintai  si fulan maka cintailah fulan”, maka Jibril pun mencintainya, kemudian  Jibril menyeru di langit: “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan  maka cintailah kalian fulan”, maka penduduk langit pun mencintainya dan  baginya pun penerimaan/rasa simpatik penduduk bumi”.</em> (HR. Bukhari).</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>Ditulis oleh Ahmad Zainuddin<br> Ahad, 22 Rabi’uts Tsani 1432H<br> Dammam KSA.</p>
<p><strong>Artikel <a>www.PengusahaMuslim.com</a></strong></p>
 