
<p><strong>Tanya:</strong></p>
<p><em> Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu</em>.</p>
<p>Ustadz, saya mau tanya masalah khitan/sunatan, apakah ini ajaran islam atau sebelum islam juga sudah ada perintah Allah tentang berkhitan khususnya bagi laki-laki. Dan bagaimana dengan wanita? Tolong sebutkan dalil-dalilnya. Terima kasih ustadz.</p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>Khitan merupakan sesuatu yang difithrahkan untuk manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">الْفِطْرَةُ خَمْسٌ أَوْ خَمْسٌ مِنْ الْفِطْرَةِ الْخِتَانُ وَالِاسْتِحْدَادُ وَنَتْفُ الْإِبْطِ وَتَقْلِيمُ الْأَظْفَارِ وَقَصُّ الشَّارِبِ<br>
<em> </em></p>
<p><em>Artinya: “Fithrah itu ada lima: Khitan, mencukur rambut kemaluan, mencabut bulu ketiak, memotong kuku, dan memotong kumis.</em>“<em> </em>(HR. Al-Bukhary Muslim)</p>
<p>Oleh karena itu khitan ini merupakan syari’at umat-umat sebelum kita juga. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda tentang khitannya Nabi Ibrahim:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">اخْتَتَنَ إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَهُوَ ابْنُ ثَمَانِينَ سَنَةً بِالْقَدُومِ</p>
<p>“<em>Ibrahim ‘alaihissalam telah berkhitan dengan qadum(nama sebuah alat pemotong) sedangkan beliau berumur 80 tahun.” </em>(HR. Al-Bukhary Muslim)<em> </em></p>
<p>Khitannya Nabi Ibrahim juga tercantum di dalam kitabnya orang yahudi (<em>Perjanjian Lama</em>, Kejadian 17/ 11 ), dan ini merupakan syari’atnya Nabi Musa. Oleh karena itu Nabi Isapun berkhitan karena beliau mengikuti syari’atnya Nabi Musa. (<em>Injil Lukas</em> 2/ 21).</p>
<p>Ada perbedaan pendapat tentang hukum khitan. Namun pendapat yang kami anggap lebih kuat adalah yang mengatakan bahwa khitan wajib bagi laki-laki selama tidak ditakutkan meninggal atau sakit , dan sunnah bagi wanita.</p>
<p>Dalil-dalil atas wajibnya khitan bagi laki-laki, diantaranya:</p>
<p>1. Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memerintahkan orang yang masuk islam untuk berkhitan. Dan asal perintah adalah wajib. Beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: right;">أَلْقِ عَنْكَ شَعْرَ الْكُفْرِ وَاخْتَتِنْ</p>
<p style="text-align: left;">Artinya:<em> “Hilangkan darimu rambut kekafiran (yang menjadi alamat orang kafir) dan berkhitanlah.” </em>(HR. Abu Dawud, dan dihasankan oleh Syeikh Al-Albany)<em> </em></p>
<p>2. Khitan membedakan antara orang islam dengan orang kafir.<br>
3. Khitan adalah memotong sebagian tubuh, sedangkan memotong sebagian tubuh adalah haram, dan sesuatu yang haram tidak diperbolehkan kecuali dengan sesuatu yang wajib.<br>
4. Khitan bagi laki-laki berkaitan dengan syarat diantara syarat-syarat  shalat yaitu thaharah (bersuci).</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">
</p>
<p>Dalil-dalil atas sunnahnya khitan bagi wanita, diantaranya:</p>
<p>1. Di dalam sebuah hadist Ummu ‘Athiyyah bahwasanya di Madinah ada seorang wanita yang (pekerjaannya) mengkhitan wanita, kemudian Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ</p>
<p>Artinya:<em> “Jangan berlebihan di dalam memotong, karena yang demikian itu lebih nikmat bagi wanita dan lebih disenangi suaminya.” </em>(HR. Abu Dawud, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany).</p>
<p>2. Rasulullah<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda:</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">إِذَا الْتَقَى الْخِتَانَانِ وَتَوَارَتْ الْحَشَفَةُ فَقَدْ وَجَبَ الْغُسْلُ</p>
<p>Artinya: <em>“Kalau bertemu dua khitan dan tenggelam khasyafah (ujung dzakar), maka wajib untuk mandi.”</em> (HR. Ibnu Majah, dan dishahihkan oleh Syeikh Al-Albany)</p>
<p>Ini menunjukkan bahwa wanitapun berkhitan.<br>
Khitan bagi wanita hanya berkaitan dengan sebuah kesempurnaan saja yaitu   pengurangan syahwat.</p>
<p class="arab" style="text-align: right;">لَا تُنْهِكِي فَإِنَّ ذَلِكَ أَحْظَى لِلْمَرْأَةِ وَأَحَبُّ إِلَى الْبَعْلِ</p>
<p>Wallahu a’lamu.</p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>
 