
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 14pt;"><strong>Fatwa </strong><strong>Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘</strong><strong>Utsaimin <em>rahimahullahu</em></strong></span></p>
<p> </p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Bagaimana seseorang mengikhlaskan niatnya dalam beramal saleh?</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Niat yang ikhlas dalam beramal saleh, yaitu seorang seorang hamba meniadakan tujuan-tujuan lain selain mengharap rida Allah <em>Ta’ala </em>saat beramal. Tidaklah seseorang melakukan suatu ibadah, kecuali dalam rangka menaati perintah Allah <em>Ta’ala</em>, mengharap pahala dari-Nya, serta mencari wajah Allah <em>Azza wa Jalla</em>. Hendaknya seseorang saat melakukan suatu ibadah melupakan perkara-perkara terkait dunia, tidak memperhatikan penilaian makhluk yang lain, baik mereka melihat atau tidak melihat, mendengar ataupun tidak (saat kita beramal-pent), juga tidak memperdulikan pujian atau celaan dari makhluk.</p>
<p>Yang juga menjadi penyebab seseorang untuk bisa ikhlas yaitu dengan menghadirkan perasaan bahwa ibadah yang sedang dilakukan merupakan perintah Allah <em>Azza wa Jalla, </em>serta menghadirkan <em>ittiba’</em> (yaitu melakukan ibadah sesuai dengan yang dicontohkan Rasulullah ﷺ-pent). Semisal ketika seseorang hendak berwudu saat akan salat, maka kita katakan agar seseorang tersebut menghadirkan perasaan bahwa wudu yang dia kerjakan dalam rangka menaati perintah Allah <em>Azza wa Jalla, </em>sebagaimana firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki</em>).” (<a href="https://tafsirweb.com/1890-surat-al-maidah-ayat-6.html" target="_blank" rel="noopener">QS. Al Maidah:6</a>)</p>
<p>Sehingga, saat seseorang tersebut berwudu, seolah-olah dia mengatakan, saya mendengar dan taat, maka dia akan menemukan rasa manis, lezat, dan kecintaan dari ibadah wudu tersebut karena Allah <em>Ta’ala</em> yang memerintahkan hal tersebut. Juga hendaknya saat seseorang tersebut berwudu untuk menghadirkan <em>ittiba’</em> ﷺ, seolah-olah Nabi ﷺ ada di depanmu dan Engkau mengikuti beliau ﷺ dalam wudu yang sedang dikerjakan. Maka, bagi orang tersebut akan terealisasi pahala dan ganjaran dari ikhlas dan <em>ittiba’. </em>Dan kedua hal ini (ikhlas &amp; <em>ittiba’-</em>pent) adalah realisasi yang sesungguhnya dari kalimat <em>syahadatain</em>, bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan bahwasannya Muhammad ﷺ adalah utusan-Nya</p>
<p><em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<ul>
<li><strong><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/267-inginkah-anda-menjadi-orang-yang-ikhlas.html" target="_blank" rel="noopener" data-darkreader-inline-color="">Inginkah Anda Menjadi Orang yang Ikhlas?</a></span></strong></li>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/23439-tanda-ikhlas-menganggap-sama-pujian-dan-celaan.html" data-darkreader-inline-color="">Tanda Ikhlas: Menganggap Sama Pujian dan Celaan</a></strong></span></li>
<li><strong>Penerjemah: <a href="https://muslim.or.id/author/dimassetiaji" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Dimas Setiaji</span></a></strong></li>
<li><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">muslim.or.id</span></a></strong></li>
<li>
<li>
<strong>Sumber:</strong> Kitab <em>Fatawa Nuur ‘Ala Ad-Darb</em> (Juz 4 halaman 2)</li>
</ul>
 