
<p><span style="color: #000000;">Seorang muslim hendaknya mengetahui <a style="color: #000000;" href="https://muslim.or.id/52194-shalat-jamaah-wajib-di-masjid.html">Apakah Shalat Jama’ah Wajib di Masjid? </a></span></p>

<p><span style="font-weight: 400;">Siapa saja yang masuk masjid dan shalat jamaah sudah selesai (imam sudah mengucapkan salam), maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, masih ada jamaah yang bangkit berdiri menyempurnakan shalatnya. Kemungkinan ke dua, tidak ada jamaah yang masih menyempurnakan shalat. </span></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Jika Masih Ada Jamaah yang Bangkit Berdiri Menyempurnakan Shalatnya</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika kemungkinan pertama yang terjadi, maka orang yang terlambat tadi (orang pertama) kemudian shalat bersama jamaah lain yang masih menyempurnakan shalatnya tersebut (orang ke dua). Orang pertama memberikan isyarat kepada orang ke dua bahwa dia shalat berjamaah dengannya, sehingga orang ke dua menjadi imam untuk orang pertama. Niat menjadi imam itu tetap sah, meskipun baru diniatkan di tengah-tengah shalat atau tidak diniatkan sejak dari awal takbiratul ihram. </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/43223-keutamaan-dan-kewajiban-shalat-berjamaah-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Keutamaan dan Kewajiban Shalat Berjamaah</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil dalam masalah ini hadits yang diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallhu ‘anhuma, </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika beliau bermalam di rumah bibinya, Maimunah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha. </span></i><span style="font-weight: 400;">Di tengah malam, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bangun untuk shalat malam. Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">menyusul dan berdiri di samping kiri Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Kemudian Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menarik Ibnu ‘Abbas agar berdiri di samping kanan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini adalah isyarat bolehnya niat menjadi imam di tengah-tengah shalat. Hal ini karena Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam, </span></i><span style="font-weight: 400;">shalat sendirian di awal shalat sebelum Ibnu ‘Abbas </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">datang menyusul.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu ‘Abdil Barr </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Di dalam hadits ini terdapat bantahan bagi pendapat yang menyatakan tidak bolehnya seseorang menjadikan orang lain sebagai imam, kecuali orang lain tersebut niat menjadi imam sejak takbiratul ihram. Hal ini karena Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">tidak berniat menjadi imam bagi Ibnu ‘Abbas. Ibnu ‘Abbas berdiri dan menjadikan beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagai imamnya. Kemudian Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melaksanakan sunnah ketika menjadi imam, yaitu memindah (makmum) dari sisi kiri ke sisi kanan imam.” </span><b>(</b><b><i>At-Tamhiid, </i></b><b>13: 210)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baaz </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata,</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada perbedaan antara shalat wajib dan shalat sunnah. Karena pada asalnya, hukum yang berlaku di antara keduanya adalah sama, kecuali jika terdapat dalil yang mengkhususkannya </span><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;">. Dan yang kami ketahui, tidak terdapat dalil yang mengkhususkan masalah ini. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam.</span></i><span style="font-weight: 400;">” </span><b>[3]</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/19710-berusaha-tidak-tertinggal-takbiratul-ihram-shalat-berjamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Berusaha Tidak Tertinggal Takbiratul Ihram Shalat Berjamaah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><b>Jika Tidak Ada Jamaah yang Masih Menyempurnakan Shalat</b></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika dia tidak mendapat seseorang yang masih shalat, maka dia boleh meminta jamaah yang sudah selesai shalat, untuk shalat (lagi) berjamaah bersamanya. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhu, </span></i><span style="font-weight: 400;">beliau menceritakan bahwa Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">melihat seseorang yang shalat sendirian. Kemudian beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>أَلَا رَجُلٌ يَتَصَدَّقُ عَلَى هَذَا فَيُصَلِّيَ مَعَهُ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidakkah ada seseorang yang bersedekah untuk orang ini dengan shalat (lagi) bersamanya?” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu ada seseorang yang berdiri dan shalat jamaah bersamanya. </span><b>(HR. Abu Dawud no. 574, shahih)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadits ini bersifat umum, untuk shalat apa saja. Artinya, meskipun setelah shalat maghrib, shalat subuh, dan shalat ‘ashar, boleh shalat lagi untuk bersedekah kepada saudaranya yang terlambat tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemungkinan lainnya adalah dia berpindah ke masjid lain yang dimungkinkan masih mendirikan shalat jamaah sehingga bisa mendapatkan shalat jamaah di masjid lain tersebut.  Di </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih Bukhari, </span></i><span style="font-weight: 400;">Imam Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan Aswad bin Yazid An-Nakha’i </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">salah seorang ulama besar tabi’in, jika beliau ketinggalan shalat jamaah di masjid, maka beliau pergi ke masjid lain yang masih belum selesai shalat jamaahnya.  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Al-Bukhari </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menyebutkan </span><i><span style="font-weight: 400;">atsar </span></i><span style="font-weight: 400;">(riwayat) ini di bawah judul bab, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Keutamaan Shalat Jama’ah”. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ibnu Hajar Al-Asqalani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan bahwa maksud Imam Bukhari adalah bahwa keutamaan shalat berjamaah itu hanya berlaku untuk yang shalat berjamaah di masjid, bukan untuk mereka yang shalat berjamaah di rumah, misalnya. Seandainya keutamaan shalat berjamaah itu bisa didapatkan di rumah, tentu Yazid akan memilih pulang dan shalat bersama keluarganya, dan tidak perlu bersusah payah mencari masjid lain untuk mencari keutamaan shalat jamaah. </span><b>[3]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, hendaknya siapa saja yang tidak mendapatkan shalat jamaah di satu masjid, dia tetap berusaha mencari pahala keutamaan shalat berjamaah, meskipun dengan mendatangi masjid lain yang kemungkinan masih shalat berjamaah. Lebih-lebih jika masjid lain itu dekat dari rumahnya. Di jaman kita ini, sudah banyak masjid dan antar masjid kadang berbeda jarak antara adzan dan iqamahnya. Sehingga masih memungkinkan untuk mendapatkan shalat jamaah di masjid lain. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu Ta’ala a’lam. </span></i><b>[4]</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/6978-adab-shalat-berjamaah-di-masjid.html" data-darkreader-inline-color="">Adab Shalat Berjamaah di Masjid</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/52861-posisi-imam-dan-makmum-dalam-shalat-jamaah.html" data-darkreader-inline-color="">Posisi Imam dan Makmum dalam Shalat Jama’ah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Selesai]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Kantor YPIA, 4 Shafar 1441/3 Oktober 2019</span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Catatan Kaki</strong></span></h2>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari no. 699 dan Muslim no. 763.</span> <span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Misalnya, terdapat dalil yang menunjukkan bahwa hukum ini hanya berlaku untuk shalat sunnah saja, dan tidak berlaku untuk shalat wajib, atau pun sebaliknya. </span></p>
<p><b>[3] </b><i><span style="font-weight: 400;">Fathul Baari, </span></i><span style="font-weight: 400;">2: 131.</span></p>
<p><b>[4] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan ini kami sarikan dari kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Ahkaam Khudhuuril Masaajid </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullah, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal. 184-185 (cetakan ke empat tahun 1436, penerbit Maktabah Daarul Minhaaj, Riyadh KSA). Kutipan-kutipan dalam tulisan di atas adalah melalui perantaraan kitab tersebut.</span></p>
 