
<h2><strong>Apa itu Tadabur?</strong></h2>
<p>Huruf dasar دبر secara bahasa menunjukkan kepada makna: <em>akhir dari sesuatu</em>. Sedangkan tadabbur (تدبر) menunjukkan kepada makna <em>memperhatikan kesudahan dari suatu perkara, dan memikirkan akibatnya.</em> Dan kata tadabbur digunakan untuk setiap bentuk merenungkan sesuatu, bagian-bagiannya, perkara yang mendahuluinya, perkara yang mengikutinya, atau akibat suatu perkara. Oleh karena itu Syaikh Al-Utsaimin <em>rahimahullah</em> mendefinisikan tadabbur sebagai berikut ini.</p>
<p style="text-align: right;">التأمل في الألفاظ للوصول إلى معانيها</p>
<p><em>“Merenungkan lafal-lafal untuk sampai kepada kandungan-kandungan maknanya”</em></p>
<p>Kata tadabbur berasal dari <em>wazan At-Tafa’ul</em> (التفعل) yang berfungsi menunjukkan kepada makna membebani perbuatan dan meraih sesuatu setelah mengerahkan usaha yang sungguh-sungguh.</p>
<p>Dengan demikian, orang yang bertadabur adalah <em>orang yang  memperhatikan suatu perkara secara berulang-ulang atau dari berbagai sisi.</em><a href="#_ftn1" name="_ftnref1"><sup>[1]</sup></a></p>
<p>Pada asalnya mentadaburi Al-Qur`an itu setelah paham maknanya, karena tidak mungkin seseorang dituntut untuk mentadaburi ucapan yang ia tidak pahami maknanya, dengan demikian mentadaburi Al-Qur`an itu pada asalnya setelah seseorang paham maknanya, atau dengan kata lain, ia paham tafsirnya, baru bisa merenungi berbagai pelajaran yang bisa diambil darinya.</p>
<h2><strong>Perintah Tadabur dalam Al-Qur`an Al-Karim</strong></h2>
<p>Didalam Al-Qur`an Al-Karim terdapat perintah untuk bertadabur di empat ayat yang agung.</p>
<p><strong>– Dua ayat diturunkan terkait dengan kaum munafiqin, yaitu</strong></p>
<p>firman Allah Ta’ala:</p>
<p style="text-align: right;">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا</p>
<p>“<em>Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an? Kalau kiranya Al-Qur`an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya” </em>(QS. An-Nisa`: 82).</p>
<p style="text-align: right;">أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا</p>
<p>“<em>Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur`an ataukah hati mereka terkunci?” </em>(QS. Muhammad: 24).</p>
<p><strong>– Dua ayat diturunkan terkait dengan kaum kafirin, yaitu:</strong></p>
<p style="text-align: right;">أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الْأَوَّلِينَ</p>
<p>“<em>Maka apakah mereka tidak merenungkan perkataan (Kami), atau apakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka dahulu?” </em>(QS. Al-Mu`minun: 68).</p>
<p style="text-align: right;">كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ</p>
<p>“<em>Ini adalah sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka merenungkan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran (yang baik)</em>” (QS. Shad: 29), kendati ayat yang terakhir ini bisa mengandung kemungkinan bahwa kaum mukminin yang diperintahkan untuk mentadaburi Al-Qur`an, yaitu ketika ayat ini dibaca dengan jenis <em>qira`ah </em>yang menggunakan kata ganti orang kedua.</p>
<p style="text-align: right;">لتدَّبَّرُوا آيَاتِهِ<a href="#_ftn2" name="_ftnref2"><strong><sup>[2]</sup></strong></a></p>
<p><em>“supaya kalian merenungi ayat-ayatnya”</em></p>
<p>Maksud <em>kalian</em> di sini adalah Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> dan pengikutnya.<a href="#_ftn3" name="_ftnref3"><sup>[3]</sup></a> Namun yang perlu diperhatikan bahwa turunnya ayat-ayat di atas, meskipun terkait dengan non-mukminin, bukan berarti kaum mukminin tidak tertuntut untuk mentadaburi Al-Qur`an, bahkan mereka lebih tertuntut untuk mentadaburi Al-Qur`an, karena merekalah orang-orang yang mau mengambil manfaat dari Al-Qur`an dengan mentadaburinya.</p>
<p>Adapun penjelasan sebelumnya di atas, sekedar menunjukkan bahwa ayat-ayat di atas diturunkan terkait dengan non mukminin, dan tidaklah menjelaskan siapa saja yang termasuk kedalam orang-orang yang diperintahkan untuk mentadaburi Al-Qur`an.</p>
<p><strong>[Bersambung]</strong></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Redaksional</span></strong></p>
<p><a href="#_ftnref1" name="_ftn1"><sup>[1]</sup></a>. Diringkas dan sisimpulkan dari <em>Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, </em>DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 185 dan Ushulun fit Tafsir, Syaikh Al-Utsaimin, hal. 23.</p>
<p><a href="#_ftnref2" name="_ftn2"><sup>[2]</sup></a>. Ini adalah qiro`ah Abu Ja’far Al-Madani, dan dinisbatkan kepada ‘Ashim [Lihat :Tafsir Ath-Thabari, dinukil dari  <em>Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, </em>DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 186].</p>
<p><a href="#_ftnref3" name="_ftn3"><sup>[3]</sup></a>. Tafsir Ath-Thabari dinukil dari  <em>Mafhumut Tafsir wat Ta`wil wal Istinbath wal Mufassir, </em>DR. Musa’id bin Sulaiman Ath-Thayyar, hal. 186.</p>
<h2>Link Artikel Berseri:</h2>
<ol>
<li><a href="https://muslim.or.id/29799-apakah-kita-termasuk-orang-yang-mentadaburi-al-quran-1.html">Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (1)</a></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/30009-apakah-kita-termasuk-orang-yang-mentadaburi-al-quran-2.html">Apakah Kita Termasuk Orang yang Mentadaburi Al-Qur`an? (2)</a></li>
</ol>
<p>***</p>
<p>Penulis: <span class=""><span class="author xt-post-author"><a title="Posts by Sa'id Abu Ukkasyah" href="https://muslim.or.id/author/abu-ukkasyah" rel="author" data-slimstat-clicked="false" data-slimstat-type="2" data-slimstat-tracking="false" data-slimstat-callback="false">Sa’id Abu Ukkasyah</a></span></span><br>
Artikel: <a href="http://muslim.or.id">Muslim.or.id</a></p>
 