
<p>Apakah puasa anak kecil itu sah?</p>
<p>Terlebih dahulu perlu dipahami bahwa anak kecil itu diajak puasa. Dalilnya adalah hadits dari Rabi binti Mu’awwid <em>radhiyallahu ‘anha</em>, ia berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">أَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم غَدَاةَ عَاشُورَاءَ إِلَى قُرَى الأَنْصَارِ الَّتِى حَوْلَ الْمَدِينَةِ : مَنْ كَانَ أَصْبَحَ صَائِمًا فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، وَمَنْ كَانَ أَصْبَحَ مُفْطِرًا فَلْيُتِمَّ بَقِيَّةَ يَوْمِهِ) ، فَكُنَّا بَعْدَ ذَلِكَ نَصُومُهُ ، وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا الصِّغَارَ مِنْهُمْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ، وَنَذْهَبُ إِلَى الْمَسْجِدِ ، فَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهَا إِيَّاهُ عِنْدَ الإِفْطَارِ</span></p>
<p>“Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> mengirim utusannya pada siang hari ‘Asyura (sepuluh Muharam) ke desa-desa kaum Anshar di sekitar Madinah untuk mengumumkan, ‘<em>Barangsiapa telah berpuasa sejak pagi hari, hendaklah dia menyempurnakan puasanya. Barangsiapa yang pagi harinya tidak berpuasa, maka hendaknya puasa pada sisa harinya</em>.’ Maka setelah itu kami berpuasa, dan kami membiasakan anak-anak kecil kami untuk berpuasa insya Allah. Kami pergi ke masjid, lalu kami buatkan untuk   mereka (anak-anak) mainan dari kapas yang berwarna. Kalau salah satu di antara mereka menangis karena (kelaparan). Kami berikan kepadanya (mainan tersebut) sampai berbuka puasa.” (HR. Bukhari, no. 1960 dan Muslim, no. 1136)</p>
<p><strong>Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/1857-memerintahkan-anak-untuk-berpuasa.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Memerintah anak untuk berpuasa</span></a></strong></p>
<p>Namun, catatan yang perlu diperhatikan adalah puasa tidaklah diwajibkan kecuali pada orang baligh dan berakal. Puasa tersebut sah dilakukan oleh anak kecil yang sudah tamyiz, yang sudah mencapai tujuh tahun. Adapun yang belum tamyiz yaitu di bawah tujuh tahun, maka tidak sah puasanya walaupun ia berpuasa. Lihat bahasan <em>Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i</em>, 2:172.</p>
<p>Semoga manfaat.</p>
<p> </p>
<p><strong>Baca juga: </strong></p>
<p><strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/24027-buku-gratis-fikih-puasa-untuk-anak-materi-parenting.html" target="_blank" rel="noopener">Silakan unduh: Buku Fikih Puasa untuk Anak</a></span></strong></p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/20163-tips-mengajak-anak-puasa-dan-bangun-shubuh.html" target="_blank" rel="noopener"><strong>Tips Mengajak Anak Puasa dan Bangun Shubuh</strong></a></span></p>
<p><a href="https://rumaysho.com/1600-apakah-anak-kecil-mendapat-pahala-amalan-sholeh.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>Apakah Anak Kecil Mendapatkan Pahala Amalan Saleh</strong></span></a></p>
<p> </p>
<h4><strong>Referensi:</strong></h4>
<p><em>Al-Mu’tamad fii Al-Fiqh Asy-Syafi’i.</em> Cetakan kelima, Tahun 1436 H. Prof. Dr. Muhammad Az-Zuhaily. Penerbit Darul Qalam.</p>
<p> </p>
<p>—</p>
<p>Selesai disusun di <a href="https://darushsholihin.com">Darush Sholihin</a>, Jumat pagi, 12 Syakban 1442 H, 26 Maret 2021</p>
<p>Oleh: <a href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p style="text-align: left;">Artikel <a href="https://rumaysho.com">Rumasyho.Com</a></p>
 