
<h4>
<b>Fatwa Syaikh Muhammad Sholeh Al-Munajjid </b><b><i>hafizhahullah</i></b>
</h4>
<p><b>Pertanyaan: </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika seseorang berwudhu` dan tidak mendapatkan siwak, apakah pasta gigi bisa menggantikannya? Apakah bisa pelakunya mendapatkan pahala perbuatan tersebut?</span></p>
<p><b>Jawaban</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillah.</span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Permasalahan pertama: Bersiwak adalah salah satu sunnah Nabi</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak (gosok gigi) adalah salah satu sunnah Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang keutamaan dan dorongan untuk melakukannya terdapat dalam beberapa hadits yang banyak jumlahnya. Adapun penjelasan tentang sebagian hukum-hukumnya telah dijelaskan di dalam jawaban dari pertanyaan no. 2577.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penjelasan keutamaan gosok gigi (siwak) dan dorongan untuk melakukannya yang terdapat dalam beberapa hadits (sebenarnya) mencakup setiap alat yang bisa digunakan untuk membersihkan gigi, jika memang dengan alat tersebut tercapai tujuan (kebersihan gigi) dan dilakukan dengan niat melaksanakan sunnah siwak (gosok gigi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Aktifitas menggosok gigi tersebut bisa dilakukan, baik dengan menggunakan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">al-arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak), ranting pohon zaitun, ranting pohon kurma maupun selainnya, termasuk pula sikat gigi yang dapat digunakan untuk menggosok dan membersihkan gigi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan sikat gigi, bisa membersihkan bagian dalam gigi dengan mudah dan ringan, dilengkapi dengan zat pembersih gigi (pasta gigi).</span></p>
<p><b>Mengapa sikat gigi sama utamanya dengan bersiwak?</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beberapa perkara berikut ini menunjukkan bahwa (penggunaan) sikat gigi (juga) memiliki keutamaan (siwak):</span></p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><b>1. Makna siwak</b></span></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahwa kalimat “siwak” secara bahasa, pada asalnya diperuntukkan untuk aktifitas menggosok gigi, tanpa memperhatikan jenis alat yang digunakan untuk menggosok gigi. Lalu disebutlah alat yang dipakai untuk gosok gigi dengan sebutan “siwak” sedangkan secara adat kata “siwak” lebih banyak digunakan untuk menyebut “ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">al-arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(yang dikenal dengan kayu siwak, pent.)”.</span></p>
<p><b>Berikut ini beberapa keterangan ulama tentang makna siwak</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Az-Zubaidi:</span></p>
<p style="text-align: right;">ساكَ الشَّيءَ يَسُوكُه سَوْكًا : دَلَكَه ، ومِنْهُ أُخِذَ المِسواكُ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Saaka asy-syai`a yasuukuhu saukan</span></i><span style="font-weight: 400;"> maknanya yaitu mengosok sesuatu. Darinya diambil kata “miswak” (alat untuk gosok gigi)”</span> <span style="font-weight: 400;">(Taajul Aruus: 27/215). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Daqiq Al-‘Id menyatakan bahwa,</span> <span style="font-weight: 400;">siwak adalah suatu istilah yang disebutkan untuk menunjukkan makna perbuatan, bentuk katanya (dalam bahasa Arab) adalah isim mashdar. Di antara dalilnya adalah hadits:</span></p>
<p style="text-align: right;">السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</p>
<p><b><i>“</i></b><i><span style="font-weight: 400;">Siwak itu membersihkan mulut dan menyebabkan</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">(didapatkannya) keridhoan Ar-Rabb (Allah</span></i><i>)” </i>[1. <span style="font-weight: 400;">HR. An Nasa-i dan Ahmad, shahih</span>].</p>
<p><span style="font-weight: 400;">Para ulama ahli fikih pun mengatakan bahwa siwak hukumnya sunnah dan tidak wajib, serta pernyataan-pernyataan selain itu yang tidak mungkin disifati dengannya kecuali sebuah perbuatan. Di samping itu kata “siwak” (juga bisa) dimaksudkan untuk makna alat yang digunakan untuk menggosok gigi</span> <span style="font-weight: 400;">(Syarhul Ilmam:1/10).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Ibnul Atsir:</span></p>
<p style="text-align: right;">“والْمِسْوَاكُ: مَا تُدْلَكُ بِهِ الأسْناَن مِنَ العِيدانِ ، يُقَالُ سَاكَ فَاه يَسُوكُهُ : إِذَا دَلَكه بالسِّواك”</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-Miswak adalah alat yang digunakan untuk menggosok gigi berupa ranting (misalnya, pent.). Seseorang itu dikatakan </span></i><i><span style="font-weight: 400;">saaka faahu yasuukuhu</span></i><i><span style="font-weight: 400;"> jika ia menggosok giginya dengan siwak </span></i><span style="font-weight: 400;">(An-Nihayah fi gharibil Hadits wal Atsar: 2/425).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Imam An-Nawawi:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">السِّوَاك: هُوَ اسْتِعْمَال عود، أَو نَحوه، فِي الْأَسْنَان لإِزَالَة الْوَسخ، وَهُوَ من ساك، إِذا دلك، وَقيل من التساوك، وَهُوَ التمايل</span><span style="font-weight: 400;"></span></p>
<p></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran. Kata ini berasal dari kata“ saaka” jika dia menggosok (gigi). Ada pula yang mengatakan “Diambil dari kata “At-Tasaawuk” yaitu At-Tamaayul.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Tahriru Alfaazhit Tanbih, hal. 33). </span></p>
<p><b>Maka (kesimpulannya):</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siwak (gosok gigi) itu bukan terbatas pada (menggunakan) ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak) sebagaimana dipahami oleh sebagian orang, bahkan (sebenarnya) siwak adalah sebuah istilah bagi  aktifitas gosok gigi dan membersihkannya dengan alat apapun  juga, mencakup ranting apapun juga yang bisa digunakan untuk membersihkan gigi. Ahli bahasapun tidak membatasi siwak dengan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak).</span></p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><b>2. Nabi </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></b><b> tidak hanya menggunakan ranting pohon </b><b><i>Al-Arok</i></b><b> (kayu siwak) saja</b></span></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> tidak membatasi diri  dalam menggosok gigi dengan menggunakan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span><i><span style="font-weight: 400;">Arok</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kayu siwak) saja. Selain menggunakan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span><i><span style="font-weight: 400;">Arok</span></i><span style="font-weight: 400;">  beliau juga menggunakan ranting pohon yang lainnya. Di antara dalil yang menyebutkan bahwa beliau menggosok gigi dengan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al</span></i><span style="font-weight: 400;">–</span><i><span style="font-weight: 400;">Arok</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kayu siwak) adalah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">كُنْتُ أَجْتَنِي لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِوَاكًا مِنَ الْأَرَاكِ…</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Saya dulu pernah mengambilkan kayu siwak dari pohon Al-Arok  untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad (3991), Abu Ya’la Al-Mushili dalam musnadnya (9/209) dan ini adalah lafadz beliau. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun juga</span> <span style="font-weight: 400;">menggosok gigi dengan ranting dari pohon kurma (Adapun dalilnya adalah riwayat) dari Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha, </span></i><span style="font-weight: 400;">berkata</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">” تُوُفِّيَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَيْتِي ، وَفِي يَوْمِي ، وَبَيْنَ سَحْرِي وَنَحْرِي، وَكَانَتْ إِحْدَانَا تُعَوِّذُهُ بِدُعَاءٍ إِذَا مَرِضَ ، فَذَهَبْتُ أُعَوِّذُهُ ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، وَقَالَ: (فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ، فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى). وَمَرَّ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ وَفِي يَدِهِ جَرِيدَةٌ رَطْبَةٌ ، فَنَظَرَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَظَنَنْتُ أَنَّ لَهُ بِهَا حَاجَةً ، فَأَخَذْتُهَا، فَمَضَغْتُ رَأْسَهَا، وَنَفَضْتُهَا، فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهِ، فَاسْتَنَّ بِهَا كَأَحْسَنِ مَا كَانَ مُسْتَنًّا ، ثُمَّ نَاوَلَنِيهَا، فَسَقَطَتْ يَدُهُ، أَوْ: سَقَطَتْ مِنْ يَدِهِ ، فَجَمَعَ اللَّهُ بَيْنَ رِيقِي وَرِيقِهِ فِي آخِرِ يَوْمٍ مِنَ الدُّنْيَا، وَأَوَّلِ يَوْمٍ مِنَ الآخِرَةِ “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat di rumahku, pada hari giliran yang menjadi jatahku dan (kepala beliau bersandar) di antara dada dan leherku.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Salah seorang dari kami dahulu terbiasa membacakan do’a kepada beliau ketika beliau sakit. Lalu aku pun mendoakannya. Kemudian beliau mengangkat kepala (pandangan)nya ke atas dan mengucapkan, </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ، فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-teman yang terbaik di Surga yang tertinggi, Ya Allah, jadikanlah aku bersama dengan golongan teman-teman yang terbaik di Surga yang tertinggi</span></i><span style="font-weight: 400;">“.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Abdurrahman bin Abu Bakr masuk sedangkan di tangannya ada ranting kayu siwak dari pohon kurma yang masih basah. Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">pun menatapnya, saya menyangka beliau membutuhkan siwak tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka aku mengambilnya, mengunyah ujungnya dan mengibas-ngibaskannya, kemudian akupun menyerahkannya kepada beliau. Kemudian beliau menggosok gigi menggunakan ranting tersebut, dengan sebaik-baik cara bersiwak yang pernah beliau lakukan. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Setelah itu beliau memberikannya kepadaku, namun tangannya terjatuh atau ranting kayu siwak dari pohon kurma tersebut jatuh dari tangannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka Allah mengumpulkan antara air liurku dengan air liur beliau pada hari-hari terakhir beliau di Dunia dan pada hari-hari pertama di Akhirat kelak” (HR. Al-Bukhari no. 4451).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jaridah adalah ranting pohon kurma</span></i><span style="font-weight: 400;">“. (<em>Thalabuth Thalabah</em>, hal. 161).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Al-Fayumi: “</span><i><span style="font-weight: 400;">Jarid adalah ranting pohon kurma. Kata tunggalnya adalah jaridah. Dinamakan dengan jaridah (artinya: sesuatu yang dihilangkan, pent.) jika dihilangkan darinya daun yang melekat padanya </span></i><span style="font-weight: 400;">(Al-Mishbah Al-Munir: 1/96).</span></p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><b>3. Nabi </b><b><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i></b><b> tidak pernah membatasi bersiwak dengan ranting kayu tertentu kepada para Sahabat </b><b><i>radhiyallahu ‘anhum</i></b></span></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika memerintahkan siwak (gosok gigi), tidaklah pernah membatasi dengan ranting kayu tertentu kepada para Sahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anhum </span></i><span style="font-weight: 400;">untuk diambil (sebagai sikat gigi) darinya. Dahulu bangsa Arab menggosok gigi dengan berbagai macam ranting (untuk sikat gigi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Bayan wat Tabayyun</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya</span> <span style="font-weight: 400;">Syaikh Al-Jahizh (3/77) :</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">قضبان المساويك : البشام، والضّرو، والعُتم والأراك، والعرجون، والجريد، والإسحل (وكلها أسماء أشجار معروفة عند العرب).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ranting-ranting kayu untuk gosok gigi (contohnya) Al-Basyam, Adh-dhorwu, Al-Utumu, Al-Arok, Al-‘Urjun, Al-Jarid, dan Al-Ishal”</span> <span style="font-weight: 400;">(Semuanya adalah nama-nama pohon yang dikenal oleh bangsa Arab) (Lihat pula: </span><i><span style="font-weight: 400;">Musykilat Muwaththa` Malik bin Anas </span></i><span style="font-weight: 400;">karya Al-Bathliyusi, hal. 72).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abdil Barr menyatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَكَانَ سِوَاكُ الْقَوْمِ: الْأَرَاكَ ، وَالْبَشَامَ ، وَكُلَّ مَا يَجْلُو الْأَسْنَانَ وَلَا يُؤْذِيهَا وَيُطَيِّبُ نَكْهَةَ الفم: فجائز الاستنان به</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dahulu ranting kayu untuk gosok gigi bagi kaum (bangsa Arab) adalah  </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok</span></i><span style="font-weight: 400;">,  Al-Basyam dan segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi, tidak menyakitinya, bahkan mengharumkan bau mulut, maka semua itu boleh dipakai untuk menggosok gigi. (<em>Al-Istidzkar</em>: 1/365).</span></p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><b>4. Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi bersiwak dengan ranting kayu tertentu dalam membahas fikih tentang siwak di kitab-kitab mereka</b></span></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Para Ahli Fikih tidak pernah membatasi hukum bersiwak dengan ranting kayu </span><i><span style="font-weight: 400;">al-arok, </span></i><span style="font-weight: 400;">bahkan mereka menyebutkan bahwa bersiwak bisa terwujud dengan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk membersihkan mulut (gigi), baik berupa ranting yang kaku (bukan lembek) dan yang semisalnya. </span><span style="font-weight: 400;">Ibnu Abdil Barr menuturkan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَالسِّوَاكُ الْمَنْدُوبُ إِلَيْهِ : هُوَ الْمَعْرُوفُ عِنْدَ الْعَرَبِ ، وَفِي عَصْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَكَذَلِكَ الْأَرَاكُ وَالْبَشَامُ ، وَكُلُّ مَا يَجْلُو الْأَسْنَانَ.</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">(Ranting kayu) siwak yang disunnahkan adalah (ranting kayu) yang dikenal di kalangan bangsa Arab dan dikenal di zaman Nabi</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demikian pula (ranting kayu) Al-Arok, Al-Basyam dan segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhid </span></i><span style="font-weight: 400;">(7/201)).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga berkata:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَكُلُّ مَا جَلَا الْأَسْنَانَ ، وَلَمْ يُؤْذِهَا ، وَلَا كَانَ مِنْ زِينَةِ النِّسَاءِ : فَجَائِزٌ الِاسْتِنَانُ بِهِ </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Segala sesuatu yang bisa membersihkan gigi dan tidak menyakitinya, maka boleh dipakai untuk menggosok gigi </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">At-Tamhid </span></i><span style="font-weight: 400;">11:213).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">” وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَاكَ بِعُودٍ من أراك، وبأي شئ اسْتَاكَ، مِمَّا يُزِيلُ التَّغَيُّرَ: حَصَلَ السِّوَاكُ ، كَالْخِرْقَةِ الْخَشِنَةِ، وَالسَّعْدِ، وَالْأُشْنَانِ “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Disunnahkan bersiwak dengan ranting dari pohon Al-Arok dan dengan segala sesuatu yang bisa digunakan untuk bersiwak berupa sesuatu yang bisa menghilangkan perubahan (bau mulut), maka (hakekatnya dengan itu) sudah diperoleh sunnah bersiwak. (Alat yang bisa digunakan bersiwak tersebut) misalnya secarik kain yang kasar, ranting tumbuhan As-Sa’du dan Al-Asynan</span></i><span style="font-weight: 400;"> (</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhu Shahih Muslim </span></i><span style="font-weight: 400;">(3/143)).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Al-‘Iraqi menyatakan: </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">وَأَصْلُ السُّنَّةِ تَتَأَدَّى بِكُلِّ خَشِنٍ يَصْلُحُ لِإِزَالَةِ الْقَلَحِ [أي صفرة الأسنان].</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Pada asalnya Sunnah (dalam masalah bersiwak) adalah bisa terlaksana dengan segala benda kaku yang cocok untuk membersihkan kotoran gigi (yaitu kotoran gigi yang biasanya berwarna kuning) </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Tharhu At-Tatsrib </span></i><span style="font-weight: 400;">(2/67)).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">” وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَكُونَ السِّوَاكُ عُودًا لَيِّنًا يُطَيِّبُ الْفَمَ وَلَا يَضُرُّهُ ، وَلَا يَتَفَتَّتُ فِيهِ ، كَالْأَرَاكِ وَالزَّيْتُونِ وَالْعُرْجُونِ “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Disunnahkan alat untuk bersiwak (gosok gigi) berupa ranting lembut yang mengharumkan bau mulut (membersihkannya) dan tidak membahayakannya serta tidak mudah terlepas (serabutnya), seperti kayu Al-Arok, Az-Zaitun dan Al-‘Urjun </span></i><span style="font-weight: 400;">(Syarhu Umdatul Fiqhi: 1/221).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Syaikh Ibnu ‘Utsaimin:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ويحصل الفضل بعود الأراك، أو بغيره من كل عود يشابهه</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Keutamaan bersiwak bisa didapatkan dengan menggunakan ranting kayu Al-Arok (kaya siwak) atau dengan selainnya dari setiap ranting yang semisalnya </span></i><span style="font-weight: 400;">(</span><i><span style="font-weight: 400;">Syarhu Riyadhish Shalihin: </span></i><span style="font-weight: 400;">5/226)</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan tidak ada seorangpun dari ulama -sebatas yang kami ketahui- yang mengatakan bahwa bersiwak itu hanya dengan ranting kayu </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak) saja, bahkan pernyataan-pernyataan mereka itu cukup banyak yang menunjukkan bahwa bersiwak itu bisa dilakukan dengan menggunakan </span><b>selain </b><span style="font-weight: 400;">ranting kayu selain </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak) juga, yang dengannya bisa tercapai maksud (kebersihan gigi).</span></p>
<h5><span style="color: #0000ff;"><b>5. Bersiwak adalah ibadah yang terkait dengan alasan (tujuan), sehingga bisa terlaksana dengan setiap alat yang mubah dan cocok untuk mencapai tujuan tersebut</b></span></h5>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahwa bersiwak </span><b>bukanlah</b><span style="font-weight: 400;"> tergolong kedalam jenis ibadah yang murni, akan tetapi bersiwak adalah jenis ibadah yang bisa dipahami maknanya (alasan disyari’atkannya). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maksud disyari’atkannya bersiwak adalah untuk membersihkan gigi dan mengharumkan bau mulut, sedangkan ini terealisasi dengan setiap alat (mubah) yang bisa digunakan untuk mencapai maksud tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bertutur:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ” وَلِأَنَّ السِّوَاكَ إِنَّمَا شُرِعَ لِتَطْيِيبِ الْفَمِ وَتَطْهِيرِهِ وَتَنْظِيفِهِ “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Karena siwak disyari’atkan untuk mengharumkan (bau)mulut, membersihkan dan mengeluarkan kotorannya. </span></i><span style="font-weight: 400;">[Syarhu Umdatul Fiqhi :1/218].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan penjelasan di atas, nampak jelas bahwa:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Keutamaan yang dijanjikan dalam dalil-dalil Syari’at tentang bersiwak (pada asalnya) adalah terkait dengan aktifitas bersiwaknya (membersihkan gigi) dan bukanlah terkait dengan alat untuk bersiwaknya. Maka keutamaan tersebut (pada asalnya) bukan terkait dengan ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak)nya, namun keutamaan itu  terkait dengan aktifitas membersihkan mulut dan gigi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Aunul Ma’bud </span></i><span style="font-weight: 400;">(1/46):</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">” وَهُوَ يُطْلَقُ عَلَى : الفعل والآلة ، والأول هو المراد ها هنا “</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Kata tersebut (Siwak) diperuntukkan untuk menunjukkan makna perbuatan dan alat sekaligus, sedangkan untuk makna yang pertama (perbuatan) itulah yang dimaksud di sini.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Maksud dari perkataan “di sini”) yaitu:  di dalam hadits-hadits tentang keutamaan bersiwak dan dorongannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh  Ibnu ‘Utsaimin ditanya: </span><span style="font-weight: 400;">“Apakah menggunakan pasta gigi (dan sikat gigi, pent.) bisa mewakili kayu siwak (ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok</span></i><span style="font-weight: 400;">)?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan apakah orang yang menggunakannya (sikat &amp; pasta gigi) dengan niat membersihkan mulut akan diberi pahala? Maksud (saya): Apakah  sepadan dengan pahala kayu siwak, yang dengan pahala tersebut Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menyemangati orang yang membersihkan giginya? ”                            </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">Rahimahullah Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menjawab,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">” نعم ؛ استعمال الفرشاة والمعجون يغني عن السواك ، بل وأشد منه تنظيفاً وتطهيراً ، فإذا فعله الإنسان حصلت به السنة ؛ لأنه ليس العبرة بالأداة ، العبرة بالفعل والنتيجة ، والفرشاة والمعجون يحصل بها نتيجة أكبر من السواك المجرد .</span><span style="font-weight: 400;"><br>
</span><span style="font-weight: 400;">لكن هل نقول إنه ينبغي استعمال المعجون والفرشاة كلما استحب استعمال السواك ، أو نقول إن هذا من باب الإسراف والتعمق ، ولعله يؤثر على الفم برائحة أو جرح أو ما أشبه ذلك ؟ هذا ينظر فيه ” </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ya benar, menggunakan sikat dan pasta gigi bisa mewakili kayu siwak, bahkan lebih mampu membersihkan dan mengeluarkan kotoran gigi, maka jika seseorang gosok gigi dengan sikat gigi (itu berarti) sudah terlaksana Sunnah (bersiwak) dengannya, karena yang dijadikan patokan bukanlah  alat untuk bersiwaknya, namun yang dijadikan patokan adalah perbuatan dan hasilnya. Sedangkan sikat dan pasta gigi bisa menghasilkan hasil (kebersihan gigi &amp; keharuman bau mulut, pent.) yang lebih maksimal dibandingkan dengan kayu siwak saja.</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi apakah bisa kita katakan bahwa penggunaan sikat dan pasta gigi itu sebaiknya ketika setiap kali disunnahkan penggunaan kayu siwak? Atau justru hal ini tergolong melampaui batas dan berlebih-lebihan? (karena) barangkali berdampak  pada mulut, baik berupa bau, luka atau semisalnya? Ini perlu pembahasan (lebih lanjut).</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Nur ‘alad-Darb lil ‘Utsaimin </span></i><span style="font-weight: 400;">:2/7, penomoran maktabah Syamilah].</span></p>
<p> </p>
<h4><span style="color: #ff0000;"><b>Permasalahan Kedua: </b><b>Kayu siwak memiliki keistimewaan tersendiri!</b></span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">(Meskipun) telah disebutkan bahwa menggosok gigi dengan menggunakan sikat gigi itu sudah termasuk melakukan Sunnah siwak dan mendapatkan pahala  jika diiringi dengan niat ibadah, hanya saja, bersiwak dengan menggunakan ranting pohon Al-Arak (kayu siwak</span><span style="font-weight: 400;">) tetap memiliki keistimewaan (tersendiri), berupa mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Keistimewaan tersebut yaitu) bahwa kayu siwak dahulu paling banyak digunakan oleh mereka, ditambah lagi mudah dibawa dan dipindah-pindah di segala tempat dan kondisi. Dan hal itu telah menjadi kebiasaan tanpa ada yang mengingkarinya serta tidaklah hal itu terhitung ‘nyeleneh’. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lain halnya dengan sikat gigi yang sulit jika digunakan pada setiap saat, karena sikat gigi tersebut membutuhkan tempat tersendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Disebutkan dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">(4/140):</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ” اتَّفَقَ فُقَهَاءُ الْمَذَاهِبِ الأْرْبَعَةِ عَلَى أَنَّ أَفْضَلَهُ جَمِيعًا : الأْرَاكُ ، لِمَا فِيهِ مِنْ طِيبٍ ، وَرِيحٍ ، وَتَشْعِيرٍ يُخْرِجُ وَيُنَقِّي مَا بَيْنَ الأْسْنَانِ ” </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Ulama Ahli Fikih dari keempat madzhab sepakat bahwa alat siwak yang paling utama dari seluruh alat siwak yang ada yaitu: ranting pohon Al-Arok, karena didalamnya terdapat kebaikan, keharuman bau dan berserabut yang bisa mengeluarkan dan membersihkan kotoran yang terdapat di sela-sela gigi.  </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ibnu Allan menyatakan:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ” وأولاه : الأراك ؛ للاتباع ، مع ما فيه من طيب طعم وريح ، وشعيرة لطيفة تنقي ما بين الأسنان ، ثم بعده النخل ؛ لأنه آخر سواك استاك به صلى الله عليه وسلم” </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Yang paling baik adalah ranting pohon Al-Arok (kayu siwak) karena mengikuti (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), diiringi dengan kesegaran rasa dan keharuman bau serta serabut yang lembut</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">membersihkan kotoran yang terdapat di sela-sela gigi, kemudian (urutan yang berikutnya adalah) ranting pohon kurma, sebab ranting pohon kurma tersebut adalah ranting siwak yang terakhir kali dipakai bersiwak oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">[</span><i><span style="font-weight: 400;">Dalilul Falihin </span></i><span style="font-weight: 400;">(6/658)].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berkata Syaikh Athiyyah Muhammad Salim:</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> ” إذا نظرنا إلى الغرض من استعمال السواك ، وهو كما في الحديث : ( مطهرة للفم مرضاة للرب ) فأي شيء طهَّر الفم فإنه يؤدي المهمة ، ولكن ما كان عليه السلف فهو أولى وأصح طبياً ” </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Jika kita perhatikan tujuan penggunaan kayu siwak, yaitu sebagaimana disebutkan dalam hadits :</span></p>
<p style="text-align: right;">السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ</p>
<p><b><i>“</i></b><i><span style="font-weight: 400;">Siwak adalah membersihkan mulut dan menyebabkan</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">(didapatkannya) keridhoan Ar-Rabb (Allah</span></i><b><i>)”</i></b> <span style="font-weight: 400;">, maka dengan alat (mubah) apapun yang bisa membersihkan mulut, itu berarti telah memenuhi tujuan tersebut, namun perkara yang menjadi Sunnah Salafush Sholeh itu lebih utama dan lebih bagus secara medis”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[<em>Syarhu Bulughil Maram</em> (5/13), dengan penomoran maktabah Syamilah].</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk penjelasan tambahan, silahkan baca jawaban pertanyaan no. 115282, di dalamnya terdapat beberapa faedah yang bermanfa’at tentang ranting pohon </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Arok </span></i><span style="font-weight: 400;">(kayu siwak). </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p>***</p>
<p>Sumber: <a href="http://Islamqa.info/ar/219510">Islamqa.info/ar/219510</a></p>
<p>Penerjemah: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
 