
<p><span style="font-weight: 400;"><a href="https://muslim.or.id/1294-syarah-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah-01.html">Aqidah ahlus sunnah</a> adalah aqidah Islam yang shahih, yang dibangun berdasarkan <a href="https://muslim.or.id/19111-makna-as-sunnah.html">Al-Qur’an dan As-Sunnah,</a> sebagaimana yang dipahami oleh generasi terbaik umat ini, yaitu generasi shahabat </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu Ta’ala ‘anhum. </span></i><span style="font-weight: 400;">Aqidah ahlus sunnah dicirikan dengan sikap pertengahan </span><i><span style="font-weight: 400;">(wasathun </span></i><span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">wasathiyyah). </span></i><span style="font-weight: 400;">Yang dimaksud dengan </span><i><span style="font-weight: 400;">wasathun </span></i><span style="font-weight: 400;">(pertengahan) adalah </span><b>aqidah moderat, adil, pilihan, dan aqidah terbaik (bukan asal moderat tapi sesat),</b> <b>di antara dua kutub ekstrim aqidah yang menyimpang,</b><span style="font-weight: 400;"> namun mereka nisbatkan aqidah menyimpang mereka tersebut kepada agama Islam. Padahal Islam tidak pernah mengajarkan yang demikian dan juga berlepas diri aqidah-aqidah yang menyimpang tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam berbagai permasalahan bab aqidah, aqidah ahlus sunnah adalah <a href="https://muslim.or.id/10014-sikap-pertengahan-dalam-beragama.html">aqidah pertengahan</a> antara dua kutub esktrim yang menyimpang dari jalan yang lurus. Kutub ekstrim pertama adalah mereka yang berlebih-lebihan (</span><i><span style="font-weight: 400;">ghuluw </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">ifrath</span></i><span style="font-weight: 400;">) dalam agama. Sedangkan kutub ekstrim kedua adalah mereka yang bersikap meremehkan perkara agama (</span><i><span style="font-weight: 400;">tafrith</span></i><span style="font-weight: 400;">). Maka aqidah ahlus sunnah adalah aqidah yang haq, aqidah yang shahih, aqidah yang pertengahan, aqidah yang terbaik dan adil, dan berada di antara dua kutub ekstrim penyimpangan, yaitu kutub </span><i><span style="font-weight: 400;">ifrath </span></i><span style="font-weight: 400;">dan kutub </span><i><span style="font-weight: 400;">tafrith. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam tulisan serial ini, akan kami jelaskan sisi pertengahan aqidah ahlus sunnah dalam lima perkara pokok aqidah:</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/25086-ada-apa-dengan-wahabi.html" data-darkreader-inline-color="">Ada Apa dengan Wahabi?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pokok pertama: dalam masalah ibadah</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ibadah, ahlus sunnah berada di tengah antara kelompok </span><b><i>Syi’ah Rafidhah</i></b><span style="font-weight: 400;"> di satu sisi dan kelompok </span><strong><i>Daruuz</i> dan </strong><i><span style="font-weight: 400;"><strong>Nushairiyyin</strong>, </span></i><span style="font-weight: 400;">di sisi yang lainnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><a href="https://muslim.or.id/25664-mengenal-syiah-antara-syiah-dan-rafidhah.html">Penyimpangan Rafidhah</a> adalah berlebih-lebihan dalam ibadah kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Yaitu dengan beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan berdzikir dan juga </span><i><span style="font-weight: 400;">tawassul </span></i><span style="font-weight: 400;">yang tidak disyariatkan. Mereka juga berlebihan dalam ibadah dari sisi membuat-buat berbagai perayaan (hari besar atau hari ‘id) yang bid’ah, yang tidak Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ajarkan. Sebagaimana kita ketahui, yang pertama kali merintis dan mempelopori perayaan maulid Nabi, yang kemudian diikuti oleh orang-orang selain mereka. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Selain itu, mereka bersikap </span><i><span style="font-weight: 400;">ghuluw </span></i><span style="font-weight: 400;">terhadap orang-orang yang mereka anggap shalih, yaitu dengan membuat bangunan megah di atas kubur mereka, shalat di sisi kubur, thawaf mengelilingi kubur tersebut </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;">, dan juga menyembelih binatang sembelihan untuk penghuni kubur tersebut </span><b>[2]</b><span style="font-weight: 400;">. Orang Syi’ah Rafidhah adalah pelopor dan terdepan dalam membuat bangunan, termasuk masjid, di atas kubur.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/25943-mengaku-salafi-namun-realitanya-tidak-bermanhaj-salaf.html" data-darkreader-inline-color="">Mengaku Salafi, Namun Realitanya Tidak Bermanhaj Salaf</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, sikap berlebih-lebihan dalam ibadah kaum </span><i><span style="font-weight: 400;">Rafidhah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah dengan menyembah para penghuni kubur, dengan menunjukkan berbagai bentuk peribadatan kepada mereka, baik berupa sembelihan dan doa permohonan untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau tercegah dari mara bahaya yang mereka khawatirkan. Intinya, Rafidhah adalah kelompok yang bersemangat dalam ibadah kepada Allah <em>Ta’ala,</em> sampai-sampai mereka beribadah kepada Allah dengan bentuk ibadah yang tidak pernah disyariatkan alias bid’ah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di sisi yang lainnya, adalah kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">Daruuz </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Nushairiyyin, </span></i><span style="font-weight: 400;">mereka ini juga disebut dengan kelompok </span><b><i>‘Alawiyyin.</i></b> <span style="font-weight: 400;">Dua kelompok ini dijumpai di negeri Syam, yaitu Suriah, Libanon, dan Palestina. Di antara aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">Nushairiyyin </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah mereka mempertuhankan ‘Ali bin Abi Thalib. Sedangkan di antara aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">Daruuz </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah mereka mempertuhankan seseorang bernama Al-Hakim Biamrillah Al-‘Ubaidi. Para ulama menyebut dua kelompok telah keluar dari Islam (murtad), meskipun mereka mengaku sebagai muslim.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penyimpangan mereka adalah mereka tidak mau beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sama sekali. Atau dengan kata lain, mereka tinggalkan semua bentuk ibadah kepada Allah <em>Ta’ala.</em> Jadilah mereka tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat, tidak berhaji, dan seterusnya dari ibadah-ibadah yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak punya semangat ibadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sama sekali.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/28366-mencela-pemimpin-ciri-khas-kelompok-khawarij.html" data-darkreader-inline-color="">Mencela Pemimpin, Ciri Khas Kelompok Khawarij</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ahlus sunnah, mereka beribadah kepada Allah <em>Ta’ala</em> sesuai dengan syariat yang telah Allah <em>Ta’ala</em> tetapkan dalam Al-Qur’an dan telah Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">ajarkan dalam As-Sunnah. Mereka tidaklah meninggalkan berbagai kewajiban ibadah yang telah Allah <em>Ta’ala</em> dan Rasul-Nya wajibkan. Namun, mereka tidaklah membuat-buat bentuk ibadah berdasarkan inovasi dan kreasi akal mereka sendiri. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang membuat-buat perkara baru dalam urusan (agama) kami, yaitu perkara yang tidak ada asal-usulnya dari ajaran kami, maka perkara tersebut tertolak.” </span><b>(HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam riwayat Muslim disebutkan, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang veramal dengan suatu amal yang tidak ada tuntunannya dari kami, maka amal tersebut tertolak.” </span><b>(HR. Muslim no. 1718)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikianlah, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">senantiasa mengingatkan pokok dan prinsip yang agung ini di setiap khutbah atau ceramah beliau dengan mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Amma ba’du. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya sebaik-baik ucapan adalah kitabullah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Sejelek-jelek perkara adalah perkara-perkara yang diada-adakan (dalam agama). Dan setiap bi’dah adalah kesesatan.” </span><b>(HR. Muslim no. 867)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara prinsip ahlus sunnah adalah amal yang sedikit namun sesuai dengan sunnah (petunjuk) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">itu lebih utama daripada memperbanyak amal ibadah namun terjerumus ke dalam perkara bid’ah dalam agama. Sebagaimana dalam sebuah prinsip yang masyhur,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إصابة السنة أفضل من كثرة العمل</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Mengikuti sunnah itu lebih utama daripada memperbanyak amal.”</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/40291-mengeluarkan-zakat-fitri-lebih-awal.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Mengeluarkan Zakat Fitri Lebih Awal?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/39878-mengenal-pokok-pokok-aqidah-kaum-khawarij-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum Khawarij</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 27 Rajab 1440/3 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color=""> M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Jika tujuan shalat dan thawaf tersebut adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka ini bid’ah. Jika ditujukan untuk penghuni kubur, maka ini syirik akbar.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Ini syirik akbar. Jika ditujukan kepada Allah, namun lebih mantap jika disembelih di samping kubur, maka ini bid’ah.</span></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 14-15;</span> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">(cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H).</span></p>
 