
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46549-aqidah-pertengahan-ahlus-sunnah-di-antara-berbagai-kelompok-yang-menyimpang-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 1)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pokok kedua: Dalam masalah nama dan sifat Allah Ta’ala</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah ini, <a href="https://muslim.or.id/1641-syarah-aqidah-ahlussunnah-wal-jamaah-10.html">aqidah ahlus sunnah</a> bersifat pertengahan di antara kelompok </span><b><i>mu’athilah</i></b> <span style="font-weight: 400;">(kelompok yang menolak nama dan sifat Allah <em>Ta’ala)</em> di satu sisi, dan kelompok </span><b><i>mumatsilah</i></b> <span style="font-weight: 400;">atau </span><b><i>musyabbihah</i></b> <span style="font-weight: 400;">(kelompok yang menetapkan sifat Allah <em>Ta’ala</em> namun kemudian diserupakan dengan sifat makhluk), di sisi yang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’athilah </span></i><span style="font-weight: 400;">ini ada berbagai jenisnya. Yang paling parah adalah <a href="https://muslim.or.id/39297-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-08.html">kelompok </a></span><b><i><a href="https://muslim.or.id/39297-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-08.html">Jahmiyyah</a>,</i></b> <span style="font-weight: 400;">yang menolak seluruh nama dan sifat Allah <em>Ta’ala.</em> Sehingga menurut Jahmiyyah, Allah <em>Ta’ala</em> adalah semata-mata Dzat, tanpa nama dan tanpa sifat. Kemudian disusul dengan kelompok </span><b>Mu’tazilah,</b><span style="font-weight: 400;"> mereka menetapkan nama untuk Allah <em>Ta’ala,</em> namun mereka menolak semua sifat Allah <em>Ta’ala.</em> Jadilah mereka menetapkan nama yang kosong dari makna (sifat) untuk Allah <em>Ta’ala.</em> Allah <em>Ta’ala</em> memiliki nama </span><i><span style="font-weight: 400;">As-Samii’, </span></i><span style="font-weight: 400;">namun tidak memiliki sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">as-sam’u </span></i><span style="font-weight: 400;">(mendengar), misalnya. Inilah aqidah mu’tazilah.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/13184-ritual-sesat-menghadapi-ujian-akhir-nasional.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Ritual Sesat Menghadapi Ujian Akhir Nasional</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk dalam kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’athilah </span></i><span style="font-weight: 400;">ini adalah </span><a href="https://muslim.or.id/10705-bermadzhab-syafii-berakidah-asyari.html"><b><i>Asya’irah (Asy’ariyyah)</i></b> </a><span style="font-weight: 400;">dan </span><b><i>Al-Maturidiyyah,</i></b> <span style="font-weight: 400;">yaitu mereka yang menolak mayoritas sifat-sifat Allah <em>Ta’ala,</em> dan hanya menetapkan sebagian sifat saja. Akan tetapi sayangnya, mereka menetapkan sebagian sifat (yaitu, tujuh sifat saja) untuk Allah <em>Ta’ala</em> tersebut bukan berdasarkan dalil wahyu Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun berdasarkan tuntutan akal mereka yang lemah dan terbatas </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;">. Karena prinsip aqidah mereka adalah lebih mendahulukan akal logika, dibandingkan dengan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Mereka timbang dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut akal logika mereka. Jika dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu sesuai dengan logika akal mereka, mereka pun menerimanya. Sebaliknya, jika dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu tidak sesuai (bertentangan) dengan logika akal mereka, mereka pun menolaknya atau mereka simpangkan maknanya (mentakwil) sesuai dengan keinginan hawa nafsu mereka. Lalu mereka klaim bahwa takwil yang mereka lakukan itu adalah dalam rangka mensucikan sifat Allah <em>Ta’ala</em> </span><i><span style="font-weight: 400;">(tanzih) </span></i><span style="font-weight: 400;">dari penyerupaan terhadap sifat makluk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dengan pokok aqidah mereka tersebut, </span><a href="https://muslim.or.id/38717-sifat-kalam-antara-aqidah-ahlus-sunnah-jahmiyyah-dan-asyariyyah-01.html"><i><span style="font-weight: 400;">Asy’ariyyah </span></i></a><span style="font-weight: 400;">pun menolak sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">al-‘uluw </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">istiwa’ </span></i><b>[2]</b><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">sifat tangan </span><i><span style="font-weight: 400;">(yadain), </span></i><span style="font-weight: 400;">sifat cinta </span><i><span style="font-weight: 400;">(mahabbah), </span></i><span style="font-weight: 400;">dan seterusnya. Ini semua karena prinsip mereka tersebut yang menjadikan akal logika sebagai dasar utama, sedangkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah itu diletakkan sebagai sesuatu yang mengikuti jalan dan alur berpikir logika akal mereka. Sampai-sampai tokoh mereka mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وكل نص أوهم التشبيها … أوله أو فوض ورم تنزيها</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Setiap dalil yang menimbulkan prasangka adanya </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybih </span></i><span style="font-weight: 400;">(penyerupaan dengan sifat makhluk), maka takwil-lah dalil tersebut atau </span><i><span style="font-weight: 400;">tafwidh-</span></i><span style="font-weight: 400;">kan (kosongkan maknanya), dan maksudkanlah dengan perbuatan tersebut untuk melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">tanzih </span></i><span style="font-weight: 400;">(mensucikan Allah dari penyerupaan terhadap makhluk).”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/45909-tidak-boleh-meyakini-kafirnya-orang-yahudi-dan-nashrani.html" data-darkreader-inline-color="">Tidak Boleh Meyakini Kafirnya Orang Yahudi dan Nashrani?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di kutub ekstrim yang kedua, adalah kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">mumatsilah (musyabbihah), </span></i><span style="font-weight: 400;">yaitu mereka yang menetapkan sifat-sifat untuk Allah <em>Ta’ala,</em> namun kemudian disamakan (diserupakan) dengan sifat makhluk. Seperti ucapan mereka, “Tangan Allah adalah sebagaimana tanganku”; atau “Pendengaran Allah adalah sebagaimana pendengaranku”; dan seterusnya. Maha suci Allah <em>Ta’ala</em> dari ucapan dan perkataan keji semacam itu. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sehingga jadilah aqidah ahlus sunnah sebagai aqidah pertengahan di antara kedua kelompok ekstrim tersebut. Yaitu, ahlus sunnah beriman terhadap semua nama dan sifat Allah <em>Ta’ala</em> yang terdapat dalam dalil-dalil syar’i (Al-Kitab dan As-Sunnah). Ahlus sunnah menetapkan sifat untuk Allah <em>Ta’ala</em> sesuai dengan sifat yang telah Allah <em>Ta’ala</em> tetapkan untuk diri-Nya sendiri, atau sesuai dengan sifat yang telah ditetapkan oleh manusia yang paling mengenal Allah <em>Ta’ala,</em> yaitu Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah sifat Allah <em>Ta’ala,</em> ahlus sunnah menetapkan sifat Allah <em>Ta’ala</em> tanpa melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’thil</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">takwil,</span></i><span style="font-weight: 400;"> serta tanpa </span><i><span style="font-weight: 400;">takyif </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybih </span></i><b>[3]</b><i><span style="font-weight: 400;">. </span></i><span style="font-weight: 400;">Ahlus sunnah beriman terhadap sifat Allah <em>Ta’ala</em> secara hakiki, sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Allah <em>Ta’ala,</em> tidak serupa dengan sifat makhluk. Hal ini dalam rangka mengamalkan firman Allah <em>Ta’ala,</em> </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak ada sesuatu pun yang semisal dengan Allah. Dan Dia adalah Yang Maha mendengar dan Maha melihat.” </span><b>(QS. Asy-Syuura [42]: 11)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, setelah Allah <em>Ta’ala</em> meniadakan adanya keserupaan makhluk, lalu Allah <em>Ta’ala</em> tetapkan untuk diri-Nya dua sifat, yaitu sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">as-sam’u </span></i><span style="font-weight: 400;">(Maha mendengar) dan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bashar </span></i><span style="font-weight: 400;">(Maha melihat). Sehingga hal ini menunjukkan bahwa sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">as-sam’u </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bashar </span></i><span style="font-weight: 400;">yang Allah <em>Ta’ala</em> miliki tidaklah sama dengan sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">as-sam’u </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">al-bashar </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dimiliki oleh mahluk.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ahlus sunnah bersandar kepada dalil-dalil syar’i, dan lebih mendahulukan dalil syar’i tersebut daripada akal logika manusia. Karena akal logika hanyalah digunakan sebagai sarana untuk memahami dalil dan sebagai syarat dalam memahami berbagai ilmu, dan sebagai sarana untuk baik dan sempurnanya amal. Akan tetapi, akal logika tidaklah berdiri sendiri, apalagi dijadikan sebagai patokan untuk menimbang dalil-dalil syar’i. Oleh karena itu, ahlus sunnah tidaklah mendahulukan akal daripada wahyu, sebagaimana hal ini dilakukan oleh </span><i><span style="font-weight: 400;">Asy’ariyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">dan semacamnya. Dan sebaliknya, ahlus sunnah juga tidak menihilkan peran akal sama sekali, sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang sufi ekstrim, ketika mereka mempercayai berbagai hal yang bertentangan mutlak dengan akal sehat.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/45084-menjelaskan-bidah-bukan-berarti-memvonis-neraka.html" data-darkreader-inline-color="">Menjelaskan Bid’ah Bukan Berarti Memvonis Neraka</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/26779-fatwa-ulama-bolehkah-istri-minta-cerai-karena-suami-poligami.html" data-darkreader-inline-color="">Bolehkah Istri Minta Cerai Karena Suami Poligami?</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 27 Rajab 1440/3 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Misalnya, mereka menetapkan tujuh sifat untuk Allah Ta’ala, namun mereka tetapkan berdasarkan akal, bukan berdasarkan dalil. Silakan disimak pembahasannya di sini:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/38056-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-02.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/38056-sifat-allah-apakah-hanya-tujuh-atau-dua-puluh-02.html</span></a></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Pembahasan tentang sifat </span><i><span style="font-weight: 400;">al-‘uluw </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">istiwa’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dapat dibaca di sini (total ada lima seri tulisan):</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/36047-ketika-mereka-menolak-sifat-uluw-dan-istiwa-01.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/36047-ketika-mereka-menolak-sifat-uluw-dan-istiwa-01.html</span></a></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Pengertian </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’thil, takwil, takyif, </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">tasybih </span></i><span style="font-weight: 400;">dapat dibaca pembahasannya di sini:</span></p>
<p><a href="https://muslim.or.id/24486-larangan-terhadap-sifat-sifat-allah.html"><span style="font-weight: 400;">https://muslim.or.id/24486-larangan-terhadap-sifat-sifat-allah.html</span></a></p>
<p> </p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 16-17;</span> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">(cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H).</span></p>
 