
<p><strong>Baca pembahasan sebelumnya <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/46554-aqidah-pertengahan-ahlus-sunnah-di-antara-berbagai-kelompok-yang-menyimpang-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Aqidah Pertengahan Ahlus Sunnah di antara Berbagai Kelompok yang Menyimpang (Bag. 2)</a></span></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;">Pokok ketiga: Dalam masalah takdir</span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam masalah takdir, aqidah ahlus sunnah berada di tengah antara dua kelompok ekstrim, yaitu</span> <b><i>qadariyyah</i></b> <span style="font-weight: 400;">dan </span><b><i>jabriyyah. </i></b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kelompok </span><i><span style="font-weight: 400;">qadariyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kelompok yang menolak takdir Allah <em>Ta’ala.</em> Mereka berkeyakinan bahwa perbuatan-perbuatan hamba, apakah itu ketaatan atau maksiat, tidaklah tergantung pada </span><i><span style="font-weight: 400;">qadha’ </span></i><span style="font-weight: 400;">dan </span><i><span style="font-weight: 400;">qadar </span></i><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala.</em> Mereka berkeyakinan bahwa Allah <em>Ta’ala</em> tidaklah menciptakan amal perbuatan para hamba-Nya dan juga tidak menghendakinya. Akan tetapi, hamba itu berdiri sendiri dalam beramal dan berbuat, lepas dari takdir Allah <em>Ta’ala.</em> Sehingga hamba itu sendiri yang menciptakan perbuatan-perbuatan mereka, hamba itu sendiri yang berdiri sendiri dalam menghendaki perbuatan-perbuatan mereka, sehingga jadilah </span><i><span style="font-weight: 400;">qadariyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">ini menetapkan adanya sang Pencipta selain Allah <em>Ta’ala.</em> Konsekuensinya, mereka terjerumus dalam syirik dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">rububiyyah. </span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">qadariyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">tersebut juga terdapat keserupaan dengan aqidah Majusi yang menetapkan adanya dua pencipta bagi alam semesta ini. Bahkan, </span><i><span style="font-weight: 400;">qadariyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">lebih parah dari Majusi dari sisi mereka menetapkan banyak pencipta di alam semesta ini, karena setiap hamba adalah pencipta perbuatan-perbuatan mereka.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/42426-benarkah-manusia-tidak-bisa-pergi-ke-luar-angkasa.html" data-darkreader-inline-color="">Benarkah Manusia Tidak Bisa Pergi Ke Luar Angkasa?</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Di kutub ekstrim yang lainnya adalah aqidah </span><i><span style="font-weight: 400;">jabriyyah. Jabriyyah </span></i><span style="font-weight: 400;">adalah kelompok yang berlebih-lebihan dalam menetapkan takdir, sehingga mereka meyakini bahwa seorang hamba tidaklah memiliki kehendak dan kebebasan memilih sama sekali. Karena mereka semua “dipaksa” oleh takdir Allah <em>Ta’ala.</em> Manusia bagaikan debu yang berterbangan di udara, yang bergerak ke mana saja sesuai arah angin bertiup, tidak memiliki kehendak dan tidak memiliki kemampuan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun aqidah ahlus sunnah adalah aqidah pertengahan di antara dua kutub ekstrim tersebut. Ahlus sunnah meyakini bahwa seorang hamba adalah pelaku riil suatu perbuatan, sehingga perbuatan tersebut disandarkan (dinisbatkan) kepada mereka. Akan tetapi, perbuatan hamba tersebut terjadi mengikuti taqdir Allah <em>Ta’ala,</em> kehendak-Nya dan Allah <em>Ta’ala</em> yang menciptakannya. Karena Allah <em>Ta’ala</em> adalah pencipta seorang hamba dan juga pencipta perbuatan hamba tersebut. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” </span><b>(QS. Ash-Shaaffat [37]: 96)</b></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/39878-mengenal-pokok-pokok-aqidah-kaum-khawarij-bag-1.html" data-darkreader-inline-color="">Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum Khawarij</a></strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">اللَّهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيلٌ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” </span><b>(QS. Az-Zumar [39]: 62)</b></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” </span><b>(QS. Al-Furqan [25]: 2)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana juga telah ditegaskan oleh Allah <em>Ta’ala</em> bahwa kehendak manusia itu di bawah kehendak Allah <em>Ta’ala.</em> Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” </span><b>(QS. At-Takwiir [81]: 29)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam ayat di atas, Allah <em>Ta’ala</em> menetapkan bahwa manusia memiliki kehendak, namun kehendak manusia itu di bawah kehendak Allah <em>Ta’ala.</em></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah salah satu unsur keimanan terhadap takdir yang dijelaskan dalam buku-buku aqidah ahlus sunnah, yaitu bahwa Allah <em>Ta’ala</em> menciptakan segala sesuatu yang ada di alam ini, termasuk perbuatan manusia. Meskipun demikian, bukan berarti hal ini meniadakan (menihilkan) kehendak manusia. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa kita pun memiliki kehendak dan kemauan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Semua kita sadar bahwa kita bisa memilih untuk berbuat atau tidak berbuat. Oleh karena itu, satu ungkapan yang kita dapati dalam buku aqidah adalah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">و أفعال العباد خلق الله ، و كسب من العباد</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Amal perbuatan hamba adalah ciptaan Allah, dan usaha dari hamba itu sendiri.” </span><b>[1]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> memerintahkan hamba-Nya untuk taat kepada-Nya dan mentaati Rasul-Nya </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Dan juga melarang mereka bermaksiat kepada-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> juga telah menegakkan </span><i><span style="font-weight: 400;">hujjah </span></i><span style="font-weight: 400;">(petunjuk dan penjelasan) kepada mereka, yaitu dengan mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab. Siapa saja yang taat, maka dia taat sesuai dengan bukti </span><i><span style="font-weight: 400;">(hujjah) </span></i><span style="font-weight: 400;">yang dia ketahui dan dengan pilihan dia sendiri, sehingga berhak untuk mendapatkan pahala yang baik. Dan sebaliknya, siapa saja yang durhaka, maka dia durhaka sesuai dengan pilihan dia sendiri, sehingga dia berhak mendapatkan hukuman. Di sinilah letak keadilan Allah <em>Ta’ala.</em> Allah <em>Ta’ala</em> berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang salih, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri. Dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri. </span><b>Dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hambaNya.</b><span style="font-weight: 400;">” </span><b>(QS. Fushilat [41]: 46)</b></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/37307-memahami-hakikat-kesyirikan-pada-zaman-jahiliyyah-01.html" data-darkreader-inline-color="">Memahami Hakikat Kesyirikan pada Zaman Jahiliyyah</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/36561-salafi-bukan-aliran-tertentu.html" data-darkreader-inline-color="">Salafi Bukan Aliran Tertentu</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><b>[Bersambung]</b></p>
<p><b>***</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">@Rumah Lendah, 27 Rajab 1440/3 April 2019</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.Or.Id</a></span></strong></p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><b><i>Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah,</i></b> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh Dr. Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh, penerbit Daarul Mawaddah, cetakan pertama tahun 1431, hal. 365.</span></p>
<p><b>Referensi:</b></p>
<p><b><i>Tahdziib Tashiil Al-‘Aqidah Al-Islamiyyah, </i></b><span style="font-weight: 400;">hal. 16-17;</span> <span style="font-weight: 400;">karya Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Jibrin </span><i><span style="font-weight: 400;">hafidzahullahu Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">(cetakan Maktabah Makkah tahun 1425 H).</span></p>
 