
<p>Wanita Muslimah disyariatkan untuk menutup wajah mereka di depan lelaki <em>ajnabi</em> (non-mahram). Atau dengan kata lain, disyariatkan bagi mereka untuk memakai cadar. Ini adalah hal yang ada dan diajarkan dalam Islam. <a href="https://muslim.or.id/6207-hukum-memakai-cadar-dalam-pandangan-4-madzhab.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Para ulama 4 madzhab</a> menyatakan bahwa menutup wajah bagi wanita adalah perkara yang dianjurkan, atau bahkan sebagian ulama berpendapat hal ini diwajibkan. Mereka berdalil dengan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah.</p>
<p>Dalam kesempatan ini akan kami sampaikan beberapa dalil dari Al Qur’an yang menjadi dasar disyariatkannya menutup wajah bagi wanita.</p>

<h2><b>Dalil 1</b></h2>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا</span></p>
<p><em>“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”</em> (QS. Al Ahzab: 59).</p>
<p>Imam Ath Thabari <em>rahimahullah </em>menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">ثم اختلف أهل التأويل في صفة الإدناء الذي أمرهن الله به فقال بعضهم: هو أن يغطين وجوههن ورءوسهن فلا يبدين منهن إلا عينا واحدة</span></p>
<p>“Para ulama tafsir khilaf mengenai sifat menjulurkan jilbab yang diperintahkan Allah dalam ayat ini. Sebagian mereka mengatakan:<em> yaitu dengan menutup wajah-wajah mereka dan kepala-kepala mereka, dan tidak ditampakkan apa-apa kecuali hanya satu mata saja.</em>“[1]
</p>
<p>Silakan buka kitab tafsir manapun di ayat ini, pasti ada<span style="text-decoration: underline;"> disebutkan pendapat sebagian ulama tentang perintah menutup wajah wanita</span>.</p>
<p> </p>
<h2><b>Dalil 2</b></h2>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ</span></p>
<p><em>“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri-isteri Nabi), maka mintalah dari balik hijab.”</em> (QS. Al Ahzab: 53).</p>
<p>As Sa’di <em>rahimahullah </em>menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يكون بينكم وبينهن ستر، يستر عن النظر، لعدم الحاجة إليه. فصار النظر إليهن ممنوعًا بكل حال</span></p>
<p>“Maksudnya, hendaknya antara engkau (lelaki) dan para istri Nabi ada penghalang yang menghalangi pandangan. Karena tidak ada kebutuhan untuk memandangnya. Maka dari sini, lelaki memandang wanita (yang bukan mahram) hukumnya terlarang dalam keadaan apapun.” [2]
</p>
<p>Syaikh Sulaiman bin Shalih Al Kharrasyi dalam kitab “<em>Waqafat Ma’a Man Yara Jawaza Kasyfil Wajhi</em>” (15) mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">هذه الآية يتفق العلماء على أنها تدل على وجوب الحجاب وتغطية الوجه</span></p>
<p>“Para ulama sepakat bahwa ayat ini menunjukkan adanya kewajiban memakai hijab dan menutup wajah (wanita)”</p>
<p>Terlepas dari adanya <em>khilaf</em> ulama mengenai <em>khithab</em> ayat ini dan juga mengenai hukum cadar, namun jelas dalam ayat ini <span style="text-decoration: underline;">terdapat wajh (sisi pendalilan) akan disyariatkannya cadar</span>.</p>
<p> </p>
<p><span style="font-size: 21pt;"><b>Dalil 3</b></span></p>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ</span></p>
<p>“Dan hendaklah mereka (para wanita) menjulurkan kain jilbab ke dada mereka” (QS. An Nuur: 31).</p>
<p>Dalam Shahih Bukhari, disebutkan hadits dari Ummul Mukminin Aisyah <em>radhiallahu’anha</em>, beliau mengatakan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لمَّا نزلت ْهذه الآيةُ : { وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ } . أخذْنَ أزُرَهنَّ فشَقَقْنَها من قِبَلِ الحَوَاشِي ، فاخْتَمَرْنَ بها</span></p>
<p>“Ketika turun ayat :</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ</span></p>
<p>para wanita shahabiyah mengambil kain-kain mereka, kemudian mereka merobeknya dari ujung-ujungnya dan ber-khimar dengannya.” [3]
</p>
<p>Ibnu Hajar Al Asqalani <em>rahimahullah</em> -ulama besar madzhab <em>Syafi’i</em>– menjelaskan perkataan Aisyah <em>radhiallahu’anha</em> ini:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَوْلُهُ فَاخْتَمَرْنَ أَيْ غَطَّيْنَ وُجُوهَهُنَّ وَصِفَةُ ذَلِكَ أَنْ تَضَعَ الْخِمَارَ عَلَى رَأْسِهَا وَتَرْمِيَهُ مِنَ الْجَانِبِ الْأَيْمَنِ عَلَى الْعَاتِقِ الْأَيْسَرِ</span></p>
<p>“Perkataan beliau [ber-<em>khimar</em> dengannya], maksudnya adalah mereka menutup wajah-wajah mereka. Caranya yaitu dengan meletakkan <em>khimar</em> tersebut di atas kepala mereka lalu menjulurkan kainnya dari sisi kanan ke pundah yang kiri.”[4]
</p>
<p>Maka menurut penjelasan Ibnu Hajar, para <em>sahabiyah</em> memahami ayat di atas sebagai<span style="text-decoration: underline;"> perintah untuk menutup tubuh mereka termasuk wajah</span>.</p>
<p> </p>
<h2><b>Dalil 4</b></h2>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا</span></p>
<p><em>“dan janganlah mereka (wanita) menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya”</em> (QS. An Nur: 31).</p>
<p>Para ulama <em>khilaf</em> dalam memaknai ayat إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا (<em>kecuali yang (biasa) nampak daripadany</em>a). Namun Abdullah bin Mas’ud <em>radhiallahu’anhu</em> memaknai ayat ini bahwa wanita tidak boleh menampakkan kecuali pakaiannya saja.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">عن عبد الله، أنه قال: (وَلا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا) : قال: هي الثياب</span></p>
<p>“Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata tentang ayat: [<em>dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya</em>], maksudnya: <em>kecuali pakaiannya</em>“[5]
</p>
<p>Demikian juga penafsiran dari Ibrahim An Nakha’i dan Al Hasan Al Bashri <em>rahimahumullah</em>.</p>
<p>Maka ayat ini pun menujukkan bahwa <span style="text-decoration: underline;">wajah pun ditutup oleh pakaian</span>.</p>
<p> </p>
<h2><b>Dalil 5</b></h2>
<p>Allah Ta’ala berfirman:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَالْقَوَاعِدُ مِنَ النِّسَاءِ اللَّاتِي لَا يَرْجُونَ نِكَاحًا فَلَيْسَ عَلَيْهِنَّ جُنَاحٌ أَنْ يَضَعْنَ ثِيَابَهُنَّ غَيْرَ مُتَبَرِّجَاتٍ بِزِينَةٍ وَأَنْ يَسْتَعْفِفْنَ خَيْرٌ لَهُنَّ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ</span></p>
<p><em>“Dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Bijaksana”</em> (QS. An Nur: 60).</p>
<p>Ibnu Katsir menjelaskan:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قال ابن مسعود في قوله ” فليس عليهن جناح أن يضعن ثيابهن ” قال : الجلباب أو الرداء وكذلك روي عن ابن عباس وابن عمر ومجاهد وسعيد بن جبير وأبي الشعثاء وإبراهيم النخعي والحسن وقتادة والزهري والأوزاعي وغيرهم</span></p>
<p>“Ibnu Mas’ud menafsirkan ayat [<em>tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka</em>] maksudnya adalah jilbab mereka atau <em>rida</em>‘ mereka. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ibnu Umar, Mujahid, Ibnu Jubair, Abusy Sya’tsa, Ibrahim An Nakha’i, Al Hasan Al Bashri, Qatadah, Az Zuhri, Al Auza’i dan selain mereka”. [6]
</p>
<p>Kebanyakan ulama salaf memaknai “jilbab” sebagai kain yang menutupi bagian atas termasuk wajah. Asy Syaukani membawakan beberapa penjelasan ulama mengenai makna jilbab,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَالَ الْجَوْهَرِيُّ: الْجِلْبَابُ: الْمِلْحَفَةُ، وَقِيلَ: الْقِنَاعُ، وَقِيلَ: هُوَ ثَوْبٌ يَسْتُرُ جَمِيعَ بَدَنِ الْمَرْأَةِ، كَمَا ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ مِنْ حَدِيثِ أُمِّ عَطِيَّةَ أَنَّهَا قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ، فَقَالَ: «لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا» قَالَ الْوَاحِدِيُّ: قَالَ الْمُفَسِّرُونَ: يُغَطِّينَ وجوههنّ ورؤوسهنّ إِلَّا عَيْنًا وَاحِدَةً، فَيُعْلَمُ أَنَّهُنَّ حَرَائِرُ فَلَا يعرض لهن بِأَذًى. وَقَالَ الْحَسَنُ: تُغَطِّي نِصْفَ وَجْهِهَا. وَقَالَ قَتَادَةُ: تَلْوِيهِ فَوْقَ الْجَبِينِ وَتَشُدُّهُ ثُمَّ تَعْطِفُهُ عَلَى الْأَنْفِ وَإِنْ ظَهَرَتْ عَيْنَاهَا لَكِنَّهُ يَسْتُرُ الصَّدْرَ وَمُعْظَمَ الْوَجْهِ</span></p>
<p>“Al Jauhari mengatakan, jilbab adalah <em>milhafah</em> (kain yang sangat lebar). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah <em>al qina’</em> (sejenis kerudung untuk menutupi kepala dan wajah). Sebagian ulama mengatakan, jilbab adalah pakaian yang menutupi seluruh tubuh wanita. Sebagaimana dalam hadits shahih, dari hadits Ummu Athiyyah, bahwa ia mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab’. Lalu Rasulullah menjawab: ‘hendaknya ada dari kalian yang menutupi saudarinya dengan jilbabnya‘. Al Wahidi mengatakan: ‘menurut para ulama tafsir jilbab digunakan untuk menutupi wajah dan kepala mereka kecuali satu matanya saja, sehingga diketahui mereka adalah wanita merdeka sehingga tidak diganggu orang’. Al Hasan mengatakan: ‘jilbab digunakan untuk menutupi setengah wajah wanita’. Qatadah mengatakan: ‘jilbab itu menutupi dengan kencang bagian kening, dan menutupi dengan ringan bagian hidung. Walaupun matanya tetap terlihat, namun jilbab itu menutupi dada dan mayoritas wajah’” [7]
</p>
<p>Said bin Jubair menjelaskan makna ayat ini:</p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-size: 21pt;">“أن يضعن من ثيابهن ” وهو الجلباب من فوق الخمار فلا بأس أن يضعن عند غريب أو غيره بعد أن يكون عليها خمار صفيق</span></p>
<p>“[<em>tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka</em>] maksudnya jilbab mereka yang ada di atas <em>khimar</em>. Maka tidak mengapa dilepas di depan orang asing atau selainnya, jika mereka mengenakan <em>khimar</em> yang tebal.”[8]
</p>
<p>Maka ayat ini memberikan keringanan bagi wanita tua yang sudah menopause untuk melepaskan kain atasan mereka yang menutupi wajah dan dada mereka. Namun mereka tetap memakai khimar.</p>
<p>Maka mafhumnya, wanita yang belum menopause diperintahkan untuk terus mengenakan jilbab di depan lelaki non-mahram. Dan <span style="text-decoration: underline;">“jilbab” di sini maknanya kain atasan yang menutupi kepala, wajah dan dada</span>.</p>
<p>Sehingga <span style="text-decoration: underline;">dalam ayat ini ada isyarat diperintahkannya wanita menutup wajahnya</span>.</p>
<p>Demikianlah beberapa dalil dari Al Qur’an Al Karim tentang disyariatkannya menutup wajah bagi wanita, berdasarkan penafsiran para ulama Islam.</p>
<p> </p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/yulian-purnama-s-kom">Yulian Purnama</a></strong><br>
<strong>Artikel: </strong><a href="http://muslim.or.id"><strong>Muslim.or.id</strong></a><!-- <fw_preview_session>1520992983896 --></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga: </strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslimah.or.id/7318-benarkah-ajaran-memakai-cadar-tidak-ada-di-zaman-nabi.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Benarkah Ajaran Memakai Cadar Tidak Ada Di Zaman Nabi?</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/36848-benarkah-cadar-budaya-arab.html" target="_blank" rel="noopener noreferrer"><strong><span style="color: #ff0000;">Benarkah Cadar Budaya Arab?</span></strong></a></li>
</ul>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Catatan kaki:</strong></span></h2>
[1] Tafsir At Thabari, 20/324
[2] Tafsir As Sa’di
[3] HR. Al Bukhari no.4759
[4] Fathul Baari, 8/490
[5] Tafsir Ath Thabari 19/156
[6] Tafsir Ibnu Katsir
[7] Fathul Qadir, 4/350
[8] Tafsir Ibnu Katsir
 