
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi hamdan katsiiran thoyyiban mubaarakan fihi wash shalaatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du: </span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Al-Wala`</span></i><span style="font-weight: 400;">(kecintaan) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Bara` </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebencian) adalah salah satu dasar keimanan seorang muslim, karena keduanya termasuk </span><i><span style="font-weight: 400;">Tauhidullah </span></i><span style="font-weight: 400;">yang merupakan</span> <span style="font-weight: 400;">dasar dari agama Islam ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Seorang yang menerapkan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Wala` </span></i><span style="font-weight: 400;">(kecintaan) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Bara` </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebencian) dengan benar, hakekatnya ia mentauhidkan Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala, </span></i><span style="font-weight: 400;">sebagaimana hal ini disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau berkata, </span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;"> لأن حقيقة التوحيد أن لا يحب إلا الله ويحب ما يحبه الله لله فلا يحب إلا لله ولا يبغض إلا لله </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“ …Karena hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa yang dicintai oleh Allah karena-Nya. Maka kita tidak boleh mencintai sesuatu kecuali karena Allah, demikian pula tidak membencinya kecuali karena-Nya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Majmu’ Al-Fatawa</span></i><span style="font-weight: 400;">).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sikap yang benar dalam menempatkan cinta dan benci akan mengokohkan keimanan seorang hamba, sebaliknya salah dalam menempatkan keduanya akan mengakibatkan rusaknya keimanannya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh karena itulah, dibawah ini penyusun akan nukilkan beberapa fatwa ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yang menjelaskan tentang sebagian tata cara berinteraksi dengan orang-orang kafir yang mereka adalah orang-orang yang dibenci oleh Allah, karena kekafirannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka kita membenci orang-orang yang dibenci oleh Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">, namun perkara yang penting menjadi catatan di sini adalah bahwa bentuk kebencian kita tetaplah harus sesuai dengan apa yang dikehendaki Rabb kita yang telah disebutkan di dalam Alquranul Karim dan Al-Hadits yang shahih.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Timbangan membenci orang-orang kafir itu bukanlah perasaan atau kebiasaan sebuah masyarakat tanpa mempedulikan apakah bertentangan dengan Syari’at Islam atau tidak! </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bukan pula barometer cinta dan benci itu didasarkan kepada Islam Nusantara, Islam Arab Saudi, Islam Timur Tengah atau Islam Amerika dan selainnya, Tidak! Karena Islam itu hanya satu, yaitu agama yang Allah turunkan melaui utusan-Nya yang paling mulia, Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, sesungguhnya timbangan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Wala`</span></i><span style="font-weight: 400;">(kecintaan) dan </span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Bara` </span></i><span style="font-weight: 400;">(kebencian) itu adalah dikembalikan kepada Allah, maka “kita tidak boleh mencintai sesuatu kecuali karena Allah, demikian pula tidak membencinya kecuali karena-Nya”, demikian tutur Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Allah dan membenci segala sesuatu yang dibenci oleh Allah, baik sesuatu itu terkait dengan orang, keyakinan, ucapan, perbuatan maupun selainnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sedangkan apa yang dicintai dan dibenci oleh Allah itu telah lengkap disebutkan di dalam dua wahyu-Nya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan jika kita tidak mengetahuinya, maka kita diperintahkan untuk bertanya kepada para ulama yang merekalah orang-orang yang paling paham tentang ajaran Islam, di tengah-tengah umat ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman :</span></p>
<p style="text-align: right;">{فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ}</p>
<p><span style="font-weight: 400;">(43)</span><i><span style="font-weight: 400;"> Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (ulama) jika kalian tidak mengetahui. </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. An-Nahl: 43).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam serial artikel ini, <em>in sya Allah</em>, penyusun nukilkan beberapa fatwa dari ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang terpercaya, yang memiliki reputasi ilmiah yang mendunia, seperti : Syaikh Bin Baz, Syaikh Al-‘Utsaimin, dan </span><i><span style="font-weight: 400;">masyayikh </span></i><span style="font-weight: 400;">yang tergabung kedalam Komite Fatwa KSA yang dijadikan rujukan pertanyaan-pertanyaan kaum muslimin dari berbagi penjuru dunia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hanya saja, apa yang penyusun sampaikan ini, barulah sedikit saja dari ilmu para ulama yang luas, masih terlalu banyak permasalahan yang belum dinukilkan fatwanya dari para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahumullah </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam serial artikel ini</span><i><span style="font-weight: 400;">.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini hakekatnya sekedar ‘sentilan’ terhadap kesadaran beragama kita sebagai warga dari sebuah negara, yang umat Islamnya termasuk paling banyak di dunia, agar kita semakin sadar bahwa hakekatnya semua sisi kehidupan kita ini terdapat petunjuknya dari Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">di dalam wahyu-Nya, tinggal kita yang tertuntut untuk rajin mempelajari wahyu-Nya tersebut lewat bimbingan para ulama </span><i><span style="font-weight: 400;">rabbaniyyin </span></i><span style="font-weight: 400;">yang mendidik umat ini dengan ilmu-ilmu dasar sebelum ilmu-ilmu selanjutnya. </span></p>
<h4><span style="color: #ff0000;">Perkara-perkara yang semestinya dilakukan terhadap orang non Muslim</span></h4>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebuah pertanyaan ditanyakan kepada Syaikh Abdul Aziz bin Baz: “Apakah kewajiban bagi seorang muslim terhadap non muslim, baik ia seorang kafir </span><i><span style="font-weight: 400;">dzimmi</span></i> <span style="font-weight: 400;">yang tinggal di negara kaum muslimin atau tinggal di negaranya sendiri maupun seorang muslim yang tinggal di negara orang non muslim tersebut. </span><span style="font-weight: 400;">Kewajiban yang saya ingin ketahui penjelasannya di sini adalah interaksi (mu’amalah) dengan berbagai macamnya, mulai dari mengucapkan salam sampai masalah merayakan hari raya non muslim dengannya. </span><span style="font-weight: 400;">Dan apakah boleh mengambil(nya) sebagai partner kerja saja? Kami mohon penjelasannya, semoga Allah memberi pahala kepada Anda”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya ada beberapa perkara yang termasuk disyari’atkan bagi seorang muslim dalam berinteraksi dengan non muslim, diantaranya adalah :</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Pertama</strong>, berdakwah </span><i><span style="font-weight: 400;">ilallah</span></i><span style="font-weight: 400;">, yaitu seorang muslim mengajak non muslim untuk menyembah Allah dan menjelaskan kepadanya hakekat Islam, jika memang hal itu memungkinkan baginya dan ia memang memiliki ilmu (tentangnya). Karena hakekatnya ini adalah perbuatan baik yang terbesar dan terpenting. Seorang muslim memberi petunjuk kepada orang-orang yang senegara dengannya dan orang-orang nashara (kristen), yahudi ataupun kaum musyrik yang lainnya yang tinggal satu daerah dengannya, berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"> ((من دل على خير فله مثل أجر فاعله))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan, maka ia mendapatkan ganjaran seperti pahala pelakunya”.</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Imam Muslim dalam shahihnya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan sabda beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalaatu was salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">kepada Ali </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallaahu ‘anhu </span></i><span style="font-weight: 400;">ketika beliau mengutusnya ke daerah Khaibar dan memerintahkanya untuk mengajak (manusia)masuk kedalam agama Islam, beliau bersabda:</span></p>
<p style="text-align: right;"> ((فوالله لأن يهدي الله بك رجلا خير لك من حمر النعم)) متفق على صحته.</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Demi Allah, sungguh Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui engkau itu lebih baik daripada onta merah”. </span></i><span style="font-weight: 400;">(Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalaatu was salaam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda: </span></p>
<p style="text-align: right;">((من دعا إلى هدى كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئا، ومن دعا إلى ضلالة كان عليه من الإثم مثال آثام من تبعه لا ينقص ذلك من آثامهم شيئا))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk (kebajikan), maka dia mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa mengajak kepada kesesatan, maka dia mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang yang mengikutinya, hal itu tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”</span></i><span style="font-weight: 400;"> . (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">nya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka dakwah seorang muslim mengajak kepada Allah</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> menyampaikan ajaran Islam serta nasehatnya tentang hal itu, merupakan salah satu perkara yang terpenting dan bentuk mendekatkan diri kepada Allah yang paling utama.</span></p>
<p><b>Kedua,</b><span style="font-weight: 400;"> jika orang non muslim tersebut adalah seorang kafir </span><i><span style="font-weight: 400;">dzimmi</span></i> <span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">musta`min</span></i> <span style="font-weight: 400;">atau </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’ahad</span></i><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">maka </span><i><span style="font-weight: 400;">s</span></i><span style="font-weight: 400;">eorang muslim tidak boleh menzhaliminya, tidak pada jiwa, harta maupun kehormatannya</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena ia menunaikan hak kepada seorang muslim, maka tidak boleh seorang muslim menzhaliminya, (baik) tidak (mezhaliminya) pada hartanya (misalnya) dengan tidak mencuri, tidak berkhianat dan tidak menipu(nya). Tidak pula menzhaliminya pada badannya (misalnya) dengan tidak memukul dan selainnya. Karena statusnya sebagai seorang kafir yang </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’ahad</span></i><span style="font-weight: 400;">  atau </span><i><span style="font-weight: 400;">dzimmi </span></i><span style="font-weight: 400;">di suatu negeri atau </span><i><span style="font-weight: 400;">musta`min </span></i><span style="font-weight: 400;">yang (harus) dijaganya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Ketiga</strong>, seorang muslim tidak dilarang berinteraksi dengan non muslim dalam masalah jual beli, sewa menyewa dan semisalnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Telah ada sebuah riwayat yang </span><i><span style="font-weight: 400;">shahih </span></i><span style="font-weight: 400;">dari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalaatu was salaam </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa beliau pernah membeli (sesuatu) dari orang-orang kafir para penyembah berhala dan juga pernah membeli (sesuatu) dari orang yahudi. Sedangkan ini adalah suatu bentuk muamalah (interaksi).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalaatu was salaam</span></i><span style="font-weight: 400;"> pun wafat sedangkan baju besinya sedang digadaikan kepada orang yahudi untuk membeli makanan bagi keluarganya.</span></p>
<p><b></b><span style="font-weight: 400;"><strong>Keempat</strong>, (adapun) tentang masalah salam, tidak boleh memulai mengucapkan salam kepadanya, hal ini berdasarkan sabda Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p style="text-align: right;"> ((لاتبدأوا اليهود ولا النصارى بالسلام))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada  kaum yahudi dan nashara (kristen)” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam </span><i><span style="font-weight: 400;">Shahih</span></i><span style="font-weight: 400;">nya).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dan beliau –</span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">– bersabda :</span></p>
<p style="text-align: right;">((إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا: وعليكم))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan :” wa ‘alaikum””.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Maka seorang muslim tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada orang kafir, akan tetapi hendaknya ia menjawabnya dengan ucapan :</span><i><span style="font-weight: 400;">” wa ‘alaikum”, </span></i><span style="font-weight: 400;">hal ini berdasarkan sabda Nabi  </span><i><span style="font-weight: 400;">‘alaihish shalaatu was salaam,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">((إذا سلم عليكم أهل الكتاب فقولوا: وعليكم))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Jika seorang Ahli Kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ucapan :” wa ‘alaikum””</span></i> <span style="font-weight: 400;">(Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini adalah salah satu dari hak-hak yang terkait antara orang muslim dengan orang kafir. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara hak-hak tersebut juga adalah bertetangga yang baik. </span><span style="font-weight: 400;">Jika orang kafir tersebut adalah tetangga(mu), maka berbuat baiklah Anda kepadanya dan janganlah Anda mengganggunya dalam bertetangga. Dan bersedekahlah kepadanya jika ia adalah orang yang fakir, berilah hadiah dan nasehatilah ia dengan nasehat yang bermanfaat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena hal ini merupakan perkara yang menyebabkan kecintaannya kepada agama Islam dan masuknya ia kedalam Islam dan karena seorang tetangga itu memiliki hak (atas tetangganya, pent.).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">bersabda: </span></p>
<p style="text-align: right;">((مازال جبريل يوصيني بالجار حتى طننت أنه سيورثه))</p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“ Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku agar memperhatikan tetangga, sehingga aku mengira Malaikat Jibril akan menyampaikan bahwa tetangga itu termasuk ahli waris (bagi tetangga yang lain,pent.).” </span></i><span style="font-weight: 400;">(Disepakati keshahihannya oleh Al-Bukhori dan Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika tetangga itu orang kafir, maka ia memiliki hak tetangga, sedangkan jika tetangga itu orang kafir sekaligus kerabat, maka ia memiliki dua hak, yaitu: hak tetangga dan hak kekerabatan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diantara perkara yang disyari’atkan bagi seorang muslim, hendaknya ia bersedekah dengan sedekah selain harta zakat kepada tetangganya yang kafir dan selain tetangganya diantara orang-orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala,</span></i></p>
<p style="text-align: right;"><span style="text-align: right; line-height: 1.5;">{لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ}</span><b>            </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama (kalian) dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil” </span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Mumtahanah: 8).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdasarkan hadits yang shahih dari Asma` bintu Abu Bakar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallaahu ‘anhuma </span></i><span style="font-weight: 400;">bahwa pada saat perjanjian damai </span><i><span style="font-weight: 400;">Hudaibiyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">ibunya mendatanginya di Madinah</span><i><span style="font-weight: 400;">, </span></i><span style="font-weight: 400;">sedangkan ibunya tersebut adalah seorang wanita musyrik yang menginginkan pertolongan. Lalu Asma` meminta izin kepada Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> untuk keperluan itu, apakah diperbolehkan ia berbuat baik kepadanya​? Maka beliau pun –</span><i><span style="font-weight: 400;">shallallaahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">– bersabda,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">((صليها)) </span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Berbuat baiklah kepadanya!”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun zakat, maka tidak ada larangan memberikan zakat kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">mu`allaf qulubuhum </span></i><span style="font-weight: 400;">(orang-orang yang diperlakukan dengan halus hatinya) diantara orang-orang kafir, hal ini berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Azza wa Jalla</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: right;">{إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ }</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, orang-orang yang diperlakukan dengan halus hatinya</span></i><i><span style="font-weight: 400;">…” .</span></i><span style="font-weight: 400;">(QS. At-Taubah:60).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun ikut serta dengan orang-orang kafir dalam perayaan hari raya mereka, maka tidak boleh bagi seorang muslim untuk ikut serta di dalam acara tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Sumber: http://www.binbaz.org.sa/node/290).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lajnah Daimah (Komite Fatwa) Saudi Arabia ditanya (fatwa no. 5176): “Jika kami mempunyai tetangga orang-orang kafir (nashara/kristen), bagaimana kami bersikap kepada mereka, jika mereka memberi kami hadiah-hadiah, apakah kami terima (hadiah tersebut) dari mereka? </span><span style="font-weight: 400;">Apakah boleh kami (wanita muslimah, pent.) menampakkan wajah (membuka cadar, pent.) di hadapan mereka (perempuan kafir) atau mereka melihat dari kami lebih dari sebatas wajah (misalnya : rambut dan kepala, pent.)? </span><span style="font-weight: 400;">Dan bolehkah kami membeli (barang) dari penjual nashara (kristen)?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menjawab:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berbuat baiklah kalian kepada orang yang telah berbuat baik kepada kalian diantara mereka, walaupun mereka nashara (kristen). Maka jika mereka memberi hadiah yang mubah (sesuatu yang halal, pent.) kepada kalian, maka balaslah mereka karenanya. (Dulu) Nabi </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam </span></i><span style="font-weight: 400;">pun menerima hadiah dari pembesar negara romawi padahal ia seorang yang beragama nashara (kristen) dan juga menerima hadiah dari yahudi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">berfirman,</span></p>
<p style="text-align: right;">لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<i>Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi memerangi kalian karena agama (kalian) dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil”</i></span></p>
<p style="text-align: right;">إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَىٰ إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<i>Sesungguhnya Allah hanya melarang kalian menjadikan sebagai wali kalian</i>[1. Orang-orang yang kalian cintai dan penolong kalian]</span><i><span style="font-weight: 400;"> orang-orang yang memerangi kalian karena agama (kalian) dan mengusir kalian dari negeri kalian dan membantu (orang lain) untuk mengusir kalian. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anda boleh menampakkan di depan wanita-wanita mereka sesuatu yang diperbolehkan untuk ditampakkan di depan  wanita-wanita muslimah, berupa : pakaian dan yang semisalnya yang boleh diperlihatkan dan boleh (seorang muslimah) berhias dengannya, hal ini menurut pendapat ulama yang terkuat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Andapun boleh membeli dari mereka apa yang Anda butuhkan, berupa sesuatu yang halal.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wabillahit Taufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Komite Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa KSA</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketua</span> <span style="font-weight: 400;">: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wakil Ketua</span> <span style="font-weight: 400;">: Abdur Razzaq Afifi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggota</span> <span style="font-weight: 400;">: Abdullah bin Qu’ud</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">(Sumber: Website resmi <em>Ar-Riaasah Al-‘Aammah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Iftaa</em>: </span><a href="http://bit.ly/1OR866Z"><span style="font-weight: 400;">http://bit.ly/1OR866Z</span></a><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka juga ditanyakan pertanyaan yang semisal (Fatwa no. 8691): “Bagaimana</span> <span style="font-weight: 400;">tata cara berinteraksi dengan seorang yang beragama kristen, baik sebagai tetangga dalam asrama atau teman sekolah? </span><span style="font-weight: 400;">Apakah saya boleh mengunjunginya dan menyampaikan ucapan selamat kepadanya di hari raya mereka?”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Mereka menjawab: </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Boleh berinteraksi dengan seorang nashrani yang menjadi tetangga, dengan cara berbuat baik kepadanya dan membantunya dalam urusan yang mubah. (Boleh pula) bersikap baik terhadapnya dan mengunjunginya untuk mengajaknya menyembah Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala (</span></i><span style="font-weight: 400;">saja), barangkali Allah memberi hidayah kepadanya untuk masuk kedalam agama Islam.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Adapun menghadiri hari raya mereka dan menyampaikan ucapan selamat kepada mereka karenanya, maka hal itu tidak diperbolehkan. Berdasarkan firman Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Subhanahu,</span></i></p>
<p style="text-align: right;">وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ</p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<i>Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” </i></span><span style="font-weight: 400;">(QS. Al-Maaidah: 2).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena menghadiri hari raya mereka  dan menyampaikan ucapan selamat itu adalah salah satu macam <em>wala’</em> (cinta) yang diharamkan. Demikian pula menjadikan mereka sebagai teman (yang dicintainya, pent.).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wabillahit Taufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Komite Tetap Pembahasan Ilmiah dan Fatwa KSA</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketua</span> <span style="font-weight: 400;">: Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Wakil Ketua</span> <span style="font-weight: 400;">: Abdur Razzaq Afifi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anggota</span> <span style="font-weight: 400;">: Abdullah bin Ghadyan, </span><span style="font-weight: 400;">  Abdullah bin Qu’ud.</span><br>
<span style="font-weight: 400;">(Sumber: Website resmi <em>Ar-Riaasah Al-‘Aammah Lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal Iftaa</em>: </span><a href="http://bit.ly/1HS8uCN"><span style="font-weight: 400;">http://bit.ly/1HS8uCN</span></a><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p>***</p>
<p><strong>(bersambung <em>in sya Allah</em>)</strong></p>
<p>Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah</p>
<p>Artikel Muslim.or.id</p>
[serialposts]
<p>____</p>
 