
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdullillahilladzi hamdan katsiron thoyyiban mubaarokan fiih kamaa yuhibbu Robbunaa wa yardho. Allahumma sholli ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam. </span></i><span style="font-weight: 400;">Setelah kita mengetahui <a href="https://rumaysho.com/558-bagaimana-shalat-jamaah-bagi-wanita.html">hukum shalat jama’ah</a>, sekarang kita mengkhususkan pembahasan shalat jama’ah bagi wanita. Semoga Allah memudahkan setiap urusan hamba-Nya. </span></p>
<h2><b>Shalat Jama’ah bagi Wanita Tidaklah Wajib</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat jama’ah tidaklah wajib bagi wanita dan ini berdasarkan kesepatakan para ulama kaum muslimin. Akan tetapi shalat jama’ah tetap dibolehkan bagi wanita –secara global- menurut mayoritas para ulama.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikh Sholeh Al Fauzan –hafizhohullah- ketika ditanya apakah wanita wajib mengerjakan shalat secara jama’ah setiap melaksanakan shalat fardhu?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau –hafizhohullah- menjawab, “Wanita tidak wajib melaksanakan shalat secara berjama’ah. Shalat jama’ah hanya wajib bagi laki-laki. Adapun para wanita, mereka tidak wajib mengerjakan shalat secara berjama’ah. Akan tetapi boleh atau mungkin dianjurkan bagi mereka melaksanakan shalat secara jama’ah dengan imam di antara mereka (para wanita). Namun sebagaimana yang kami katakan bahwa imam mereka berdiri di antara shaf yang ada (bukan maju ke depan)” (</span><b><i>Fatawa Al Mar’ah Al Muslimah</i></b><span style="font-weight: 400;">, hal. 103, Dar Ibnul Haitsam)</span></p>

<h2><b>Shalat Jama’ah Wanita Bersama Wanita Lainnya</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Ini dibolehkan berdasarkan tiga alasan:</span></p>
<ol>
<li>
<span style="font-weight: 400;">   </span> <span style="font-weight: 400;">Berdasarkan keumuman hadits yang menceritakan <a href="https://rumaysho.com/hukum-islam/shalat/2725-sangat-merugi-meninggalkan-shalat-jamaah.html">keutamaan shalat jama’ah</a>. Dan asalnya, wanita memiliki hukum yang sama dengan laki-laki sampai ada dalil yang membedakannya.</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إنما النساء شقائق الرجال</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Wanita adalah bagian dari pria.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">). Maksudnya adalah shalat jama’ah bersama wanita tetap dibolehkan sebagaimana pria berjama’ah dengan sesama pria.</span></p>
<ol start="2">
<li><span style="font-weight: 400;">Tidak ada larangan mengenai shalat wanita bersama wanita lainnya.</span></li>
<li>
<span style="font-weight: 400;">Hal ini juga pernah dilakukan oleh beberapa sahabat wanita seperti Ummu Salamah dan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma. (</span><b><i>Shahih Fiqih Sunnah</i></b><span style="font-weight: 400;">, Abu Malik, 509)</span>
</li>
</ol>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Roithoh Al Hanafiyah, dia mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أن عائشة أمتهن وقامت بينهن في صلاة مكتوبة</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">’Aisyah dulu pernah mengimami para wanita dan beliau berdiri (sejajar) dengan mereka ketika melaksanakan shalat wajib.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. ‘Abdur Rozak, Ad Daruquthniy, Al Hakim dan Al Baihaqi. An Nawawi mengatakan bahwa sanad hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><b>. </b><span style="font-weight: 400;">Namun hadits ini dilemahkan/ didho’ifkan oleh Syaikh Al Albani, namun dia memiliki penguat dari hadits Hujairoh binti Husain. Lihat </span><b><i>Tamamul Minnah, hal. 154</i></b><b>)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga hal yang sama dilakukan oleh Ummu Salamah. Dari Hujairoh binti Husain, dia mengatakan:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أمتنا أم سلمة في صلاة العصر قامت بيننا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Ummu Salamah pernah mengimami kami (para wanita) ketika shalat Ashar dan beliau berdiri di tengah-tengah kami.” </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Abdur Rozak, Ibnu Abi Syaibah, Al Baihaqi. Riwayat ini memiliki penguat dari riwayat lainnya dari jalur Qotadah dari Ummul Hasan)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ummul Hasan juga pernah melihat Ummu Salamah –istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- mengimami para wanita (dan Ummu Salamah berdiri) di shaf mereka. (Atsar ini adalah atsar yang bisa diamalkan sebagaimana kata Syaikh Al Albani dalam </span><b><i>Tamamul Minnah, hal. 504</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada pula ulama yang menganjurkan shalat jama’ah bagi wanita dengan sesama mereka berdasarkan hadits dalam riwayat Abu Daud dalam Bab “</span><i><span style="font-weight: 400;">Wanita sebagai imam</span></i><span style="font-weight: 400;">”,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَزُورُهَا فِى بَيْتِهَا وَجَعَلَ لَهَا مُؤَذِّنًا يُؤَذِّنُ لَهَا وَأَمَرَهَا أَنْ تَؤُمَّ أَهْلَ دَارِهَا. قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ فَأَنَا رَأَيْتُ مُؤَذِّنَهَا شَيْخًا كَبِيرًا.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengunjungi Ummu Waroqoh di rumahnya. Dan beliau memerintahkan seseorang untuk adzan. Lalu beliau memerintah Ummu Waroqoh untuk mengimami para wanita di rumah tersebut.”</span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">‘Abdurrahman (bin Khollad) mengatakan bahwa yang mengumandangkan adzan tersebut adalah seorang pria tua</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>hasan</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pelajaran penting</span><span style="font-weight: 400;">: Dalam shalat jama’ah jika yang melaksanakannya adalah sesama wanita dan salah satu wanita menjadi imam, maka yang menjadi imam berdiri di tengah-tengah shaf dan bukan maju ke depan.</span></p>
<h2><b>Shalat Jama’ah Wanita Bersama Pria</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini dibolehkan bagi wanita, baik wanita itu sendiri sebagai makmum atau bersama makmum wanita lainnya atau dia berada di belakang jama’ah pria. Hal ini berdasarkan banyak dalil di antaranya adalah hadits dari Anas.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Anas mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Aku shalat bersama seorang anak yatim di rumah kami secara jama’ah di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ibuku –yakni Ummu Salamah (nama aslinya adalah Rumaysho)- berada di belakang kami.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari dan Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Begitu juga terdapat hadits dari Ummu Salamah. Dia mengatakan, “</span><i><span style="font-weight: 400;">Setelah</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam, ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari)</span></p>
<h2><b>Tidak Dibolehkan Wanita yang Bukan Mahrom Bermakmum di Belakang Seorang Pria</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Kalau seorang wanita bermakmum di belakang suami atau yang masih mahrom dengannya, ini dibolehkan karena tidak ada </span><b><i>ikhtilath</i></b><span style="font-weight: 400;"> yaitu campur baur yang terlarang di antara pria dan wanita karena masih mahrom.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun jika wanita tersebut bermakmum sendirian di belakang imam yang bukan mahrom tanpa ada jama’ah wanita atau pria lainnya, maka ini terlarang. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya. </span></i><span style="font-weight: 400;">(HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini </span><i><span style="font-weight: 400;">shohih ligoirihi</span></i><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun boleh jika ada wanita yang lain, sedangkan imamnya sendiri tanpa ada jama’ah pria karena pada saat ini sudah tidak ada fitnah (godaan dari wanita). Akan tetapi, jika masih ada fitnah, tetap hal ini tidak dibolehkan. (Lihat </span><b><i>Shahih Fiqih Sunnah</i></b><span style="font-weight: 400;">, Abu Malik, 510)</span></p>
<h2><b>Yang Lebih Baik Bagi Wanita Adalah Shalat Di Rumahnya</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Wanita tetap diperkenankan mengerjakan shalat berjama’ah di masjid, namun shalat wanita lebih baik adalah di rumahnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Janganlah kalian melarang istri-istri kalian untuk ke masjid, namun shalat di rumah mereka (para wanita) tentu lebih baik.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini </span><b><i>shahih</i></b><span style="font-weight: 400;">)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lihat pembahasan terkait di sini.</span></p>
<h2><b>3 Syarat yang Harus Dipenuhi Wanita Jika Ingin Melakukan Shalat Jama’ah Di Masjid</b></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama</span><span style="font-weight: 400;">, minta izin kepada suami atau mahrom terlebih dahulu dan hendaklah suami tidak melarangnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ إِلَى الْمَسَاجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika istri kalian meminta izin pada kalian untuk ke masjid, maka izinkanlah mereka.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Muslim). An Nawawi membawakan hadits ini dalam Bab “Keluarnya wanita ke masjid, jika tidak menimbulkan fitnah dan selama tidak menggunakan harum-haruman.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bahkan tidak boleh seseorang menghalangi wanita atau istrinya ke masjid sebagaimana dapat dilihat dalam kisah berikut. Lihatlah kisah Bilal bin Abdullah bin ‘Umar dengan ayahnya berikut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalam Shohih Muslim no. 442 dari jalan Salim bin Abdullah bin Umar bahwasanya Abdullah bin ‘Umar berkata, “Aku mendengar Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ إِذَا اسْتَأْذَنَّكُمْ إِلَيْهَا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Janganlah kalian menghalangi istri-istri kalian untuk ke masjid. Jika mereka meminta izin pada kalian maka izinkanlah dia.</span></i><span style="font-weight: 400;">”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian Bilal bin Abdullah bin ‘Umar mengatakan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">وَاللَّهِ لَنَمْنَعُهُنَّ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Demi Allah, sungguh kami akan menghalangi mereka.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu Abdullah bin ‘Umar mencaci Bilal dengan cacian yang keras yang aku belum pernah mendengar sama sekali cacian seperti itu dari beliau. Kemudian Ibnu Umar mengatakan, “Aku mengabarkan padamu hadits Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">, lalu engkau katakan, ‘</span><i><span style="font-weight: 400;">Demi Allah, kami akan mengahalangi mereka!!</span></i><span style="font-weight: 400;">’</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kedua</span><span style="font-weight: 400;">, tidak boleh menggunakan harum-haruman dan perhiasan yang dapat menimbulkan fitnah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">أَيُّمَا امْرَأَةٍ أَصَابَتْ بَخُورًا فَلاَ تَشْهَدْ مَعَنَا الْعِشَاءَ الآخِرَةَ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Wanita mana saja yang memakai harum-haruman, maka janganlah dia menghadiri shalat Isya’ bersama kami</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Zainab -istri ‘Abdullah- mengatakan bahwa Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam mengatakan pada para wanita,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">إِذَا شَهِدَتْ إِحْدَاكُنَّ الْمَسْجِدَ فَلاَ تَمَسَّ طِيبًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Jika salah seorang di antara kalian ingin mendatangi masjid, maka janganlah memakai harum-haruman</span></i><span style="font-weight: 400;">.” (HR. Muslim)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketiga</span><span style="font-weight: 400;">, jangan sampai terjadi ikhtilath (campur baur yang terlarang antara pria dan wanita) ketika masuk dan keluar dari masjid.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalilnya adalah hadits dari Ummu Salamah:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 18pt;">كان رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا سلم قام النساء حين يقضي تسليمه ويمكث هو في مقامه يسيرا قبل أن يقوم . قال نرى – والله أعلم – أن ذلك كان لكي ينصرف النساء قبل أن يدركهن أحد من الرجال</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salam dan ketika itu para wanita pun berdiri. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tetap berada di tempatnya beberapa saat sebelum dia berdiri. Kami menilai –wallahu a’lam- bahwa hal ini dilakukan agar wanita terlebih dahulu meninggalkan masjid supaya tidak berpapasan dengan kaum pria.</span></i><span style="font-weight: 400;">” (HR. Bukhari)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga kita selalu mendapatkan ilmu yang bermanfaat.</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.</span></i></p>
<p> </p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><a href="https://rumaysho.com/27929-adakah-qadha-shalat-bagi-wanita-haidh-sudah-mendapati-waktu-shalat-lantas-datang-haidh.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Adakah Qadha Shalat bagi Wanita Haidh? (Sudah Mendapati Waktu Shalat Lantas Datang Haidh)</strong></span></a></li>
<li><a href="https://rumaysho.com/8445-kapan-wanita-shalat-zhuhur-di-hari-jumat.html"><span style="color: #ff0000;"><strong>Kapan Wanita Shalat Zhuhur di Hari Jumat?</strong></span></a></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kamis sore, 20 Rabi’ul Akhir 1430 H</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artikel https://rumaysho.com</span></p>
 