
<h2>Bahtera Nabi Nuh <em>‘Alaihissalam</em> Kapal Penyelamat Umat yang Taat</h2>
<p>Kaum <strong>Nabi Nuh</strong> <em>‘alaihissalam</em> terus-menerus menentang apa yang beliau dakwahkan. Kadar kekufuran, kejahatan, dan pembangkangan mereka –baik dengan perkataan maupun perbuatan—sudah mencapai puncaknya. Para orang tua, apabila melihat anaknya sudah beranjak dewasa, selekas mungkin berwasiat agar jangan beriman kepada Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> serta hendaklah terus memerangi dan menyelisihi beliau.<br>
<!--more--><br>
Maka lengkap sudah kejahatan dan kesalahan yang terkumpul pada kaum Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em>. Mereka telah kufur dan berbuat kejahatan secara merata. Kaum Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> benar-benar durhaka sampai mengingkari kerasulan Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> di akhirat. Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> menyimpulkan bahwa pada diri mereka sudah tidak ada harapan kebaikan sama sekali. Maka Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> berdoa kepada Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> agar memberikan pelajaran setimpal kepada mereka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p class="arab">فَدَعَا رَبَّهُ أَنِّي مَغْلُوبٌ فَانْتَصِرْ</p>
<p>“<em>Maka dia (Nabi Nuh) berdoa kepada Robb-nya: ‘Sesungguhnya diriku telah dikalahkan, maka tolonglah (aku).</em>’” (QS. Al-Qomar: 10)</p>
<p class="arab">وَقَالَ نُوحٌ رَّبِّ لاَتَذَرْ عَلَى اْلأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا</p>
<p><em>(Nabi Nuh) berkata: “Wahai Robb-ku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang <a href="http://kisahmuslim.com/nabi-nuh-dan-kaumnya/" target="_blank">kafir</a> itu tinggal di atas bumi</em>.” (QS. Nuh: 26)</p>
<h2>Perintah Membuat Bahtera</h2>
<p>Pada akhirnya Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mengabulkan doa Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em>. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> mewahyukan keapda Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> bahwasanya akan menimpakan banjir besar pada kaumnya. Untuk itu Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan kepada Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> untuk membuat sebuah bahtera yang amat besar. Bahtera itu akan memuat Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em>, orang-orang yang beriman, serta beragam makhluk yang mempunyai ruh yang dikehendaki Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> untuk tetap hidup sesudah banjir bandang menimpanya.</p>
<p>Pembuatan bahtera yang amat besar itu bukanlah hal yang sederhana. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> membimbing dan mengawasi secara langsung akan pembuatannya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyatakan,</p>
<p class="arab">وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا وَلاَتُخَاطِبْنِي فِي الَّذِينَ ظَلَمُوا إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ</p>
<p>“<em>Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami, dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku perihal orang-orang yang zalim itu. Sesungguhnya mereka nanti akan ditenggelamkan</em>.” (QS. Hud: 37)</p>
<h3>Bentuk Bahtera Nabi Nuh</h3>
<p>Ahli sejarah berselisih pendapat tentang panjang dan lebarnya bahtera tersebut. Ada yang menyatakan panjangnya 80 <em>dziro’</em> dan lebarnya 50 <em>dziro’</em>, ada yang menyatakan panjangnya 300 <em>dziro’</em> dan lebarnya 50 <em>dziro’</em>. Kalau 1 <em>dziro</em><em>’</em> samadengan 0,5 meter, hitunglah berapa luasnya. Tetapi mereka bersepakat bahwa tingginya 30 <em>dziro</em><em>’</em>.</p>
<p>Perahu itu mempunyai 3 lantai, lantai dasar untuk binatang buas dan merayap, lantai kedua untuk manusia, dan lantai ketiga untuk unggas dan burung-burung. Bahtera itu mempunyai pintu yang terletak di tengah dan mempunyai daun pintu yang mengunci rapat dari atas. Di setiap ruas kayu, baik dari dalam maupun luar, dilumuri dengan tir yang berfungsi menahan air agar tidak bisa masuk.</p>
<p>Ketika Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> memulai membuat bahtera. Kaumnya bukannya makin sadar akan kekhilafan mereka, tetapi malah menjadi-jadi dalam mengejeknya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menceritakan,</p>
<p class="arab">وَيَصْنَعُ الْفُلْكَ وَكُلَّمَا مَرَّ عَلَيْهِ مَلأٌ مِّن قَوْمِهِ سَخِرُوا مِنْهُ قَالَ إِن تَسْخَرُوا مِنَّا فَإِنَّا نَسْخَرُ مِنكُمْ كَمَا تَسْخَرُونَ</p>
<p>“<em>Dan mulailah Nabi Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nabi Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nabi Nuh, ‘jika kalian mengejek kami maka sesungguhnya kami pun nanti akan mengejek kalian sebagaimana kalian mengejek kami</em>.” (QS. Hud: 38)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menghibur Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> untuk jangan bersedih hati atas apa yang mereka lakukan. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> telah memberi kabar kepadanya bahwa sekali-kali tidak akan bertambah orang yang beriman dari kaumnya. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> menyatakan,</p>
<p class="arab">وَأُوحِيَ إِلَى نُوحٍ أَنَّهُ لَن يُؤْمِنَ مِن قَوْمِكَ إِلاَّ مَنْ قَدْ ءَامَنَ فَلاَتَبْتَئِسْ بِمَاكَانُوا يَفْعَلُونَ</p>
<p><em>Dan diwahyukan kepada Nuh, bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan.</em> (QS. Hud: 36)</p>
<h3>Ketika Banjir Besar Datang</h3>
<p>Setelah pembuatan bahtera selesai, datanglah apa yang Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> janjikan kepada Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> dan kaumnya. Tiba-tiba Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan langit untuk mengguyur bumi dengan air yang deras, disusul bumi agar memancarkan air dari segala penjuru dengan cepat, tungku-tungku tempat perapian pun berubah menjadi mata air yang tak henti-hentinya. Bertemulah sumber air yang melimpah baik dari atas maupun dari bawah.</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> agar segera nabik bahtera beserta orang-orang yang beriman dan keluarganya, dan tidak memberi masa tenggang waktu, barangkali orang-orang yang sebelumnya jelas-jelas tidak beriman mau diajak. Berbagai macam binatang dengan pasangannya berbondong-bondong mengikutinya. Setelah seluruh muatan sudah naik, maka Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> berkata kepada seisi makhluk yang ada di bahtera tersebut,</p>
<p class="arab">وَقَالَ ارْكَبُوا فِيهَا بِسْمِ اللهِ مَجْرَاهَاوَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ</p>
<p>“<em>Dan (Nabi Nuh) berkata, ‘Naiklah kalian ke dalam bahtera dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Robb-ku benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang</em>.” (QS. Hud: 41)</p>
<p>Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memerintahkan mereka berdoa,</p>
<p class="arab">فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ {28} وَقُل رَّبِّ أَنزِلْنِي مُنزَلاً مُبَارَكًا وَأَنتَ خَيْرُ الْمُنزِلِينَ {29}</p>
<p>“<em>Segala puji bagi Allah yang menyelamatkan kami dari kaum yang zholim.“Dan katakanlah, ‘Wahai Robb-ku, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik yang memberi tempat</em>.” (QS. Al-Mu’minun: 28-29)</p>
<p>Saat itu seisi bumi dipenuhi dengan air, baik gunungnya, bukitnya, padang pasirnya, bagian datarnya dan jurangnya. Kebanyakan para ahli tafsir mengatakan bahwa ketinggian air kala itu di atas permukaan gunung yang paling tinggi 15 <em>dziro</em><em>’</em>.</p>
<p>Bumi saat itu betul-betul tidak bertepi. Semuanya dipenuhi dengan air. Bahtera itu melewati ombak yang tingginya bagaikan gunung-gunung. Semua kaum Nabi Nuh <em>‘alaihissalam</em> yang membangkang dibinasakan oleh Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> hingga tak tersisa seorang pun. Mereka tenggelam bersama kepongahan terhadap syariat nabi mereka. Mereka tenggelam bersama kesombongan kepada ajaran nabi mereka. Itulah balasan bagi orang-orang yang menentang agama Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, dan orang yang zholim akan mengalami hal yang semisalnya.</p>
<p class="arab">مُّسَوَّمَةً عِندَ رَبِّكَ وَمَاهِيَ مِنَ الظَّالِمِينَ بِبَعِيدٍ</p>
<p>“<em>Dan siksaan itu tiadalah jauh dari orang-orang yang zholim</em>.” (QS. Hud: 83)</p>
<p>Sumber: Majalah Al-Mawaddah, Edisi 11 Tahun ke-1 Jumadal Tsaniyah 1429/Juni 2008</p>
<p><strong>Artikel <a href="http://kisahmuslim.com/">www.KisahMuslim.com</a></strong></p>
<p>Tags: Kapal nabi nuh, kisah nabi nuh, putra nabi nuh.</p>
 