
<h2><strong>Baik Sangka Dengan Orang Lain</strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Asy-Syafi’i mengatakan, </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">من أراد أن يقضي الله له بالخير فليحسن الظن بالناس</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Siapa saja yang ingin Allah takdirkan dengan takdir yang baik hendaknya berbaik sangka kepada orang lain.” (Bustanul Arifin karya Imam an-Nawawi hlm 116)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kunci nasib baik dan keberuntungan adalah baik sangka dengan orang lain, positif thinking dan memandang orang dengan cara pandang positif. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Orang yang berbaik sangka kepada orang lain akan bersikap baik kepada orang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Siapa yang bersikap baik kepada orang lain akan menjadi orang yang suka menolong. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah menolong orang yang suka menolong. Sehingga nasib baik akan selalu membersamai orang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><span style="font-weight: 400;">Baik sangka bukan berarti tidak waspada. Waspada ditujukan kepada orang yang memiliki gelagat yang “aneh”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Baik sangka itu ditujukan kepada orang yang tidak memiliki gelagat yang aneh. </span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 