
<p><span style="font-weight: 400;">Berikut pembahasan fikh kesehatan ringkas terkait wabah korona</span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">[1] Hukum shalat mengunakan masker ketika ada wabah adalah boleh/mubah</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Memang hukum asalnya menutup mulut adalah makruh karena ada ada hadits larangannya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">أَنَّ رَسُـوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنِ السَّدْلِ فِي الصَّلاَةِ وَأَنْ يَغْطِيَ الرَّجُلُ فَاهُ. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melarang sadl dan menutup mulut ketika shalat.”<strong>[HR, Tirmidzi &amp; Ibnu Majah]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> Tetapi ketika ada hajat penting karena wabah, maka hukumnya menjadi boleh. Sebagaimana kaidah</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><span style="font-weight: 400;">فكل مكروه عند</span> <span style="font-weight: 400;">الحاجة يُباح</span></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Semua hal makruh ketika ada hajat menjadi mubah”</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55437-berobat-dengan-sedekah.html" data-darkreader-inline-color="">Berobat Dengan Sedekah ?</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">[2] Boleh menjamak shalat bagi tenaga medis yang sedang berjaga di ruang isolasi dan memakai APD (Alat Pelindung Diri)</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di mana pemakaian APD terkadang ini tidak boleh dilepas dalam jangka waktu shit semisal 8 atau 12 jam. Petugas medis boleh menjamak shalat baik itu shalat jamak taqdim atau jamak takhir yang memudahkan mereka, karena ketika sudah memakai APD sulit untuk berwudhu dan tayammum. Hanya boleh jamak saja, tidak boleh diqashar karena qashar itu hanya hak orang yang musafir saja.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila masuk waktu subuh dan shalat subuh tidak bisa dijamak, dan saat itu petugas tidak bisa wudhu maupun tayammum, maka ia boleh shalat dalam keadaan tanpa wudhu dan tayammum. Sebagaimana shalat ketika perang sedang berkecamuk di bawah kilatan pedang, ia shalat semampunya tanpa wudhu dan tayammum. Hal ini adalah kemudahan dari Allah</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“</span><i><span style="font-weight: 400;">Bertakwalah kalian kepada Allah semampu kalian</span></i><span style="font-weight: 400;">.”<strong> [QS. At-Taghabun: 16]</strong></span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55406-bisakah-habbatus-sauda-dan-madu-mencegah-mengobati-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Bisakah Habbatus Sauda dan Madu Mencegah dan Mengobati Wabah?</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>[3] Hukumnya Boleh menggunakan hand sanitizer yang mengandung alkohol</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Karena alkohol itu secara zatnya tidak memabukkan. Yang memabukkan itu adalah “minuman beralkohol”, jadi bedakan antara alkohol dan “minuman beralkohol” kita ambil contoh misalnya alkohol 70% yang dipakai untuk hand sanitizer, apabila diminum tidak menyebabkan mabuk tetapi menyebabkan kematian. Jadi ‘iilat atau alasannya bukan karena ada alkoholnya tapi apakah menyebabkan mabuk atau tidak sebagaimana hadits dan kaidahnya:</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Setiap yang memabukan adalah khamr </span></i><strong>(HR. Muslim)</strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>[4] Pengurusan jenazah pasien yang terkena Covid19</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Pertama-tama kita doakan dahulu agar si mayit mendapatkan pahala mati syahid karena wabah. Ini pahala yang sangat besar. Jenazah pasien yang terkena masih bisa menularkan terutama cairan-cairan dari jenazah tersebut, sehingga dalam bentuk kehati-hatian jenazah pasien covid19 diperlakukan berbeda yaitu dibungkus plastik untuk melindungi agar tidak ada cairan yang keluar.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila keadaannya darurat seperti ini jika jezanah dishalatkan, dimandikan dan dikafankan oleh petugas yang terlatih dan memakai APD. Apabila tidak ada dan dalam keadaan darurat jenazah boleh tidak dimandikan tetapi ditayamumkan saja. Selebihnya MUI telah mengeluarkan fatwa terkait hal ini, silahkan merujuk pada fatwa MUI.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Silakan download: https://mui.or.id/produk/fatwa/27752/fatwa-no-18-tahun-2020-pedoman-pengurusan-jenazah-tajhiz-al-janaiz-muslim-yang-terinfeksi-covid-19/</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/55384-masjid-ditutup-karena-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Masjid Ditutup Karena Wabah</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 21pt;"><strong>[5] Shalat ghaib bagi jenazah yang terkena covid19</strong></span></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Shalat jezanah hukumnya fardhu kifayah artinya apabila sudah dishalatkan oleh tim penyelanggara jezanah khusus covid19, maka ini sudah mencukupi.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">An-Nawawi menjelaskan hal ini adalah ijma’,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الصلاة علي الميت فرض كفاية بلا خلاف عندنا وهو إجماع</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Shalat jenazah terhadap mayit hukumnya fardhu klfayah dan tidak ada perselisihan dalam mazhab kami, ini adalah ijma’” <strong>[Al-Majmu’ 5/167]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Lalu, apakah boleh shalat ghaib? Dalam hal ini kami memilih pendapat bahwa shalat ghaib itu khusus bagi jenazah yang tidak dishalatkan sama sekali sebagaimana Rasulullah<em> shallallahu ‘alahi wa sallam</em> yang melakukan shalat ghaib bagi raja Najasyi yang meninggal ditengah rakyatnya yang tidak beriman. Tentu tidak ada yang menshalatkan jenazah raja Najasyi. Begitu juga dengan kasus jenazah kapal tenggelam atau pesawat tenggelam yang tidak ditemukan jezanahnya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">الصواب أن الغائب إن مات ببلدٍ لم يصلَّ عليه فيه، صلي عليه صلاة الغائب، كما صلى النبي صلى الله عليه وسلم على النجاشي</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Pendapat yang benar adalah shalat ghaib dilakukan bagi mayit berada di daerah yang tidak ada yang menshalatkannya, maka kita shalat ghaib baginya sebagaimana Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> shalat ghaib untuk raja Najasyi.” <strong>[Zadul Ma’ad 1/301]</strong></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kita masih bisa melakukan kebaikan yang banyak untuk si mayit selain shalat ghaib yaitu dengan mendoakannya atau  bersedekah atas namanya. </span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55371-aku-tak-takut-corona-aku-hanya-takut-allah.html" data-darkreader-inline-color="">Aku Tak Takut Corona, Aku Hanya Takut Allah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/55340-konsep-islam-ketika-wabah.html" data-darkreader-inline-color="">Social Distancing, Lockdown, dan Menghindari Bersalaman Sementara dalam Konsep Islam ketika Wabah</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian semoga bermanfaat</span></p>
<p><strong>@ Lombok, Pulau seribu Masjid</strong></p>
<p><strong>Penyusun: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/raehan" data-darkreader-inline-color="">Raehanul Bahraen</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</a></span></strong></p>
 