
<h2><strong>Belajar Tidak Rajin Komentar </strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Iyas al-Ijli mengatakan:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">جَاهَدْتُ نَفْسِي فِيْ تَعَلُّمِ الصَّمْتِ عَشْرَ سِنِيْنَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kupaksa diriku untuk belajar diam selama sepuluh tahun.” (Fawaid Syaikh al-Ushaimi)</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ash-Shumtu itu diam padahal bisa berbicara. Pelajaran untuk diam dan tidak berkomentar kecuali pada tempatnya adalah pelajaran yang sulit, bisa bertahun-tahun lamanya. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hal ini karena syahwat yang demikian tinggi dalam diri manusia untuk berbicara, bercerita, berkomentar, bikin status medsos, dll.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk bisa menjadi orang yang bijak dalam bertutur kata bukanlah hal yang mudah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kiat penting agar bisa mengendalikan diri dalam berkomentar adalah menyadari bahwa semua ucapan kita itu akan diminta pertanggungjawaban di sisi Allah.</span></p>
<p><strong>Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S., M.P.I.</strong></p>
 