
<p>Apakah benar, makin sering bergaul dan bermedsos, makin banyak dosa?</p>
<p>Moga menemukan jawabannya dalam tulisan Rumaysho.Com kali ini.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p></p>
<p> </p>
<p> </p>
<h2>Banyak Bergaul, Semakin Banyak Dosa</h2>
<p>Thalhah bin ‘Ubaidillah <em>radhiyallahu ‘anhu</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">إِنَّ أَقَلَّ الْعَيْبِ عَلَى امْرِئٍ أَنْ يَجْلِسَ فِي بَيْتِهِ</span></p>
<p>“Semakin sering seseorang tinggal di rumahnya (meminimalisir pergaulan), semakin sedikit aibnya.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam <em>Al-‘Uzlah wa Al-Infirad</em>)[1]</p>
<p>Bahasa lainnya, meminimalisir pergaulan akan mengurangi dosa. Artinya, makin sering bergaul, potensi melakukan dosa makin banyak.</p>
<p>Imam Al-Ghazali <em>rahimahullah</em> pernah berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">وَكُلُّ مَنْ خَالَطَ النَّاسَ كَثُرَتْ مَعَاصِيْهِ وَإِنْ كَانَ تَقِيًّا</span></p>
<p>“Siapa saja yang bergaul dengan manusia, maka akan banyak maksiatnya, walaupun ia termasuk orang bertakwa.” (Dinukil dari <em>As-Siraaj Al-Muniir Syarh Al-Jaami’ Ash-Shaghiir fii Hadits Al-Basyir An-Nadziir</em>) [2]</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/17318-faedah-sirah-nabi-menyendiri-sebelum-kenabian.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Hidup Menyendiri ataukah Bergaul, Belajar dari Sirah Nabi</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<p>Hal di atas benar adanya, semakin banyak kita bergaul, kita sering berbuat dosa pribadi ataupun dosa sosial. Dosa pribadi seperti <a href="https://rumaysho.com/2460-nasehat-lukman-pada-anaknya-7-jangan-bertingkah-sombong.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>sombong</strong></span></a>, merendahkan orang lain, dan <a href="https://rumaysho.com/3142-hasad-dan-saling-hasud.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>hasad</strong></span></a>. Sedangkan dosa sosial seperti memfitnah dan <a href="https://rumaysho.com/9198-ghibah-itu-apa.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;"><strong>mengghibah</strong></span></a>.</p>
<p> </p>
<h2>Bergaul itu Sesuai Hajat</h2>
<p>Penjelasan sebelumnya, bukan berarti kita tidak boleh bergaul. Namun, bergaul yang tepat adalah sesuai hajat atau kebutuhan.</p>
<p>Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">فُضُوْلُ المخَالَطَةِ فِيْهِ خَسَرَاةُ الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَإِنَّمَا لِلْعَبْدِ أَنْ يَأْخُذَ مِنَ المخَالَطَةِ بِمِقْدَارِ الحَاجَةِ</span></p>
<p>“Banyak bergaul itu dapat mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat. Selaku hamba seharusnya bergaul sesuai kadar hajat saja.” (<em>Badaai’ Al-Fawaid</em>, 2:821)</p>
<p>Adapun bergaul ada beberapa bentuk menurut Ibnul Qayyim <em>rahimahullah</em> yaitu:</p>
<ol>
<li>Bergaul seperti orang yang membutuhkan makanan, terus dibutuhkan setiap waktu, contohnya adalah bergaul dengan para ulama.</li>
<li>Bergaul seperti orang yang membutuhkan obat, dibutuhkan ketika sakit saja, contohnya adalah bentuk muamalat, kerja sama, berdiskusi, atau berobat saat sakit.</li>
<li>Bergaul yang malah mendapatkan penyakit, misalnya ada penyakit yang tidak dapat diobati, ada yang kena penyakit bentuk lapar, ada yang kena penyakit panas sehingga tak bisa berbicara.</li>
<li>Bergaul yang malah mendapatkan racun, contohnya adalah bergaul dengan ahli bid’ah dan orang sesat, serta orang yang menyesatkan yang lain dari jalan Allah yang menjadikan sunnah itu bid’ah atau bid’ah itu menjadi sunnah, menjadikan perbuatan baik sebagai kemungkaran dan sebaliknya.</li>
</ol>
<p>Lihat <em>Badaa-i’ Al-Fawaid</em> (2:821-823).</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/25824-4-langkah-setan-banyak-memandang-makan-bicara-dan-bergaul.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia, Di Antaranya SALAH BERGAUL</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h2>Orang Berilmu itu Memberikan Manfaat pada Orang Lain</h2>
<p>Jika memang bisa memberikan manfaat pada orang lain seperti orang berilmu, maka ia bergaul karena maksud baik tersebut.</p>
<p>Dari Ibnu ‘Umar <em>radhiyallahu ‘anhuma</em>, Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> bersabda,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">الْمُؤْمِنُ الَّذِى يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ أَعْظَمُ أَجْرًا مِنَ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يُخَالِطُ النَّاسَ وَلاَ يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ</span></p>
<p>“<em>Seorang mukmin yang bergaul di tengah masyarakat dan bersabar terhadap gangguan mereka, itu lebih baik dari pada seorang mukmin yang tidak bergaul di tengah masyarakat dan tidak bersabar terhadap gangguan mereka.</em>” (HR. Tirmidzi, no. 2507. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).</p>
<p>Wahb bin Munabbih <em>rahimahullah</em> berkata,</p>
<p dir="rtl" align="center"><span style="font-size: 18pt;">الْمُؤْمِنُ يُخَالِطُ لِيَعْلَمَ، وَيَسْكُتُ لِيَسْلَمَ، وَيَتَكَلَّمُ لِيَفْهَمَ، وَيَخْلُو لِيَغْنَمَ</span></p>
<p>“Orang yang beriman itu bergaul untuk menambah ilmu, memilih untuk diam agar selamat dari dosa, berbicara untuk mendapat pemahaman, dan menyendiri agar mendapat keberuntungan.” (Disebutkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam Al-‘Uzlah dan Al-Infirad) [3]</p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/14342-manfaat-untuk-orang-banyak.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Manfaat untuk Orang Banyak</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3><strong>Keadaan tiap orang dalam bergaul ada dua:</strong></h3>
<ol>
<li>Yang bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, silakan ia bergaul karena sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat pada orang lain.</li>
<li>Yang tidak bisa memberikan manfaat ukhrawi dan duniawi, hendaklah ia bergaul dengan teman yang sifatnya bisa memberikan kebaikan ibaratnya seperti membutuhkan makanan yang jadi kebutuhan darurat, atau membutuhkan obat yang diperlukan jika ada hajat.</li>
</ol>
<p>Dua keadaan di atas sama halnya dengan bergaul di media sosial.</p>
<blockquote><p>Kesimpulannya, tidak selamanya bergaul dan bermedsos ditinggalkan, tergantung apakah ada manfaat ukhrawi ataukah duniawi yang diraih ataukah tidak.</p></blockquote>
<p><em>Semoga manfaat.</em></p>
<p> </p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">Baca juga: <a href="https://rumaysho.com/21196-raihlah-pahala-besar-dalam-amalan-mutaaddi.html" target="_blank" rel="noopener"><span style="color: #ff0000;">Raihlah Pahala Besar dari Amalan Muta’addi</span></a></span></strong></p>
<p> </p>
<h3 style="font-weight: 400;"><strong>Referensi kitab:</strong></h3>
<p style="font-weight: 400;"><em>Badaa-i’ Al-Fawaid</em>. Cetakan ketiga, Tahun 1433 H. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Penerbit Daar ‘Alam Al-Fawaid.</p>
<p> </p>
<h3 style="font-weight: 400;"><strong>Footnote:</strong></h3>
<p><a href="applewebdata://A917A300-74C8-4F64-98B9-FECC8E4E5399#_ftnref1" name="_ftn1">[1]</a> <a href="https://ar.islamway.net/article/76796/%D9%85%D8%A7-%D9%82%D9%84-%D9%88%D8%AF%D9%84-%D9%85%D9%86-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B2%D9%84%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D9%81%D8%B1%D8%A7%D8%AF-%D9%84%D8%A7%D8%A8%D9%86-%D8%A3%D8%A8%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%86%D9%8A%D8%A7">https://ar.islamway.net/article/76796/ما-قل-ودل-من-كتاب-العزلة-والانفراد-لابن-أبي-الدنيا</a></p>
<p><a href="applewebdata://A917A300-74C8-4F64-98B9-FECC8E4E5399#_ftnref2" name="_ftn2">[2]</a> <a href="https://al-maktaba.org/book/32982/321#p6">https://al-maktaba.org/book/32982/321#p6</a></p>
<p><a href="applewebdata://A917A300-74C8-4F64-98B9-FECC8E4E5399#_ftnref3" name="_ftn3">[3]</a> <a href="https://ar.islamway.net/article/76796/%D9%85%D8%A7-%D9%82%D9%84-%D9%88%D8%AF%D9%84-%D9%85%D9%86-%D9%83%D8%AA%D8%A7%D8%A8-%D8%A7%D9%84%D8%B9%D8%B2%D9%84%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%A7%D9%86%D9%81%D8%B1%D8%A7%D8%AF-%D9%84%D8%A7%D8%A8%D9%86-%D8%A3%D8%A8%D9%8A-%D8%A7%D9%84%D8%AF%D9%86%D9%8A%D8%A7">https://ar.islamway.net/article/76796/ما-قل-ودل-من-كتاب-العزلة-والانفراد-لابن-أبي-الدنيا</a></p>
<p> </p>
<p>–</p>
<p><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://darushsholihin.com"><strong>@ Darush Sholihin</strong></a></span>, 1 Syawal 1443 H</p>
<p>Oleh: <a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com/about-me">Muhammad Abduh Tuasikal</a></p>
<p>Artikel <span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://rumaysho.com">Rumaysho.Com</a></span></p>
 