
<p>Ikhlas adalah perjuangan sampai akhir usia, dan  ini adalah sebuah nasehat untuk hati yang sedang berjuang dalam kaikhlasan</p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Ikhlas, Sebuah Usaha Menuju Surga</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Surga, adalah cita-cita setiap insan. Namun tentu jalan menuju ke sana membutuhkan perjuangan berat. Di antaranya adalah dengan berusaha mengikhlaskan karena Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;"> segala aktivitas yang kita kerjakan. Sebagaimana perintah-Nya</span><i><span style="font-weight: 400;">,</span></i></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>“قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ”</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah sesungguhnya shalatku, sembelihanku, kehidupanku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb semesta alam”. </span></i><span style="font-weight: 400;">QS. Al-An’am (6): 162.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/27448-kesombongan-menghalangi-hidayah.html" data-darkreader-inline-color="">Kesombongan Menghalangi Hidayah</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Mereka yang Beramal karena Omongan Orang</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun sadarkah kita, seringkali kita berbuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu hanya karena omongan orang? Padahal bisa jadi sesuatu yang kita perbuat itu jelek dan sesuatu yang kita tinggalkan itu baik.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ada orang tidak ke masjid, karena khawatir diomongin tetangga sok alim. Ada muslimah tidak pakai jilbab menutup aurat, karena </span><i><span style="font-weight: 400;">ndak</span></i><span style="font-weight: 400;"> enak diomongin sok suci. Semua itu hanya karena takut omongan orang atau tidak enak dengan komentar orang.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ketahuilah bahwa </span><b>omongan orang itu tidak ada habisnya dan keridhaan mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk diraih.</b><span style="font-weight: 400;"> Sebab apa yang disukai si A belum tentu disukai si B. Begitu pula sebaliknya. Lebih baik kita mencari ridha Allah yang sudah jelas pasti mungkin dicapai.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Saat Anda menjadi baik, orang yang jahat tidak akan suka. Sebaliknya ketika Anda menjadi jahat, orang yang baik juga tidak akan suka. Mendingan Anda menjadi orang baik.</span></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/50984-perintah-pertama-dan-wasiat-terakhir-bag-2.html" data-darkreader-inline-color="">Perintah Pertama dan Wasiat Terakhir</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Nasehat Untukmu yang Berjuang untuk Ikhlas</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Satu hal penting yang harus kita ingat, bahwa saat kita meninggalkan kebaikan atau melakukan keburukan; dikarenakan omongan orang, ingat bahwa </span><b>orang tersebut tidak akan membantu kita kelak di akhirat!</b><span style="font-weight: 400;"> Dia tidak akan menolong kita saat masuk neraka. Juga tidak akan membantu kita untuk masuk surga. Jadi untuk apa omongan dia kita pertimbangkan?!</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masih segar dalam ingatan kita kisah Abu Thalib; pamanda Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">yang enggan masuk Islam. Tahukah Anda apa yang melatarbelakangi keputusan fatal tersebut? Tidak lain karena kekhawatiran beliau terhadap omongan kaumnya! Dia bersyair,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلقَدْ عَلِمْتُ بِأَنَّ دِينَ مُحَمَّدٍ … مِنْ خَيرِ أَدْياَنِ البَرِيَّـةِ دِيناً</b><b><br>
</b><b>لَوْ لَا المَلاَمَةَ أَوْ حَذَارَ مَسَبَّةٍ … لَوَجَدْتَنِي سَمْحًا بِذَاكَ مُبِيناً</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sungguh, aku yakin bahwa agama Muhammad adalah agama terbaik di muka bumi ini</span></i><i><span style="font-weight: 400;"><br>
</span></i><b><i>Andaikan bukan karena celaan dan khawatir adanya ejekan</i></b><i><span style="font-weight: 400;">, engkau akan mengetahui diriku menerima secara terang-terangan”.</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Imam Syafi’i berpetuah, “Barang siapa mengira ia bakal selamat dari omongan orang, sungguh ia adalah orang yang tidak waras. Sebab Allah saja tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai-Nya tiga. Begitu pula Muhammad tidak selamat dari omongan orang. Ada yang mengatai beliau tukang sihir dan orang gila”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jadi, anggaplah omongan orang itu bagaikan bongkahan-bongkahan batu besar. Engkau akan rugi bila bongkahan-bongkahan itu engkau letakkan di atas pundakmu. Sebab lama kelamaan pundakmu akan ambruk. Sebaliknya engkau akan beruntung, saat kau tumpuk bongkahan-bongkahan itu di bawah telapak kakimu. Karena engkau akan semakin tinggi berpijak di atasnya.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47721-larangan-berlebihan-dalam-memuji.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Berlebihan dalam Memuji</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/47511-menjaga-lisan-di-era-media-sosial.html" data-darkreader-inline-color="">Menjaga Lisan di Era Media Sosial</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;"> <strong> Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Jum’at, 16 J. Tsaniyah 1437 H / 25 Maret 2016</strong></span></p>
<p><strong>Penulis:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abdullahzaen" data-darkreader-inline-color=""> Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 