
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Termasuk keimanan terhadap hari akhir adalah beriman dengan tiupan sangkakala pada hari kiamat. Ini adalah peristiwa yang sangat mengerikan, yaitu peristiwa pertama kali yang terjadi pada hari kiamat. Malaikat Israfil meniup sangkakala pada hari kiamat sesuai perintah Allah Ta’ala. Di antara permasalahan yang menjadi perselisihan para ulama adalah berapa kali sangkakala ditiup pada hari kiamat kelak. Berikut kami sampaikan pendapat para ulama dan argumentasi (dalil) masing-masing pendapat terkait tiupan sangkakala.</span></span></p>

<h2 align="JUSTIFY">Sangkakala Ditiup sebanyak Tiga Kali</h2>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnul ‘Arabi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, dan Asy-Syaukani </span><span style="color: #000000;"><i>rahimahumullah.</i></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Tiupan pertama, disebut dengan </span><span style="color: #000000;"><i>nafkhotul faza’, </i></span><span style="color: #000000;">yaitu tiupan yang menyebabkan kaget, kepanikan, atau terkejutnya seluruh makhluk. </span><span style="color: #000000;"><span lang="">Tiupan ini juga menyebabkan perubahan dan rusaknya keteraturan alam dunia. Tiupan pertama ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">وَيَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَفَزِعَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ وَكُلٌّ أَتَوْهُ دَاخِرِينَ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Dan (ingatlah) hari (ketika) ditiup sangkakala, maka </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>terkejutlah</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i> segala yang di langit dan segala yang di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah. </i></span></span><span style="color: #000000;"><i>Dan mereka semua datang menghadap-Nya dengan merendahkan diri.” </i></span><span style="color: #000000;">(QS. An-Naml [27]: 87)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Tiupan ke dua, disebut dengan </span><span style="color: #000000;"><i>nafkhotu ash-sha’qi, </i></span><span style="color: #000000;">yaitu tiupan yang menyebabkan kematian seluruh makhluk. </span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Tiupan ke tiga, disebut dengan </span><span style="color: #000000;"><i>nafkhotul ba’tsi wan nusyuur, </i></span><span style="color: #000000;">yaitu tiupan dibangkitkannya seluruh makhluk.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Tiupan sangkakala ke dua dan ke tiga ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ نُفِخَ فِيهِ أُخْرَى فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Dan ditiuplah sangkakala, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>maka</b></i></span></span><i> </i><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>matilah</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i> siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i><b>maka tiba-tiba mereka berdiri</b></i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i> menunggu (putusannya masing-masing).” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(QS. Az-Zumar [39]: 68)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Tiupan ke tiga juga ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>Dan ditiuplah sangkalala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(QS. Yasin [36]: 51)</span></span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/44134-kenapa-seseorang-lari-dari-istri-anak-dan-ayah-ibunya-di-hari-kiamat.html" target="_blank" rel="noopener">Kenapa Seseorang Lari dari Anak, Istri, dan Orang Tuanya di Hari Kiamat?</a></strong></em></p>
</blockquote>
<h2 align="JUSTIFY">Sangkakala Ditiup sebanyak Dua Kali</h2>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Abbas, Al-Hasan Al-Bashri, Qatadah, Al-Qurthubi dan Ibnu Hajar </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahumullah. </i></span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Tiupan sangkakala yang pertama disebut dengan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>nafkhotul faza’ wa ash-sha’qi, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">yaitu tiupan yang menyebabkan terkejutnya seluruh makhluk sehingga menyebabkan kematian mereka. Menurut ulama yang berpendapat tiupan sebanyak dua kali, </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>nafkhotul faza’ </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">dan </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>nafkhotu ash-sha’qi </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">ini dua hal yang terjadi dalam satu waktu (satu tiupan), bukan dua tiupan yang terpisah. Artinya, mereka terkejut dan kemudian mati karenanya.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Para ulama yang berpendapat dua kali, mereka berdalil dengan firman Allah Ta’ala,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ تَتْبَعُهَا الرَّادِفَةُ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>(Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan) pada hari ketika tiupan pertama menggoncang alam. Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan ke dua.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(QS. An-Nazi’at [79]: 6-7)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Ketika menjelaskan ayat di atas, Ibnu Katsir </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">berkata,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: هَمًّا النَّفْخَتَانِ الْأُولَى وَالثَّانِيَةُ، وَهَكَذَا قَالَ مُجَاهِدٌ وَالْحَسَنُ وَقَتَادَةُ وَالضَّحَّاكُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<i>Ibnu ‘Abbas berkata,’Keduanya adalah tiupan pertama dan ke dua.’ Dan demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, Al-Hasan, Qatadah, Adh-Dhahhak, dan yang lainnya.” </i></span><span style="color: #000000;">(</span><span style="color: #000000;"><i>Tafsir Ibnu Katsir, </i></span><span style="color: #000000;">8/315)</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Mereka juga berdalil dengan hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah </span><span style="color: #000000;"><i>radhiyallahu ‘anhu,</i></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<i>(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” </i></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(HR. Bukhari no. 4935)</span></span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/7368-hari-kebangkitan.html" target="_blank" rel="noopener">Hari Kebangkitan</a></strong></em></p>
</blockquote>
<h2 align="JUSTIFY">Pendapat yang Lebih Kuat Tentang Tiupan Sangkakala</h2>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Di antara dua pendapat tersebut, yang lebih tepat adalah pendapat yang ke dua, bahwa sangkakala ditiup sebanyak dua kali pada hari kiamat. Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin ‘Amr </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu, </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">dalam sebuah hadits yang panjang di dalamnya diceritakan,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="font-size: 18pt;">… ثُمَّ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ، فَلَا يَسْمَعُهُ أَحَدٌ إِلَّا أَصْغَى لِيتًا وَرَفَعَ لِيتًا، قَالَ: وَأَوَّلُ مَنْ يَسْمَعُهُ رَجُلٌ يَلُوطُ حَوْضَ إِبِلِهِ، قَالَ: فَيَصْعَقُ، وَيَصْعَقُ النَّاسُ، ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ – أَوْ قَالَ يُنْزِلُ اللهُ – مَطَرًا كَأَنَّهُ الطَّلُّ أَوِ الظِّلُّ – نُعْمَانُ الشَّاكُّ – فَتَنْبُتُ مِنْهُ أَجْسَادُ النَّاسِ، ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ أُخْرَى، فَإِذَا هُمْ قِيَامٌ يَنْظُرُونَ …</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“ … <span lang=""><i>Kemudian ditiuplah sangkakala. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya kecuali dia memasang pendengarannya dan menjulurkan lehernya. Beliau bersabda,’Maka orang yang pertama kali mendengarnya adalah seseorang yang memperbaiki telaga untuk untanya.’ </i></span></span><span style="color: #000000;"><i>Beliau berkata,’Dia pun mati, dan orang-orang pun mati.’ Kemudian Allah mengirim –atau beliau berkata,’Menurunkan’- hujan gerimis atau naungan –Nu’man (salah seorang perawi) ragu-ragu- yang darinya Allah menumbuhkan (membangkitkan) jasad-jasad manusia. Kemudian ditiuplah sangkakala yang ke dua, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing) …” </i></span><span style="color: #000000;">(HR. Muslim no. 2940).</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Maka di dalam hadits tersebut dijelaskan bahwa ketika sangkakala ditiup pertama kali dan didengar manusia, maka mereka pun mati. Kemudian ditiuplah sangkakala ke dua kalinya, maka bangkitlah manusia dari kuburnya dan menunggu putusannya masing-masing.</span> <span style="color: #000000;"> Dua tiupan ini juga ditunjukkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah </span><span style="color: #000000;"><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span><span style="color: #000000;">di atas.</span></p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://muslim.or.id/59152-kengerian-di-hari-kiamat.html" target="_blank" rel="noopener">Kengerian di Hari Kiamat</a></strong></em></p>
</blockquote>
<h2 align="JUSTIFY">Jarak antara Dua Tiupan Sangkakala</h2>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">Abu Hurairah </span><span style="color: #000000;"><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span><span style="color: #000000;">berkata, Rasulullah </span><span style="color: #000000;"><i>shallallahu ‘alaihi wa sallam </i></span><span style="color: #000000;">bersabda,</span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">«مَا بَيْنَ النَّفْخَتَيْنِ أَرْبَعُونَ» قَالُوا: يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَرْبَعُونَ يَوْمًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ شَهْرًا؟ قَالَ: أَبَيْتُ، قَالُوا: أَرْبَعُونَ سَنَةً؟ قَالَ: أَبَيْتُ</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<span lang=""><i>(Jarak) antara dua tiupan adalah empat puluh.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Para sahabat bertanya,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Wahai Abu Hurairah, apakah empat puluh hari?” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Abu Hurairah menjawab,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Aku enggan.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Mereka bertanya lagi,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Empat buluh bulan?” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Abu Hurairah menjawab,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Aku enggan.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Mereka bertanya lagi,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Empat puluh tahun?” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">Abu Hurairah menjawab,</span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>”Aku enggan.” </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">(HR. Bukhari no. 4935)</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Maksudnya, Abu Hurairah </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>radhiyallahu ‘anhu </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">enggan untuk menegaskan atau memastikan apakah empat puluh hari, empat puluh bulan, atau empat puluh tahun. Akan tetapi yang pasti adalah bahwa jaraknya empat puluh. Dikatakan juga bahwa jarak dua tiupan ini adalah di antara perkara yang tidak diketahui kecuali Allah Ta’ala.</span></span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">Ibnu Hajar </span></span><span style="color: #000000;"><span lang=""><i>rahimahullah </i></span></span><span style="color: #000000;"><span lang="">mengatakan,</span></span></p>
<p class="arab" dir="RTL" align="CENTER"><span style="color: #000000; font-size: 18pt;">ومعناه امتنعت من تبيينه لأني لا أعلمه فلا أخوض فيه بالرأي</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;">“<i>Maksudnya, aku tidak bisa menjelaskan, karena aku tidak mengetahuinya. Maka aku tidak berbicara tentang hal itu hanya berdasarkan pendapat (logika).” </i></span><span style="color: #000000;">(</span><span style="color: #000000;"><i>Fathul Baari, </i></span><span style="color: #000000;">11/370)</span></p>
<p align="JUSTIFY">Semoga penjelasan singkat ini bermanfaat untuk kaum muslimin.</p>
<blockquote>
<p align="JUSTIFY"><em><strong>Baca Juga: <a href="https://buletin.muslim.or.id/beriman-kepada-malaikat/" target="_blank" rel="noopener">Beriman Kepada Malaikat</a></strong></em></p>
</blockquote>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY"><strong><span lang="">Referensi:</span></strong></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">[1] </span></span><span lang=""><i>Al-Imaan bimaa Ba’dal Maut: Masaail wa Dalaail, </i></span><span lang="">karya Ahmad bin Muhammad bin Shadiq An-Najar, Daar An-Nashihah Madinah KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 113-119.</span></p>
<p align="JUSTIFY"><span style="color: #000000;"><span lang="">[2] </span></span><span lang=""><i>Al-Irsyad ila Shahihil I’tiqod wa Ar-Radd ‘ala Ahli Asy-Syirki wal Ilhaad, </i></span><span lang="">karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan </span><span lang=""><i>hafidzahullah, </i></span><span lang="">Montada Althaqafa Riyadh KSA, cetakan pertama, tahun 1434, hal. 226-229.</span></p>
<p align="JUSTIFY">—</p>
<p align="JUSTIFY">Selesai disusun Sabtu pagi, Masjid Nasuha Rotterdam NL, 23 Jumadil Ula 1436</p>
<p lang="" align="JUSTIFY">Yang selalu mengharap ampunan Rabb-nya,</p>
<p align="JUSTIFY"><strong><span lang="">Penulis: </span><span lang="">M. Saifudin Hakim</span></strong></p>
<p align="JUSTIFY"><strong>Artikel Muslim.or.id</strong></p>
 