
<p><iframe src="https://w.soundcloud.com/player/?url=https%3A//api.soundcloud.com/tracks/518564493&amp;color=d5265f&amp;auto_play=false&amp;show_artwork=false&amp;hide_related=true&amp;show_comments=false&amp;show_user=false&amp;show_reposts=false" width="100%" height="166" frameborder="no" scrolling="no"></iframe></p>
<h2><strong>Hukum Bergerak lebih 3 kali Ketika Sholat</strong></h2>
<p><em>Saya srng mendengar orang yang bergerak lebih 3 kali dalam <a title="shalat" href="http://carasholat.com/" target="_blank">shalat</a>, bisa membatalkan shalatnya. Apa ini benar? apa dalilnya?</em></p>
<p><strong>Jawab:</strong></p>
<p><em>Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,</em></p>
<p>Sebelumnya kita perlu mempertegas bahwa yang dimaksud gerakan dalam pembahasan ini adalah gerakan yang bukan termasuk gerakan shalat.</p>
<p>Terdapat banyak dalil yang menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan gerakan yang bukan termasuk gerakan shalat, seperti menggendong cucu beliau, memindahkan orang, melepas sandal, membukakan pintu, bergerak maju, dan yang lainnya. Berikut beberapa riwayat tersebut,</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menggendong cucunya, bernama Umamah bintu Abil Ash. Ibunya Umamah bernama Zainab putri sulung Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam.</em></p>
<p>Dari Abu Qotadah radhiyallahu ‘anhu menceritakan,</p>
<p class="arab">أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا</p>
<p>Bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> shalat sambil menggendong Umamah putri Zainab bintu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apabila beliau sujud, beliau letakkan Umamah, dan apabila beliau bangkit, beliau menggendongnya. (HR. Bukhari 516, Muslim 543, dan yang lainnya).</p>
<p><strong>Kedua,</strong> Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memindahkan orang yang shalat bersama beliau.</p>
<p>Dari Ibnu Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma</em> menceritakan,</p>
<p class="arab">قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ، فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ بِرَأْسِي، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ</p>
<p>”Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> melakukan shalat malam, kemudian aku ikut <a title="shalat" href="http://store.yufid.com/jual/buku-sifat-shalat-nabi-al-albani/" target="_blank">shalat</a> bersama beliau. Aku berdiri di sebelah kiri beliau, lalu beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan beliau.” (HR. Bukhari 699, Muslim 763 dan yang lainnya).</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> beliau bergerak maju</p>
<p>Dari Jabir bin Abdillah <em>radhiyallahu ‘anhuma,</em></p>
<p class="arab">صَبَبْتُ لرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَضُوءًا، فَتَوَضَّأَ فَالْتَحَفَ بِإِزَارِهِ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ، وَأَتَى آخَرُ فَقَامَ عَنْ يَسَارِهِ، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي</p>
<p>“Saya menyediakan air untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian beliau berwudhu dan memakai sarung. Kemudian aku berdiri (jadi makmum) di sebelah kiri beliau, kemudian beliau memindahkanku ke sebelah kanannya. Lalu datang orang lain, dan dia berdiri di sebelah kiri beliau, ternyata beliau malah maju dan melanjutkan shalat.” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 1536)</p>
<p><strong>Keempat,</strong> beliau melepas sandal dan meletakkannya di sebelah kiri</p>
<p>Dari Abu Said al-Khudri <em>radhiyallahu ‘anhu,</em></p>
<p class="arab">بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ</p>
<p>Ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sedang mengimami para sahabat, tiba-tiba beliau melepas sandalnya dan meletakkannya di sebelah kiri. Para sahabat yang melihat beliau, langsung melepas sandal mereka… (HR. Ahmad 11877, Abu Daud 650 dan dishahihkan oleh Syuaib al-Arnauth).</p>
<p><strong>Kelima,</strong> beliau membuka pintu</p>
<p>Dari A’isyah<em> radhiyallahu ‘anha</em>, beliau menceritakan,</p>
<p class="arab">اسْتَفْتَحْتُ الْبَابَ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي تَطَوُّعًا وَالْبَابُ عَلَى الْقِبْلَةِ فَمَشَى عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ يَسَارِهِ، فَفَتَحَ الْبَابَ ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ</p>
<p>”Saya minta dibukakan pintu, sementara Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> sedang shalat sunah, dan pintu ada di arah kiblat. Kemudian beliau berjalanan serong kanan atau serong kiri, lalu membuka pintu dan kembali ke tempat shalatnya.” (HR. Nasai 1206, Abu Daud 922 dan dihasankan al-Albani)</p>
<p>Dan masih banyak beberapa riwayat lainnya yang menunjukkan gerakan beliau ketika shalat.</p>
<p>Bisa dipastikan, gerakan yang beliau lakukan lebih dari 3 kali. Sementara beliau sama sekali tidak membatalkan shalat yang sedang beliau kerjakan. Semua ini dalil bahwa gerakan di luar shalat yang lebih dari 3 kali, tidak membatalkan shalat.</p>
<p>Kapan gerakan itu bisa membatalkan shalat?</p>
<p>Imam Ibnu Al-Utsaimin menjelaskan bahwa gerakan selain bagian dari shalat, yang dilakukan ketika shalat tidak secara mutlak bisa membatalkan shalat. Gerakan itu terhitung membatalkan shalat jika terpenuhi beberapa syarat. Beliau menyebutkan,</p>
<p class="arab">الشُّروط لإِبطال الصَّلاة بالعمل الذي مِن غير جنسها أربعة:</p>
<p class="arab">1 ـ أنه كثير.</p>
<p class="arab">2 ـ من غير جنس الصَّلاة.</p>
<p class="arab">3 ـ لغير ضرورة.</p>
<p class="arab">4 ـ متوالٍ، أي: غير متفرِّق</p>
<p>Syarat batalnya shalat karena melakukan gerakan selain bagian dari shalat ada empat:</p>
<p>1. Sering</p>
<p>2. Bukan bagian dari gerakan shalat</p>
<p>3. Tidak ada kebutuhan mendesak</p>
<p>4. Berturut-turut, artinya tidak terpisah.</p>
<p>(As-Syarh al-Mumthi’, 3/354)</p>
<p>Beliau juga menjelaskan,</p>
<p>Jika gerakan yang banyak tersebut dilakukan secara terpisah-pisah maka tidak membatalkan sholat. Jika ia bergerak tiga kali pada raka’at yang pertama, kemudian bergerak lagi tiga kali di rakaat kedua, kemudian bergerak tiga kali juga di rakaat ketiga, dan bergerak juga tiga kali di rakaat keempat, maka jika seandainya gerakan-gerakan ini digabung tentunya banyak gerakannya, akan tetapi tatkala gerakan-gerakan tersebut terpisah-pisah maka jadi sedikit jika ditinjau pada setiap rakaat masing-masing, dan hal ini tidak membatalkan sholat. (Syarhul Mumti’ 3/351).</p>
<p><em>Allahu a’lam</em></p>
<p><strong>Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina <a title="konsultasi keluarga dan rubrik kesehatan" href="https://konsultasisyariah.com/" target="_blank" rel="nofollow">KonsultasiSyariah.com</a>)</strong></p>
<p><strong>Artikel ini didukung oleh Zahir Accounting <a title="Software Akuntansi Terbaik di Indonesia" href="http://zahiraccounting.com/id/" target="_blank" rel="dofollow">Software Akuntansi Terbaik di Indonesia</a>.</strong></p>
<blockquote>
<p>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</p>
<ul>
<li>SPONSOR hubungi: 081 326 333 328</li>
<li>DONASI hubungi: 087 882 888 727</li>
<li>Donasi dapat disalurkan ke rekening: 4564807232 (BCA) / 7051601496 (Syariah Mandiri) / 1370006372474 (Mandiri). a.n. Hendri Syahrial</li>
<li>Keterangan lebih lengkap: <a title="peluang menjadi sponsor dan muhsinin" href="https://konsultasisyariah.com/peluang-meraih-dua-keuntungan-berlipat-ganda" target="_blank">Peluang Menjadi Sponsor dan Donatur</a>
</li>
</ul>
</blockquote>
 