
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Bahaya Penyakit Asal Bunyi</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Asal bunyi, atau sering diringkas dengan istilah “asbun”, kerap dianggap sebagai suatu hal yang biasa. Banyak orang terjangkiti virus ini, namun tidak merasa bahwa dirinya sedang menderita sakit. Padahal penyakit yang satu ini efek bahayanya luar biasa. Dampak negatifnya akan terasa bukan hanya di dunia saja, tapi juga akan terbawa hingga ke akhirat.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dari Abu Hurairah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’ anhu,</span></i><span style="font-weight: 400;"> Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">menjelaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">“إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا؛ يَهْوِى بِهَا فِى النَّارِ أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ”</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Terkadang seorang hamba mengucapkan suatu kalimat tanpa ia perhatikan dampaknya, ternyata mengakibatkan dirinya </span></i><b><i>terjerumus ke dalam neraka sejauh jarak antara timur dan barat</i></b><i><span style="font-weight: 400;">”. </span></i><strong>[HR. Bukhari dan Muslim, dengan redaksi Muslim]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong> <strong><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/6442-bahaya-bicara-agama-tanpa-ilmu.html" data-darkreader-inline-color="">Inilah Bahaya Bicara Agama Tanpa Ilmu</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Asal Bunyi dalam Perkara Agama</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Banyak praktik asbun yang harus kita waspadai. Di antara yang paling berbahaya adalah </span><b>berbicara tentang hukum agama tanpa ilmu</b><span style="font-weight: 400;">. Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Ta’ala </span></i><span style="font-weight: 400;">menegaskan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَالْإِثْمَ، وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ، وَأَنْ تُشْرِكُوا<b> </b>بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا، وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya: </span><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah (wahai Muhammad), “Rabbku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang terlihat dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan zalim tanpa alasan yang benar. Dan (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu. Juga</span></i><b><i> (mengharamkan) kalian untuk berbicara tentang (hukum) Allah yang tidak kalian ketahui</i></b><i><span style="font-weight: 400;">”. </span></i><strong>(QS. Al-A’raf (7): 33.)</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jika dalam dunia medis dikenal adanya <em>mal praktek</em>, dalam ranah keulamaan pun juga ada hal serupa. Bahkan sejak empat belas abad lalu, Nabi kita </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ’alaihi wasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">sudah mengisyaratkan akan adanya fenomena tersebut,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama. Hingga jika tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga</span></i> <i><span style="font-weight: 400;">sesat dan menyesatkan”</span></i><span style="font-weight: 400;">. <strong>[HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin ‘Amr </strong></span><strong><i>radhiyallahu’anhuma</i>, dengan redaksi Bukhari.]</strong></p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/47202-selektif-dalam-menuntut-ilmu-agama.html" data-darkreader-inline-color="">Selektif Dalam Menuntut Ilmu Agama</a></strong></p>
<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Kejinya Lisan yang Memfitnah Sesama Muslim</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Di antara praktek asbun yang belakangan ini cukup mewabah, bahkan di antara mereka yang berpenampilan alim: </span><b>memfitnah sesama muslim</b><span style="font-weight: 400;">. Dengan berbekal gosip, mereka merusak kehormatan para ulama, ustadz dan saudara-saudara mereka seakidah. Hanya kepada Allah saja kita mengadu…</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Padahal, jauh-jauh hari Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu’alaihiwasallam </span></i><span style="font-weight: 400;">telah mengingatkan,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>“وَمَنْ قَالَ فِى مُؤْمِنٍ مَا لَيْسَ فِيهِ؛ أَسْكَنَهُ اللَّهُ رَدْغَةَ الْخَبَالِ حَتَّى يَخْرُجَ مِمَّا قَالَ”.</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Barang siapa membicarakan mukmin dengan sesuatu yang tidak benar adanya; niscaya Allah akan benamkan dia ke dalam kubangan nanahnya para penghuni neraka, hingga ia bertaubat dari perkataan tersebut“. </span></i><span style="font-weight: 400;"><strong>[</strong></span><strong>HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh al-Hakim, adz-Dzahaby dan al-Albany.]</strong></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Masih ada berbagai contoh lain praktek asbun. Maka berhati-hatilah!</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/41771-membicarakan-keburukan-penguasa-apakah-termasuk-ghibah.html" data-darkreader-inline-color="">Membicarakan Keburukan Penguasa, Apakah termasuk Ghibah?</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35776-larangan-menjadikan-agama-sebagai-bahan-candaan-dan-lawakan.html" data-darkreader-inline-color="">Larangan Menjadikan Agama Sebagai Bahan Candaan dan Lawakan</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p><span style="font-weight: 400;">  </span><span style="font-weight: 400;">Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, Kamis, 17 Muharram 1435 / 21 November 2013</span></p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="https://muslim.or.id/author/abdullahzaen" data-darkreader-inline-color="">Ustadz Abdullah Zaen, Lc. MA.</a></span></strong></p>
<p><strong>Artikel:<span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff3333;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color=""> Muslim.or.id</a></span></strong></p>
 