
<p>Setiap mukmin wajib meyakini bahwa Al-Qur’an adalah kitab yang berisi petunjuk kepada jalan keselamatan hidup. Dia termasuk dasar agama yang harus dipahami sebagai bagian esensial dari rukun iman. Dan sejak turunnya Al-Qur’an hingga zaman fitnah saat ini selalu saja ada orang atau pihak – pihak entah dari luar Islam maupun dari kalangan kaum muslimin sendiri yang melecehkan kitab Allah Al-Qur’an.</p>
<p>Orang jahiliyah yang menganut paganisme / menyembah berhala mereka sangat membenci Al-Qur’an hingga mereka berlomba-berlomba membuat ayat-ayat untuk menandinginya. Dan terbukti usaha nyata mereka gagal total. Begitu pula generasi setelahnya berpolemik hebat hingga terpecahnya beberapa aliran yang membahas seputar Al-Qur’an. Akhirnya tercetuslah pendapat kontraversi bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sebagaimana firqah mu’tazilah.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata : “Dan termasuk iman kepada Allah dan kitab-kitab-Nya yaitu beriman bahwasanya Al-Qur’an adalah Kalamulllah yang diturunkan, bukan makhluk. Dari-Nya dan kepada-Nya akan kembali, bahwasanya Alloh berkata secara hakikat dan Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah kalamullah yang sebenar-benarnya bukan perkataan orang lain dan tidak boleh memutlakkan perkataan bahwasanya Al-Qur’an adalah hikayat (ungkapan dari) firman Allah atau <em>ibarah</em> (terjemah) dari kalamullah. Bahkan, jika Al-Qur’an dibaca oleh manusia atau mereka menulisnya dalam mushaf, maka tidak keluar dengan hal itu bahwa ia (Al-Qur’an ) adalah Kalamullah yang sebenarnya, karena kalam (perkataan) itu disandarkan secara hakikat kepada yang mengatakannya pertama kali, bukan kepada yang mengatakannya sebagai penyampai atau perantaranya. Al-Qur’an adalah Kalamullah, huruf-hurufnya dan maknanya, dan bukan hanya hurufnya saja tanpa makna serta bukan maknanya saja tanpa huruf.</p>
<p>Al-Qur’an diturunkan oleh Allah عزّوجلّ kepada Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dengan perantaraan malaikat jibril, dari-Nya dimulai dan kepada-Nya akan kembali, dan ia merupakan mukjizat oleh Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم dan kebenaran orang yang membawa Risalah-Nya dan akan dijaga sampai hari kiamat” (Lihat <em>Mujmal Ushul Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah Fil ‘Aqidah</em>).</p>
<p>Pembahasan masalah Al-Qur’an sebagai firman Allah sangat penting diketahui siapa mukmin. Kesalahan fatal yang bisa menjerumuskan pada kekafiran tatkala menganggap Al-Qur’an adalah makhluk terutama ketika mengingkari sesuatu dari Al-Qur’an bahkan satu huruf sekalipun.</p>
<p>Imam Ibnu Abi Hatim Ar Razi dalam kitabnya ‘<em>Ahlus Sunnah Wa ‘Itiqaduddin</em> berkata : “barangsiapa yang beranggapan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk, maka ia telah kafir terhadap Allah Yang Maha Agung”.</p>
<p>Kekufuran yang mengeluarkan dari <em>millah</em> (Islam) dan barangsiapa yang ragu terhadap kekafirannya sedangkan ia paham, maka ia juga kafir. Beliau berkata : “Barangsiapa yang ragu terhadapa Kalamullah, kemudian ia tawaquf (diam) karena ragu – ragu, maka ia berkata :” Aku tidak tahu apakah ia makhluk atau bukan, maka ia adalah Jahmi (mengikuti faham Jahamiyah ) serta barangsiapa yang bertawaquf (diam) karena bodoh, maka ia harus diajari dan dinyatakan telah berbuat bid’ah, namun ia tidak dikafirkan”.</p>
<p>Dalam kitab <em>Al-Aqidah Ath- Thohawiyah</em> dinyatakan : “kita tidak membantah Al-Qur’an dan kita bersaksi bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah <em>Rabbul’alamin</em>, dibawa oleh <em>Ruhul Amin</em> (malaikat Jibril) diajarkan <em>sayyidul mursalin</em> Muhammad صلى الله عليه وسلم dan Al-Qur’an adalah kalam Allah عزّوجلّ yang tidak diserupai perkataan makhluk, kita tidak mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk juga kita tidak menyelisihi jama’atul muslimin”.</p>
<p>Dan para pembela kebenaran dari imam-imam terkemuka terus mendakwahkan bahwa Al-Qur’an bukan makhluk, hingga mereka disiksa karena teguh mempertahankan keimanannya. Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Al-Bukhari dengan penuh percaya diri mengatakan: “Al-Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk, sedang perkataan hamba dan suara mereka adalah makhluk. Seorang hamba yang membawa Al-Qur’an, suaranya adalah suara orang yang membaca dan perkataannya adalah firman Allah”.</p>
<p>Dari penjelasan diatas semoga keimanan kita semakin mantap dan termotivasi untuk memahami Al-Qur’an. Tidak boleh menafsirkannya dengan akal atau mentakwilkannya sebagaimana perkataan orang-orang sufi dengan perkataan Al-Qur’an ada yang zahir dan dan ada yang batin.</p>
<p>Semoga Allah mengokohkan keyakinan kita diatas kebenaran dan memudahkan langkah kita untuk memahaminya sebagaimana para salaf dahulu mempelajarinya. Saat ini zaman Al-Qur’an dijadikan ajang polemik dengan penafsiran yang mengikuti hawa nafsu. Semoga Allah عزّوجلّ menyelamatkan kaum muslimin dari cobaan ini.</p>
<p>***</p>
<p><strong>Referensi :</strong></p>
<ol>
<li>
<em>Syarah Aqidah Wasithiyah</em> (terjemah), Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Penerjemah Ust. Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Media Tarbiyah, Bogor 2009.</li>
<li>Kitab <em>Al-Aqidah Ath – Thohawiyah</em> (terjemah), Imam Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Ath-Thohawi, Tibyan, Solo, 2006.</li>
</ol>
<p>Penulis: Isruwanti Ummu Nashifa</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 