
<p>Terdapat beberapa hal yang berkaitan dengan keimanan kita terhadap kematian.</p>
<h3><strong>Pertama, kematian itu pasti datang</strong></h3>
<p>Kita harus meyakini bahwa siapa saja yang ada di dunia ini, baik penghuni langit dan bumi, baik manusia, jin, dan malaikat, dan makhluk Allah <em>Ta’ala </em>lainnya, pasti akan menjumpai kematian. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ</span></p>
<p>“<em>Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah</em>.” (QS. Al-Qashash: 88)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ</span></p>
<p>“<em>Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.</em>” (QS. Ali ‘Imran: 185)</p>
<p>Dari sahabat Ibnu ‘Abbas <em>radhiyallahu ‘anhuma, </em>beliau mengatakan bahwa Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam </em>pernah berdoa,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الَّذِي لَا يَمُوتُ وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ</span></p>
<p>“<em>A’UUDZU BI’IZZATILLAHILLLADZII LAA ILAAHA ILLAA ANTAL LADZII LAA YAMUUTU WAL JINNU WAL INSU YAMUUTUUNA (Saya berlindung dengan kekuasaan-Mu yang tiada sesembahan yang hak selain Engkau, yang tidak pernah mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati)</em>.” (HR. Bukhari no. 7383 dan Muslim no. 2717)</p>
<h3><strong>Kedua, ajal manusia sudah ditentukan, tidak akan lebih lama dan tidak akan lebih cepat</strong></h3>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاء أَجَلُهُمْ لاَ يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلاَ يَسْتَقْدِمُونَ</span></p>
<p>“<em>Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu. Apabila telah datang waktunya, mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya</em>.” (QS. Al-A’raf: 34)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَى أَجَلٌ مُّسَمًّى ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ</span></p>
<p>“<em>Dan Dialah yang menidurkan kamu di malam hari dan Dia mengetahui apa yang kamu kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kamu pada siang hari untuk disempurnakan umur(mu) yang telah ditentukan. Kemudian kepada Allahlah kamu kembali, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu kerjakan.</em>” (QS. Al-An’am: 60)</p>
<p>Dari ‘Abdullah bin Mas’ud <em>radhiyallahu ‘anhu, </em>dia berkata, “Ummu Habibah -istri Rasulullah- pernah berdoa sebagai berikut, ‘Ya Allah, berikanlah aku kenikmatan (panjangkanlah usiaku) bersama suamiku, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em> ayahku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu’awiyah.’”</p>
<p>Mendengar doa itu, Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em> berkata kepada istrinya Ummu Habibah <em>radhiyallahu ‘anha</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">قَدْ سَأَلْتِ اللهَ لِآجَالٍ مَضْرُوبَةٍ، وَأَيَّامٍ مَعْدُودَةٍ، وَأَرْزَاقٍ مَقْسُومَةٍ، لَنْ يُعَجِّلَ شَيْئًا قَبْلَ حِلِّهِ، أَوْ يُؤَخِّرَ شَيْئًا عَنْ حِلِّهِ، وَلَوْ كُنْتِ سَأَلْتِ اللهَ أَنْ يُعِيذَكِ مِنْ عَذَابٍ فِي النَّارِ، أَوْ عَذَابٍ فِي الْقَبْرِ، كَانَ خَيْرًا وَأَفْضَلَ</span></p>
<p>“<em>Sesungguhnya kamu memohon kepada Allah ajal, kematian, dan rezeki yang telah ditentukan. Allah tidak akan mengajukan ataupun memundurkan sebelum waktunya. Apabila kamu memohon kepada Allah agar Dia menyelamatkanmu dari siksa neraka dan siksa kubur, maka hal itu lebih baik bagimu dan lebih utama.</em>” (HR. Muslim no. 2663)</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" href="https://muslim.or.id/67687-hukum-mengumumkan-kematian-seseorang.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Mengumumkan Kematian Seseorang</a></strong></p>
<p>Adapun makna dari sabda Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَه</span></p>
<p>“<em>Siapa yang ingin diluaskan rezekinya atau dipanjangkan umurnya, hendaklah dia menyambung silaturahim.</em>” (HR. Bukhari no. 2067 dan Muslim no. 2557)</p>
<p>adalah “keberkahan dalam amal dan waktu”. Sehingga seseorang bisa mengerjakan banyak amal saleh di waktu yang sebentar (sedikit).</p>
<h3><strong>Ketiga, beriman bahwa tidak ada satu pun makhluk yang mengetahui kapan datangnya waktu kematian</strong></h3>
<p>Waktu datangnya kematian termasuk bagian dari ilmu gaib yang hanya diketahui oleh Allah <em>Ta’ala. </em>Maka, tidak ada yang mengetahui kapankah kematian menjemputnya, kecuali Allah <em>Ta’ala </em>semata. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَ يَعْلَمُهَا إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلاَّ يَعْلَمُهَا وَلاَ حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الأَرْضِ وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ</span></p>
<p>“<em>Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib. Tidak ada yang mengetahuinya, kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan. Dan tiada sehelai daun pun yang gugur, melainkan Dia mengetahuinya (pula). Dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)</em>.” (QS. Al-An’am: 59)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ</span></p>
<p>“<em>Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.</em>” (QS. Luqman: 34)</p>
<h3><strong>Keempat, memperbanyak mengingat kematian dan menjadikan kematian itu ada di depan matanya</strong></h3>
<p>Sebagaimana sabda Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam,</em></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ</span></p>
<p>“<em>Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yaitu, kematian)</em>.” (HR. Tirmidzi no. 3207, An-Nasa’i no. 1824, dan Ibnu Majah no. 4258, dinilai sahih oleh Al-Albani)</p>
<h3><strong>Kelima, mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian </strong></h3>
<p>Seorang mukmin hendaknya mempersiapkan dirinya sebelum datangnya kematian, dan juga mempersiapkan dirinya dengan hal-hal setelah kematian, baik azab atau nikmat kubur, hari kiamat, dan seterusnya. Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">حَتَّى إِذَا جَاء أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحاً فِيمَا تَرَكْتُ كَلَّا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِن وَرَائِهِم بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ</span></p>
<p>“<em>(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.</em>” (QS. Al-Mu’minuun: 99-100)</p>
<p>Allah <em>Ta’ala </em>berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ</span></p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).</em>” (QS. Al-Hasyr: 18)</p>
<p>Demikian, semoga bermanfaat.</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/66507-kematian-pasti-datang.html" data-darkreader-inline-color="">Kematian Pasti Datang</a></strong></span></li>
<li><a href="https://muslim.or.id/59956-begini-maksud-perintah-sering-mengingat-kematian.html"><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong>Begini Maksud Perintah “Sering Mengingat Kematian”</strong></span></a></li>
</ul>
</div>
<p><strong>***</strong></p>
<p>@Rumah Kasongan, 30 Rajab 1443/ 3 Maret 2022</p>
<p><strong>Penulis: <a href="https://muslim.or.id/author/saifudinhakim"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">M. Saifudin Hakim</span></a></strong></p>
<p><strong>Artikel: <a href="https://muslim.or.id/"><span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">www.muslim.or.id</span></a></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>Al-Maqshadul Ma’muul Min Ma’aarijil Qabuul bi Syarhi Sullamil Wushuul, </em>hal. 200-202.</p>
 