
<p><span style="font-weight: 400;">Kaum muslimin yang semoga selalu dirahmati Allah, tidaklah samar bagi kita keadaan musibah wabah yang saat ini tengah melanda dunia, yaitu wabah SARS CoV-2/COVID-19 </span><i><span style="font-weight: 400;">(Corona Virus Infection Disease-19)</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau umum disebut sebagai virus corona. Banyak korban jiwa yang telah melayang di berbagai negara dan Indonesia pun termasuk negara dengan presentase kematian yang cukup tinggi dibandingkan dengan negara-negara lainnya. </span></p>

<h2><strong><span style="font-size: 21pt;">Menempuh Sebab dalam Menanggulangi Wabah</span></strong></h2>
<p><span style="font-weight: 400;">Untuk menanggulangi wabah dan musibah ini, kita perlu melakukan sebab-sebab secara </span><i><span style="font-weight: 400;">syar’i</span></i><span style="font-weight: 400;"> (sebab non fisik) dan sebab-sebab secara fisik (sebab </span><i><span style="font-weight: 400;">kauni)</span></i><span style="font-weight: 400;">. Di antara kedua sebab ini yang paling ditekankan adalah menempuh sebab-sebab </span><i><span style="font-weight: 400;">syar’i</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena bersumber dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya (berdasarkan bimbingan wahyu). Meskipun demikian kita tidak boleh mengabaikan sebab fisik/sebab </span><i><span style="font-weight: 400;">kauni</span></i><span style="font-weight: 400;"> karena hal itu adalah bagian dari usaha (mengambil sebab) yang diperintahkan dalam agama. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Itulah bentuk tawakal kita kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Karena rukun tawakal adalah menempuh sebab yang mengantarkan untuk memperoleh apa yang kita inginkan lalu hati kita pasrah total kepada Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Jika kita terhindar dari penyakit atau mendapatkan kesembuhan dari penyakit, hal itu semata karena karunia Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">ta’ala</span></i><span style="font-weight: 400;">. Jika ternyata setelah melakukan sebab syar’i dan sebab kauni (usaha lahiriah) kita tetap terkena penyakit atau tidak mendapatkan kesembuhan, maka itu merupakan takdir Allah yang semestinya kita terima dengan hati </span><i><span style="font-weight: 400;">legowo</span></i><span style="font-weight: 400;"> (lapang) dan semua itu baik bagi seorang mukmin. </span><b>[1]</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Menempuh Sebab-Sebab Fisik</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Pemerintah telah membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 (wabah Corona). Di antara poin-poin penting yang sepatutnya diperhatikan oleh segenap warga masyarakat ialah melakukan pencegahan dalam level individu dalam bentuk menjaga kebersihan diri dan rumah (</span><i><span style="font-weight: 400;">universal precaution</span></i><span style="font-weight: 400;">). </span></p>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Di antara himbauan yang diberikan adalah sebagai berikut.</strong></span></p>
<ol>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Sering mencuci tangan dengan air dan sabun dengan langkah yang benar (5-6 langkah cuci tangan), terutama saat baru memasuki rumah, sebelum dan sesudah makan, sesudah dari toilet, setelah menyentuh benda-benda yang tidak diketahui pasti kebersihannya, setelah mengurus binatang, dan lain-lain.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hindari menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum dicuci.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Segera ganti baju dan mandi sepulang dari bepergian.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak berjabat tangan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak berinteraksi dari jarak dekat dengan orang lain, baik yang memiliki gejala sakit ataukah tidak.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tutupi mulut saat batuk dan bersin dengan lengan atas dan ketiak dan segera cuci tangan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Sering membersihkan/mengelap permukaan benda seperti meja/kursi yang sering disentuh .</span></li>
</ol>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Kemudian, juga ada beberapa cara untuk mencegah meluasnya wabah ini pada tingkatan masyarakat dengan melakukan pembatasan interaksi fisik seperti:</strong></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak berdekatan atau berkumpul di tempat keramaian.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Gunakan masker saat keluar rumah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak mengadakan pertemuan yang melibatkan banyak peserta.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hindari melakukan perjalanan ke luar kota.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Mengurangi berkunjung ke rumah orang lain dan kurangi menerima kunjungan.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Mengurangi frekuensi pergi untuk belanja dan usahakan bukan pada jam ramai.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Menerapkan bekerja dari rumah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Menjaga jarak saat mengantri atau duduk di bus, kereta, atau fasilitas umum lainnya minimal 1 meter.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Anak-anak bermain di rumah saja.</span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Ibadah dapat dilaksanakan di rumah untuk sementara waktu. </span><b>[2]</b>
</li>
</ul>
<p><span style="font-size: 14pt;"><strong>Selain itu, pemerintah juga menghimbau atau memberikan ketentuan bagi masyarakat untuk melakukan pembatasan sosial berupa menjaga jarak fisik dengan beberapa cara, misalnya:</strong></span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Tidak bersalaman, berpelukan atau berciuman (cipika cipiki).</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hindari penggunaan transportasi publik dan hindari jam sibuk ketika bepergian.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Dilarang berkumpul massal di kerumunan dan fasilitas umum.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Hindari berkumpul tatap muka dengan banyak orang dan menunda kegiatan bersama.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Gunakan telepon atau layanan online untuk menghubungi orang lain.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Jika anda sakit jangan mengunjungi/berdekatan dengan orang lanjut usia.</span></li>
</ul>
<p><span style="font-weight: 400;">Semua orang harus mengikuti ketentuan ini. Pemerintah juga menghimbau untuk mengikuti petunjuk ini dengan ketat dan membatasi tatap muka dengan teman dan keluarga, khususnya jika anda berusia 60 tahun ke atas, atau memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, kanker, asma dan penyakit paru obstruksi kronik, atau ibu hamil. </span><b>[3]</b></p>
<p><strong><span style="font-size: 14pt;">  Pemerintah juga telah memberikan penjelasan ringkas berkaitan dengan klasifikasi kasus COVID-19 untuk masyarakat sebagai berikut :</span></strong></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Orang Tanpa Gejala (OTG): Orang tanpa gejala yang memiliki kontak dengan kasus positif. Maka bagi kelompok ini diberlakukan isolasi diri sendiri di rumah.</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Orang Dalam Pemantauan (ODP): Orang yang memiliki gejala ringan, dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini juga harus mengisolasi diri sendiri di rumah. </span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Pasien Dalam Pengawasan (PDP): Pasien yang memiliki gejala ringan/sedang/berat yang memiliki riwayat perjalanan/kontak dan membutuhkan pemeriksaan. Bagi kelompok ini jika sakitnya ringan cukup mengisolasi diri di rumah. Jika sakitnya sedang perlu dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. </span></li>
<li style="font-weight: 400;">
<span style="font-weight: 400;">Konfirmasi: Yaitu pasien yang terinfeksi COVID-19 dengan hasil pemeriksaan positif. Apabila sakitnya ringan bisa mengisolasi diri di rumah. Apabila sakitnya sedang harus dirawat di Rumah Sakit Darurat. Dan apabila sakitnya berat harus dirawat di Rumah Sakit Rujukan. </span><b>[4]</b>
</li>
</ul>
<h3><span style="font-size: 21pt;"><b>Menempuh Sebab-Sebab Non-Fisik</b></span></h3>
<p><span style="font-weight: 400;">Perlu diketahui oleh segenap kaum muslimin bahwasanya dalam kondisi wabah dan musibah yang begitu berat semacam ini perlu dilakukan usaha-usaha non fisik yang berkaitan dengan agama dan keyakinan kita sebagai seorang muslim. Salah satu perkara mendasar yang harus kita ingat adalah betapa fakir dan butuhnya kita kepada Allah.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah berfirman</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ ۖ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai manusia, kalian adalah orang-orang yang fakir/butuh kepada Allah. Dan Allah Mahakaya lagi Mahaterpuji”</span></i> <b>(QS. Fathir: 15) </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kebutuhan ini semakin penting dan mendesak pada saat tertimpa kesulitan dan musibah berat semacam ini.</span></p>
<p><b>Kaidah pertama</b><span style="font-weight: 400;">. Kita harus meyakini bahwa Allah telah menakdirkan segala sesuatu. Allah berfirman </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan takdirnya dengan sebenar-benarnya.”</span></i> <b>(QS. al-Furqan: 2)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Oleh sebab itu kita mengimani takdir Allah ini dan menghadapi musibah yang menimpa dengan kesabaran. </span></p>
<p><b>Kaidah kedua</b><span style="font-weight: 400;">. Kita harus menyempurnakan tawakal kepada Allah dan menyandarkan segala urusan kepada-Nya. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Katakanlah; Tidak akan menimpa kami kecuali apa-apa yang telah ditetapkan Allah menimpa kami, Dia lah penolong bagi kami. Dan kepada Allah semata hendaknya orang-orang mukmin bertawakal.”</span></i> <b>(QS. At-Taubah : 51)</b></p>
<p><b>Kaidah ketiga</b><span style="font-weight: 400;">. Kita harus kembali kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan disebabkan ulah tangan-tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian akibat dari apa yang mereka kerjakan, mudah-mudahan mereka kembali/bertaubat.”</span></i> <b>(QS. Ar-Rum : 41)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><b>Kaidah keempat</b><span style="font-weight: 400;">. Kita harus menempuh sebab-sebab (upaya nyata) untuk menghindar dari wabah. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan janganlah kalian dengan sengaja menjerumuskan diri kalian menuju kebinasaan.”</span></i> <b>(QS. Al-Baqarah: 195)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Termasuk dalam usaha ini adalah dengan tidak mendatangi tempat-tempat yang terkena wabah dan melakukan upaya-upaya fisik (secara medis) untuk terhindar atau selamat dari wabah atau penyakit tersebut. </span></p>
<p><b>Kaidah kelima</b><span style="font-weight: 400;">. Kita harus bersungguh-sungguh dalam mengambil informasi yang berkaitan dengan wabah ini dari sumber-sumber yang terpercaya dan ahli pada bidangnya. Dan harus menjauhi berbagai berita yang tidak jelas kebenarannya (kabar burung). Hendaknya kita mengembalikan setiap urusan kepada ahlinya dan tidak menerima kabar-kabar yang tidak jelas yang pada akhirnya justru akan membahayakan atau merugikan orang banyak. </span></p>
<p><b>Kaidah keenam</b><span style="font-weight: 400;">. Semestinya kita terus bersungguh-sungguh dalam berdoa kepada Allah karena doa itulah intisari dari ibadah. Baik itu doa secara umum agar dihindarkan atau diangkat dari bencana yang menimpa. Seperti dengan ucapan, </span><i><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, singkirkanlah dari kami wabah ini.”</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau doa-doa serupa. Oleh sebab itu, para ulama juga telah menyampaikan anjuran untuk banyak-banyak berdoa agar wabah ini diangkat dan disingkirkan bahkan hal itu telah tertulis dalam kitab-kitab hadits sejak ratusan tahun yang silam. Bisa juga dengan doa-doa secara khusus seperti:</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Membaca surat al-Falaq dan an-Naas</span></li>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Membaca doa </span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ البَرَصِ ، وَالجُنُونِ ، والجُذَامِ ، وَسَيِّيءِ الأسْقَامِ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">‘Allahumma inni a’uudzu bika minal barash wal junun wal judzam wa sayyi’il asqam’</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari penyakit belang, gila, kusta, dan dari segala penyakit yang buruk lainnya.”</span></p>
<ul>
<li style="font-weight: 400;"><span style="font-weight: 400;">Rutin membaca dzikir pagi-petang, misalnya:</span></li>
</ul>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Bismillahilladzi laa yadhurru ma’asmihi syai’un fil ardhi wa laa fis samaa’ wa huwas samii’ul ‘aliim.”</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Artinya:</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Dengan nama Allah yang apabila disebut, tidak akan berbahaya segala sesuatu yang ada di bumi maupun di langit. Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">dibaca sebanyak tiga kali setiap pagi (habis subuh) dan sore (habis ashar). </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Inilah ringkasan enam kaidah pokok untuk menyikapi merebaknya wabah Corona sebagaimana diterangkan oleh </span><b>Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah al-Ushaimi</b> <i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">; seorang ulama besar dan pengajar tetap di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Arab Saudi dalam sebuah nasihat beliau yang berjudul </span><i><span style="font-weight: 400;">‘Ushul Sittah fil Iftiqar ilallah fisy Syiddah’</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau enam kaidah dalam mewujudkan perasaan fakir/butuh kepada Allah dalam kondisi musibah yang sangat berat. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Kemudian juga perlu kami tekankan di sini apa-apa yang telah dinasihatkan oleh </span><b>Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</b> <i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> tentang wajibnya kita untuk bertaubat kepada Allah atas semua dosa. Beliau mengutip nasihat dari </span><b>Ali bin Abi Thalib</b> <i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Tidaklah Allah menurunkan bala’ (bencana, wabah penyakit) kecuali disebabkan perbuatan dosa, dan tidaklah diangkat bala’ tersebut kecuali dengan bertaubat kepada Allah.”</span></i><span style="font-weight: 400;">  </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga mengingatkan kita terhadap firman Allah, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang beriman, agar kamu beruntung.”</span></i> <b>(QS. an-Nur: 31)</b><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Allah juga berfirman, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.”</span></i> <b>(QS. at-Tahrim: 8)</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Beliau juga mewasiatkan agar kita tetap menegakkan sholat 5 waktu dan mengerjakan sholat-sholat sunnah, memperbanyak istighfar, tasbih/membaca subhanallah, memuji Allah/mengucapkan alhamdulillah, berdzikir dan melakukan amal salih, perbanyak sedekah dan memperbanyak shalawat kepada Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;">. </span><b>[5] </b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Berdzikir kepada Allah merupakan sebab Allah mengingat dan memberikan pertolongan kepada hamba-Nya. Allah berfirman,</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ</b></span></p>
<p><span style="font-weight: 400;"> </span><i><span style="font-weight: 400;">Ingatlah kalian kepada-Ku niscaya Aku pun ingat kepada kalian.”</span></i> <b>(QS. al-Baqarah : 152)</b></p>
<p><b>Ibnu ‘Abbas</b><span style="font-weight: 400;"> menafsirkan ayat tersebut, “Ingatlah kalian kepada-Ku dengan melakukan ketaatan kepada-Ku niscaya Aku akan mengingat kalian dengan memberikan ampunan-Ku kepada kalian.”  </span><b>Sa’id bin Jubair</b><span style="font-weight: 400;"> berkata, “Artinya; Ingatlah kalian kepada-Ku pada waktu berlimpah nikmat dan kelapangan niscaya Aku akan mengingat kalian ketika berada dalam keadaan tertimpa kesusahan dan bencana.” </span><b>[6]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Rasulullah </span><i><span style="font-weight: 400;">shallallahu ‘alaihi wa sallam</span></i><span style="font-weight: 400;"> bersabda, </span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;"><b>يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى رَبِّكُمْ فَإِنِّي أَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ</b></span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Wahai umat manusia, bertaubatlah kepada Allah. Karena sesungguhnya aku bertaubat dalam sehari kepada-Nya seratus kali.” </span></i><b>(HR. Muslim no. 2702)</b></p>
<p><b>Syaikh Abdul Qayyum as-Suhaibani</b> <i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan dalam sebuah nasehatnya, “Tidaklah musibah-musibah -dan kehinaan- menimpa kaum muslimin kecuali disebabkan minimnya perendahan diri mereka kepada Allah. Dan hal ini merupakan sunnah kauniyah; barangsiapa yang tidak mau tunduk merendahkan diri kepada Allah, maka Allah akan buat dia tunduk/merendah kepada selain-Nya.” </span><b>[7]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Demikian sedikit rangkuman arahan dan nasihat yang dapat kami kumpulkan dengan taufik dari Allah semata. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan segera mengangkat wabah ini, sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha dekat serta mengabulkan doa-doa. </span><b>[8]</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><b>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/author/ariwahyudi" data-darkreader-inline-color="">Ari Wahyudi, S.Si</a></span></b></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="http://muslim.or.id" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</a></span></strong></p>
<p> </p>
<p><b>Catatan kaki:</b></p>
<p><b>[1] </b><span style="font-weight: 400;">Tambahan faidah dari </span><b>Ustadz Afifi Abdul Wadud</b> <i><span style="font-weight: 400;">hafizhahullah</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>[2] </b><span style="font-weight: 400;">Pedoman Penanganan Cepat, Hal. 11-12</span></p>
<p><b>[3] </b><span style="font-weight: 400;">Idem Hal. 13</span></p>
<p><b>[4] </b><span style="font-weight: 400;">Idem Hal. 33</span></p>
<p><b>[5] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Sikap Seorang Muslim Terhadap Wabah Virus Corona</span></i><span style="font-weight: 400;">, hlm. 25-27 penerbit Masjid Imam Ahmad bin Hanbal Bogor.</span></p>
<p><b>[6] </b><span style="font-weight: 400;">Lihat </span><i><span style="font-weight: 400;">Ma’alim at-Tanzil</span></i><span style="font-weight: 400;">, Hal.74</span></p>
<p><b>[7] </b><span style="font-weight: 400;">Dinukil dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Mafhum ‘Ibadah</span></i><span style="font-weight: 400;">, seri 2 menit 20.15 – 20.31.  </span></p>
<p><b>[8] </b><span style="font-weight: 400;">Tulisan telah dikoreksi oleh Ust. Afifi Abdul Wadud, Ust. dr. Agung Panji Widiyanto, dan Ust. Herbi Yuliantoro.</span></p>
 