
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Makna <em>Al-Barr</em> (البرّ), Allah adalah Zat yang Mahabaik</strong></span></h2>
<p>Di antara nama Allah <em>Ta’ala</em> adalah <em>Al-Barr</em> (البرّ), yang artinya zat yang Mahabaik. Nama ini Allah <em>Ta’ala</em> abadikan di dalam Al-Qur’an,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّا كُنَّا مِن قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah Al-Barr yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang”</em> (QS. At-Thur: 28).</p>
<p>Maknanya adalah yang mencakup kepada seluruh makhluk dalam kebaikan, anugerah, dan pemberian-Nya. Allah <em>Ta’ala</em> yang memberi nikmat, Mahaluas pemberiannya, yang terus menerus memberi kebaikan, dan senantiasa tidak terputus kebaikan serta anugerah yang diberikan. Kebaikan dan kasih sayang yang diberikan tanpa batas. Dialah Allah <em>Ta’ala</em> yang memiliki kasih sayang yang luas dan tiada henti. Inilah cakupan makna sifat kebaikan yang terkandung dalam nama Allah <em>Al Barr</em> (البرّ).</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Dua jenis kebaikan Allah kepada hamba-Nya</strong></span></h2>
<p>Kebaikan Allah <em>Ta’ala</em> kepada hamba-Nya ada dua jenis, yaitu:</p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Pertama, kebaikan yang sifatnya umum</strong></span></h3>
<p>Kebaikan ini mencakup seluruh makhluk Allah <em>Ta’ala</em>. Tidak ada satu pun makhluk yang tidak mendapat nikmat dan kebaikan dari Allah <em>Ta’ala</em>. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُم مِّنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”</em> (QS. Al-Isra’: 70).</p>
<p>Kemuliaan yang disebutkan dalam ayat ini temasuk penciptaan manusia dalam bentuk yang baik dan sempurna. Allah <em>Ta’ala</em> jadikan untuk mereka pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah <em>Ta’ala</em> jadikan mereka berjalan tegak di atas kedua kakinya dan makan dengan kedua tangannya. Di sisi lain, hewan berjalan di atas empat kakinya dan makan langsung dengan mulutnya. Allah <em>Ta’ala</em> megkhususkan manusia dengan berbagai macam makanan, minuman, pakaian, dan nikmat lain yang menunjukkan kemuliaan manusia dibandingkan makhluk lainnya.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/69744-mengapa-aku-sulit-bersyukur.html">Mengapa Aku Sulit Bersyukur?</a></strong></p>
<h3><span style="font-size: 16pt;"><strong>Kedua, kebaikan yang sifatnya khusus</strong></span></h3>
<p>Kebaikan yang sifatnya khusus adalah kebaikan berupa hidayah kepada manusia yang Allah <em>Ta’ala</em> kehendaki. Kebaikan tersebut membuat seorang manusia berada di atas jalan Islam yang lurus, mendapatkan taufik untuk taat kepada Allah <em>Ta’ala</em>, dan akan mendapatkan kebahagiaan dunia serta akhirat. Ini sebagaimana janji Allah  <em>Ta’ala</em> dalam firman-Nya,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ الْأَبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbuat kebaikan benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan”</em> (QS. Al-Infithar: 13).</p>
<p>Kenikmatan di sini maksudnya kenikmatan dalam tiga kondisi, baik di dunia, <em>alam barzakh,</em> maupun ketika hari kiamat nanti. Kebaikan yang Allah <em>Ta’ala</em> berikan kepada hamba tidak terbatas dan tidak terhitung jumlahnya.</p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Berbagai bentuk kebaikan Allah <em>Ta’ala </em>kepada hamba-Nya</strong></span></h2>
<p>Kebaikan-kebaikan Allah <em>Ta’ala</em> kepada para hamba di antaranya:</p>
<p><strong>Pertama,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> menginginkan kemudahan dan tidak menginginkan kesulitan untuk para hamba.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> menerima amal hamba yang sedikit, namun memberikan pahala yang banyak untuk mereka.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> mengampuni banyak sekali dosa dan kesalahan hamba, dan tidak menganggap banyak sekali perbuatan buruk yang dilakukan hamba kepada-Nya.</p>
<p><strong>Keempat,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> akan melipatgandakan satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat atau bahkan lebih dari itu sampai batas yang Allah <em>Ta’ala </em>kehendaki.</p>
<p><strong>Kelima,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> hanya memberikan balasan kejelekan dengan balasan yang setimpal.</p>
<p><strong>Keenam,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> sudah mencatat niat kebaikan hamba meskipun belum diamalkan. Akan tetapi, Allah <em>Ta’ala</em> tidak mencatat hanya sekadar niat kejahatan yang belum diamalkan. Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">مَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، كُتِبَتْ له حَسَنَةً، ومَن هَمَّ بحَسَنَةٍ فَعَمِلَها، كُتِبَتْ له عَشْرًا إلى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ، ومَن هَمَّ بسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْها، لَمْ تُكْتَبْ، وإنْ عَمِلَها كُتِبَتْ</span></p>
<p><em>“Barang siapa berniat beramal kebaikan namun belum melakukannya, dihitung baginya amal kebaikan. Barang siapa berniat beramal kebaikan kemudian mengamalkannya, maka akan dicatat baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Barang siapa berniat melakukan kejelekan namun belum mengamalkannya, maka tidak dicatat. Jika dia melakukannya, maka barulah akan dicatat”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Ketujuh,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> membuka lebar-lebar pintu taubat, menerima taubat hamba meskipun dosanya sangat banyak dan tidak terhitung jumlahnya. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ</span></p>
<p><em>“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang'”</em> (QS. Az-Zumar: 53).</p>
<p>Dalam hadis qudsi, Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">يَاابْنَ آدَمَ! إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأرْضِ خَطَايَا، ثُمَّ لَقِيْتَنِي لاَتُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً</span></p>
<p><em>“Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika Engkau datang menghadap kepada-Ku dengan membawa kesalahan-kesalahan sepenuh bumi, kemudian Engkau datang kepada-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan Ku, maka Aku akan datang kepadanya dengan membawa ampunan sepenuh bumi pula”</em> (HR. Muslim).</p>
<p><strong>Kedelapan,</strong> Allah <em>Ta’ala</em> menghapus dan mengampuni dosa hamba, bahkan menutupinya dan tidak menganggapnya. Diriwayatkan dari sahabat Ibnu ‘Abbas, Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا فَيَقُولُ نَعَمْ أَيْ رَبِّ حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكَافِرُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ</span></p>
<p><em>“Sesungguhnya Allah akan mendekatkan seorang mukmin, lalu Dia akan meletakkan tirai-Nya padanya dan menutupinya. Kemudian Allah mengatakan, ‘Apakah Engkau mengetahui dosa(mu) ini, apakah Engkau mengetahui dosa(mu) ini?’ Orang mukmin itu mengatakan, ‘Ya, wahai Rabb-ku.’ Sehingga, jika Allah telah menjadikan orang mukmin itu mengakui dosa-dosanya, dan dia melihat dirinya pasti akan celaka, Allah berfirman, ‘Aku telah menutupinya padamu di dunia, dan sekarang Aku akan menghapusnya untukmu pada hari ini (Kiamat).’ Kemudian buku kebaikan diberikan kepadanya. Adapun orang kafir dan orang-orang munafik, maka para saksi mengatakan, ‘Mereka ini orang-orang yang mendustakan Rabb mereka. Ketahuilah, laknat Allah menimpa orang-orang yang zhalim'”</em> (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><strong><a href="https://muslim.or.id/30031-jadilah-hamba-allah-yang-bersyukur.html">Jadilah Hamba Allah Yang Bersyukur</a></strong></p>
<h2><span style="font-size: 18pt;"><strong>Allah mencintai amal baik dan orang yang berbuat baik</strong></span></h2>
<p>Di antara kandungan sifat dari Nama Allah <em>Al Barr</em> adalah sifat kebaikan Allah <em>Ta’ala</em> berupa mencintai orang yang berbuat kebaikan. Hati mereka dekat dengan Allah <em>Ta’ala</em> sesuai dengan kadar kebaikan yang mereka lakukan. Allah <em>Ta’ala</em> pun mencintai seluruh amal kebaikan. Allah <em>Ta’ala</em> akan membalas pelakunya dengan memberinya petunjuk hidayah, kemenangan, dan derajat yang tinggi di dunia dan di akhirat. Makna <em>Al-Barr</em> pada asalnya adalah mencakup seluruh perkara kebaikan. Makna ini tercakup dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَّيْسَ الْبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَـكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَالْمَلآئِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّآئِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُواْ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاء والضَّرَّاء وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَـئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ</span></p>
<p><em>“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”</em> (QS. Al-Baqarah: 177).</p>
<p>Allah <em>Ta’ala</em> juga berfirman,</p>
<p style="text-align: center;"><span dir="rtl" style="font-weight: 400; font-size: 21pt;">لَن تَنَالُواْ الْبِرَّ حَتَّى تُنفِقُواْ مِمَّا تُحِبُّونَ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللّهَ بِهِ عَلِيمٌ</span></p>
<p><em>“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya”</em> (QS. Al-‘Imran: 92).</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/25259-panduan-sujud-tilawah-dan-sujud-syukur.html">Panduan Sujud Tilawah dan Sujud Syukur</a></strong></li>
<li class="jeg_post_title"><strong><a href="https://muslim.or.id/21978-cara-untuk-bersyukur.html">Cara Untuk Bersyukur</a></strong></li>
</ul>
<p>***</p>
<p><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">dr. Adika Mianoki, Sp.S</span></strong></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
<p> </p>
<p><strong>Referensi:</strong></p>
<p><em>Fiqhu al-Asmaail Husna</em> karya Syekh Prof. Dr. Abdurrozzaq bin ‘Abdil Muhsin al Badr <em>Hafidzahullah</em>.</p>
 