
<h4 align="JUSTIFY">
<span style="color: #ff0000;"><b>Kiat menyuburkan dan menguatkan pertumbuhan pohon iman di hati</b></span><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote1sym" name="sdfootnote1anc"><sup>1</sup></a>
</h4>
<p align="JUSTIFY">Iman yang benar merupakan sebab sempurnanya kemuliaan seorang hamba dan dengannya akan semakin tinggi kedudukannya di dunia dan akhirat. iman juga merupakan jalan untuk meraih segala kebaikan. Iman yang benar adalah kedudukan yang paling agung dan tinggi, Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> telah menjadikan sebab-sebab yang menumbuhkan dan menguatkan kemuliaan besar ini di hati, sebagaimana juga ada sebab-sebab yang melemahkan atau bahkan merusak dan menghancurkannya. Semua itu telah dijelaskan dengan lengkap dan jelas dalam Al-Qur’an dan hadis-hadist yang shahih dari Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wasallam</em>. Adapun sebab-sebab yang menumbuhkan dan menguatkan iman, secara umum terbagi dua, <b>sebab-sebab secara global/garis besar dan sebab-sebab yang rinci.</b></p>
<p align="JUSTIFY">Sebab-sebab yang menumbuhkan dan menguatkan iman <b>secara global</b> adalah membaca dan merenungkan kandungan ayat-ayat al-Qur’an dan hadist-hadits Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i>, memperhatikan ayat-ayat <i>kauniyah</i> (makhluk-makhluk ciptaan Allah di alam semesta) dengan berbagai macam dan jenisnya, berusaha keras untuk mengenal kebenaran (tauhid) yang merupakan tujuan penciptaan jin dan manusia, serta bersungguh-sungguh mengamalkannya. Adapun sebab-sebab yang menumbuhkan dan menguatkan iman secara rinci sangat banyak, di antaranya adalah sebagai berikut.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>1-</b> Sebab yang paling agung yaitu <b>mengenal dan memahami nama-nama Allah </b><i><b>Subhanahu wa Ta’ala</b></i><b> yang maha indah</b> yang ditetapkan dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> yang shahih, berusaha memahami kandungan maknanya dan mengamalkan konsekuensi penghambaan diri kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> di dalamnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam hadits yang shahih dari Abu Hurairah <i>radhiyallahu ‘anhu</i> bahwa Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, barangsiapa yang menghitungnya maka dia akan masuk surga.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote2sym" name="sdfootnote2anc"><sup>2</sup></a> Artinya, barangsiapa yang menghafalnya, memahami kandungan maknanya, meyakininya dan mengamalkan konsekwensi penghambaan diri kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> di dalamnya, maka dia akan masuk surga, dan surga tidak akan dimasuki kecuali oleh orang-orang yang beriman.</p>
<p align="JUSTIFY">Maka dengan ini diketahui bahwa mengenal dan memahami nama-nama Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> yang maha indah adalah sumber peneguh dan penguat iman yang paling agung, bahkan mengenal dan memahami nama-nama Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> yang maha indah adalah landasan utama dan intisari iman.</p>
<p align="JUSTIFY">Makna inilah yang dinyatakan dalam firman Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>,</p>
<p dir="RTL" align="JUSTIFY">إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah orang-orang yang berilmu (mengenal Allah </i><i>Subhanahu wa Ta’ala</i><i>)</i> (QS Faathir:28).</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Katsir berkata, “Arti (ayat di atas), Hanyalah orang-orang yang berilmu dan mengenal Allah yang memiliki rasa takut yang sebenarnya kepada Allah, karena semakin sempurna pemahaman dan penegetahuan (seorang hamba) terhadap Allah, Zat Yang Maha Mulia, Maha kuasa dan Maha Mengetahui, yang memiliki sifat-sifat yang maha sempurna dan nama-nama yang maha indah, maka ketakutan (hamba tersebut) kepada-Nya semakin besar pula.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote3sym" name="sdfootnote3anc"><sup>3</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Semakin bertambah pengetahuan seorang hamba tentang Allah, maka semakin bertambah pula rasa takut dan pengagungannya kepada-Nya, yang kemudian pengetahuannya ini akan mewariskan perasaan malu, pengagungan, pemuliaaan, merasa selalu diawasi, kecintaan, bertawakal, selalu kembali, serta ridha dan tunduk kepada perintah-Nya.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote4sym" name="sdfootnote4anc"><sup>4</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Beliau juga berkata, “Orang yang paling sempurna dalam penghambaan diri (kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>) adalah orang yang menghambakan diri (kepada-Nya) dengan (memahami kandungan) semua nama dan sifat-Nya yang (bisa) diketahui oleh manusia.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote5sym" name="sdfootnote5anc"><sup>5</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><b>2-</b> Sebab berikutnya adalah membaca dan merenungkan ayat-ayat al-Qur’an secara umum. Sesungguhnya orang yang membaca dan merenungkan al-Qur’an akan selalu mengambil faidah ilmu dan pemahaman yang bermanfaat untuk menambah dan menguatkan imannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="CENTER">إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan </i><i><b>apabila dibacakan kepada mereka Ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya)</b></i><i> dan hanya kepada Allah mereka bertawakkal</i> (QS al-Anfaal: 2).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka ini termasuk sebab penguat iman yang paling besar dan agung, bahkan inilah tujuan utama Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> menurunkan al-Qur’an, yaitu untuk dibaca dan direnungkan maknanya, serta dihayati petunjuknya, agar bisa menjadi sebab kebaikan bagi diri manusia, lahir dan batin. Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i> berfirman,</p>
<p dir="RTL" align="CENTER">كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Ini adalah sebuah kitab (al-Qur-an) yang kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka merenungkan (makna) ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran</i> (QS Shaad: 29).</p>
<p align="JUSTIFY">Imam al-Hasan al-Bashri berkata, “Demi Allah, bukanlah men<i>tadabburi</i> al-Qur’an itu (hanya) dengan menghafal huruf-huruf (lafazh)nya tapi melalaikan hukum-hukum (kandungan)nya. Sampai-sampai salah seorang dari mereka berkata, ‘Aku telah membaca al-Qur’an seluruhnya,’ tapi tidak terlihat pada dirinya (aplikasi terhadap al-Qur’an) dalam akhlak dan perbuatannya”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote6sym" name="sdfootnote6anc"><sup>6</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Adapun memperhatikan (merenungkan) al-Qur’an, artinya adalah memfokuskan mata hati terhadap kandungan maknanya serta menghimpun pikiran untuk merenungkan dan memahaminya. Inilah maksud (tujuan) diturunkannya al-Qur’an, bukan hanya sekedar dibaca (lafazhnya) tanpa pemahaman dan penghayatan.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote7sym" name="sdfootnote7anc"><sup>7</sup></a> Bahkan berpaling dari menghayatinya merupakan sebab utama yang menjadikan hati tertutup menerima kebenaran iman kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>, sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL" align="CENTER">أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا</p>
<p align="JUSTIFY"><i>Apakah mereka (orang-orang munafik) tidak mentadabbur (merenungkan kandungan makna) al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci (tertutup untuk menerima kebenaran iman)?</i> (QS Muhammad, 24).</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “Arti ayat ini, apakah orang yang yang berpaling (munafik) itu tidak men<i>tadabburi</i> (merenungkan kandungan makna) al-Qur’an dan menghayatinya dengan benar? Padahal kalau mereka (mau) men<i>tadabbur</i>inya, maka al-Qur’an akan membimbing mereka kepada semua kebaikan, memperingatkan mereka dari semua keburukan, mengisi hati mereka dengan iman (kepada Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>) dan mengisi jiwa meraka dengan keyakinan (yang benar). Sungguh al-Qur’an akan membawa mereka meraih kedudukan yang tinggi (di sisi Allah <i>Subhanahu wa Ta’ala</i>) dan karunia yang sangat agung (dari-Nya). Al-Qur’an akan menjelaskan kepada mereka jalan yang mengantarkan kapada (keridhaan) Allah, kepada Surga disertai (penjelasan tentang) hal-hal yang menyempurnakan kenikmatannya atau hal-hal yang menghalangi untuk meraihnya, juga menjelaskan jalan yang mengantarkan kapada azab (Neraka) dan hal-hal yang harus dijauhi. Al-Qur’an akan mengenalkan mereka kepada Allah (dengan menjelaskan) nama-nama-Nya (yang maha indah), sifat-sifat-Nya (yang maha sempurna) dan kebaikan-Nya (yang maha agung). Al-Qur’an akan membangkitkan kerinduan mereka untuk (meraih) pahala yang besar (di sisi-Nya) dan menjadikan mereka takut akan siksaan-Nya yang pedih.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote8sym" name="sdfootnote8anc"><sup>8</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY"><b>3-</b> Sebab selanjutnya adalah membaca dan memahami dengan benar hadits-hadits Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam </i>yang shahih.</p>
<p align="JUSTIFY">Dari Zaid bin Tsabit <i>radhiyallahu ‘anhu,</i> dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam </i>bersabda, “Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya –dalam lafazh riwayat lain, lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya.”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote9sym" name="sdfootnote9anc"><sup>9</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan orang yang mempelajari hadits Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> dengan membaca/mendengarkan, memahami, menghafal dan menyampaikannya kepada orang lain, tentu setelah mengamalkan untuk dirinya sendiri.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Mulla ‘Ali al-Qari berkata, “Hadits ini menunjukkan keagungan hadits (Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i>) dan keutamaan dan kedudukan orang-orang yang mempelajarinya. Hal ini karena Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i> mengkhususkan/mengistimewakan mereka dengan doa (kebaikan) yang tidak ada seorangpun dari umat ini yang menyertai mereka dalam doa (kebaikan) tersebut. Seandainya tidak ada manfaat (keutamaan) dalam mempelajari, menghafal dan menyampaikan hadits (Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wasallam</i>) kecuali (hanya) mendapatkan berkah dari doa yang agung ini, maka cukuplah itu sebagai manfaat (yang agung), kemuliaan di dunia dan akhirat, serta bagian dan keutamaan (yang besar).”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote10sym" name="sdfootnote10anc"><sup>10</sup></a></p>
<p align="JUSTIFY">Keutamaan ini tentu berhubungan dengan kebaikan iman dan agama orang yang mem-pelajari hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, artinya keindahan rupa yang disebutkan dalam hadits ini adalah pancaran iman yang benar dan kuat dari dalam hatinya. Ini berarti mempelajari hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> termasuk sebab terbesar untuk menguatkan dan menyempurnakan pertumbuhan pohon iman di hati.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Doa Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> ini (keindahan rupa) mengandung arti keindahan/keelokan pada lahir dan batin, karena (kata) <i>an-nadhrah</i> berarti kecerahan dan keindahan yang menghiasi wajah, (yang bersumber) dari pengaruh iman (dalam hati), serta kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan (yang dirasakan dalam) batin dengan keimanan tersebut, sehingga kegembiraan, kesenangan dan kebahagiaan itu akan tampak (nyata) berupa kecerahan pada wajah. Oleh karena itulah, Allah <em>Ta’ala</em> mengumpulkan kesenangan dan kebahagiaan (dalam hati) dengan keceriaan (pada wajah, sebagai balasan kemuliaan bagi penduduk surga), sebagaimana dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{فَوَقَاهُمُ اللَّهُ شَرَّ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَلَقَّاهُمْ نَضْرَةً وَسُرُورًا}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Maka Allah menjaga mereka dari keburukan pada hari itu dan menganugerahkan kepada mereka kecerahan (pada wajah mereka) serta kegembiraan (dalam hati mereka)</em>” (QS al-Insaan, 11).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka kecerahan (ada) pada wajah-wajah mereka dan kegembiraan/kebahagiaan (ada) pada hati mereka, (ini berarti) bahwa kesenangan dan kegembiraan (dalam) hati akan menampakkan (pengaruh baik berupa) kecerahan pada wajah. Sebagaimana firman Allah <em>Ta’ala</em> (tentang keadaan penduduk surga),</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيم}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup mereka yang penuh kenikmatan</em>”(QS al- Muthaffifiin,24).</p>
<p align="JUSTIFY">Kesimpulannya, kecerahan pada wajah bagi orang yang mendengarkan sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, kemudian memahami, menghafal dan menyampaikannya (kepada orang lain), ini adalah pengaruh kemanisan (iman), kegembiraan dan kebahagiaan (yang dirasakannya) di dalam hati”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote11sym" name="sdfootnote11anc"><sup>11</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam hadits shahih yang lain, Rasululah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bersabda, “<em>Sesungguhnya perumpamaan bagi petunjuk dan ilmu yang Allah Ta’ala</em><em> wahyukan kepadaku adalah seperti air hujan (yang baik) yang Allah turunkan ke bumi</em>…”<sup>(</sup><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote12sym" name="sdfootnote12anc"><sup>12</sup></a><sup>)</sup>.</p>
<p align="JUSTIFY">Hadits ini jelas menggambarkan bahwa fungsi utama petunjuk dalam hadits-hadist Rasulullah  adalah seperti fungsi hujan untuk menghidupkan dan menyuburkan tanah yang tandus dan kering, maka hadits-hadist Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> berfungsi untuk menghidupkan hati dan menyuburkan pertumbuhan pohon iman di dalamnya.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Hajar dalam kitab “<em>Fathul Baari</em>” membawakan ucapan para ulama dalam menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> membuat perumpamaan bagi agama yang beliau bawa (dari Allah <em>Ta’ala</em>) seperti air hujan (yang baik) yang merata dan turun ketika manusia (sangat) membutuhkannya, seperti itu jugalah keadaan manusia sebelum diutusnya Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, maka sebagaimana air hujan tersebut memberi kehidupan (baru) bagi negeri/tanah yang mati (kering dan tandus), demikian pula ilmu agama (yang dibawa oleh Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>) akan memberi kehidupan bagi hati yang mati…”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote13sym" name="sdfootnote13anc"><sup>13</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>4-</b> Mengenal kepribadian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> beserta sifat-sifat beliau yang mulia dan akhlak beliau yang agung.</p>
<p>Sesungguhnya orang yang mengenal Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan benar maka dia tidak akan meragukan kejujuran dan kebenaran agama dan petunjuk yang beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bawa. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="RIGHT">{أَمْ لَمْ يَعْرِفُوا رَسُولَهُمْ فَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Ataukah mereka tidak mengenal Rasul (yang diutus kepada) mereka, karena itu mereka mengingkarinya</em>?” (QS al-Mu’minuun, 69).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka mengenal kepribadian Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> menjadikan orang yang belum beriman akan segera beriman kepada kebenaran yang beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bawa, dan menambah kuat keimanan orang yang telah beriman.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam al-Qur’an, Allah <em>Ta’ala</em> bersumpah untuk menegaskan kemuliaan sifat Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan keagungan akhlak beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, dalam firman-Nya,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ. مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ. وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ. وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis. Berkat nikmat Rabbmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan mendapatkan pahala yang tidak terputus. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung</em>” (QS al-Qalam, 4).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> seagung-agung da’i penyeru kepada iman, dengan sifat-sifat beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang terpuji, perilaku beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang mulia, sabda-sabda beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang benar dan bermanfaat, serta perbuatan-perbuatan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang lurus. Bahkan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> adalah imam panutan yang paling agung dan suri teladan yang paling sempurna. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan pada) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah</em>” (QS al-Ahzaab,21).</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnu Katsir berkata, “Ayat yang mulia ini merupakan landasan yang agung dalam meneladani Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dalam semua ucapan, perbuatan dan keadaan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote14sym" name="sdfootnote14anc"><sup>14</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Kemudian firman Allah <em>Ta’ala</em> di akhir ayat ini mengisyaratkan satu faidah yang penting untuk direnungkan, yaitu keterikatan antara meneladani sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dengan kesempurnaan iman kepada Allah dan hari akhir, yang ini berarti bahwa semangat dan kesungguhan seorang muslim untuk meneladani sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> merupakan pertanda kesempurnaan imannya.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh Abdurrahman as-Sa’di ketika menjelaskan makna ayat di atas, beliau berkata, “Teladan yang baik (pada diri Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>) ini, yang akan mendapatkan taufik (dari Allah <em>Ta’ala</em>) untuk mengikutinya hanyalah orang-orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (balasan kebaikan) di hari akhir. Karena (kesempurnaan) iman, ketakutan pada Allah, serta pengharapan balasan kebaikan dan ketakutan akan siksaan Allah, inilah yang memotivasi seseorang untuk meneladani (sunnah) Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote15sym" name="sdfootnote15anc"><sup>15</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam ayat lain, Allah <em>Ta’ala</em> menyebutkan pernyataan hamba-hamba-Nya yang beriman dengan benar ketika mereka menyifati Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> sebagai da’i penyeru kepada iman yang benar dengan ucapan, perbuatan, akhlak dan semua keadaan beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, sehingga merekapun tertarik untuk mengikuti seruan dakwah beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> dan beriman kepada kebenaran yang beliau <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> bawa. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman (yang artinya), “<em>Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendengar seorang penyeru (Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam) yang menyeru kepada iman, (dia berkata), “Berimanlah kamu kepada Rabbmu (Allah Ta’ala</em><em>)”; maka kamipun beriman. Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami beserta orang-orang yang berbakti</em>” (QS Ali ‘Imraan, 193).</p>
<p align="JUSTIFY"><b>5-</b> Memikirkan dan merenungkan ciptaan Allah <em>Ta’ala</em> terhadap semua makhluk di alam semesta, langit dan bumi besarta semua makhluk jenis di dalamnya, termasuk memikirkan penciptaan diri manusia sendiri.</p>
<p align="JUSTIFY">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{وَفِي الأرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ. وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلا تُبْصِرُون}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah Ta’ala</em><em>) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?</em>” (QS adz-Dzaariyaat, 20-21).</p>
<p align="JUSTIFY">Sungguh hal ini merupakan motivator kuat untuk menumbuhkan keimanan, karena pada makhluk-makhluk ini terdapat bukti yang menunjukkan kemahakuasaan dan kemahaagungan Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p align="JUSTIFY">Keindahan, keteraturan dan keselarasan yang ada pada makhluk, ini merupakan bukti yang menunjukkan maha luasnya ilmu-Nya dan maha sempurnanya hikmah-Nya.</p>
<p align="JUSTIFY">Berbagai macam manfaat dan nikmat yang banyak pada makhluk-makhluk ciptaan-Nya, ini menunjukkan maha luasnya kasih sayang, kedermawanan dan kebaikan-Nya.</p>
<p align="JUSTIFY">Semua ini akan memotivasi seorang hamba untuk mengagungkan dan mensyukuri Yang Maha Pencipta, Maha Pengatur dan Maha Pemberi berbagai macam nikmat tersebut, serta selalu berdzikir memuji kemahabesaran-Nya dan mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya. Inilah ruh dan intisari iman.</p>
<p align="JUSTIFY">Oleh karena itu, Allah <em>Ta’ala</em> menyeru kepada orang-orang yang beriman untuk bersyukur dan beribadah kepada-Nya semata-mata, dengan banyaknya limpahan nikmat dan rezki yang diberikan-Nya kepada mereka. Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Hai orang-orang yang beriman, makanlah rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah</em>” (QS al-Baqarah, 172).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka iman yang benar akan memotivasi hamba untuk selalu bersyukur kepada Allah <em>Ta’ala</em>, sebagaimana bersyukur kepada-Nya merupakan sebab tumbuh dan kuatnya iman.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>6-</b> Banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allah <em>Ta’ala</em> di setiap waktu dan dalam semua keadaan.</p>
<p align="JUSTIFY">Sungguh berdzikir kepada Allah akan menumbuhkan dan menguatkan pohon iman di hati. Sehingga semakin sering seorang hamba berdzikir kepada Allah <em>Ta’ala</em>, maka semakin kuat imannya, sebagaimana iman yang benar akan memotivasi seorang hamba untuk banyak berdzikir kepada-Nya. Barangsiapa yang mencintai Allah <em>Ta’ala</em> maka dia akan sering berdzikir kepada-Nya, dan mencintai Allah <em>Ta’ala</em> adalah hakikat dan ruh iman.</p>
<p align="JUSTIFY">Tentu saja yang dimaksud dengan berdzikir kepada Allah <em>Ta’ala</em> di sini adalah dzikir yang terhimpun padanya ucapan lisan dan perenungan dalam hati tentang makna (kandungan dzikir tersebut) serta menghadirkan keagungan Allah <em>Ta’ala</em><a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote16sym" name="sdfootnote16anc"><sup>16</sup></a>, juga dzikir tersebut bersumber dari hadits Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> yang shahih. Inilah dzikir yang bermanfaat untuk meyuburkan pertumbuhan pohon iman di hati.</p>
<p align="JUSTIFY">Imam Ibnul Qayyim berkata, “Dzikir yang paling utama dan paling besar manfaatnya adalah dzikir yang bersesuaian (antara) hati dan lisan ketika mengucapkannya, dengan (lafazh) dzikir (yang bersumber) dari sunnah Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em>, disertai penghayatan dan perenungan terhadap kandungan dan maksud dari (ucapan) dzikir tersebut”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote17sym" name="sdfootnote17anc"><sup>17</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Beliau juga berkata, “Berdzikir dengan hati inilah yang membuahkan <i>ma’rifatullah</i> (mengenal kebesaran dan keagungan Allah <em>Ta’ala</em>), membangkitkan rasa cinta (kepada-Nya), menumbuhkan rasa malu, takut dan <i>muraaqabatullah</i> (selalu merasakan pengawasan-Nya), serta mencegah dari kemalasan dalam menunaikan ketaatan (kepada-Nya) dan meremehkan perbuatan dosa dan maksiat”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote18sym" name="sdfootnote18anc"><sup>18</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY">Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di berkata, “Berdzikir kepada Allah <em>Ta’ala</em> yang paling utama adalah yang bersesuaian antara (ucapan) lisan dan (perenungan) hati, inilah dzikir yang akan membuahkan <i>ma’rifatullah</i> (mengenal kebesaran dan keagungan Allah <em>Ta’ala</em>), kecintaan kepada-Nya dan pahala yang berlipat ganda”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote19sym" name="sdfootnote19anc"><sup>19</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>7-</b> Mengenal dan memahami keindahan agama Islam.</p>
<p align="JUSTIFY">Sesungguhnya syariat Islam semuanya indah, aqidahnya adalah yang paling benar, lurus dan bermanfaat. Akhlaknya adalah yang paling mulia dan terpuji, amal dan hukum-hukumnya adalah yang paling indah dan adil.</p>
<p align="JUSTIFY">Dengan pandangan lurus seperti ini maka Allah menjadikan iman sebagai perhiasan terindah di dalam hati hamba-Nya dan menjadikannnya mencintai keimanan itu lebih dari apapun yang ada di dunia ini. Sebagaimana firman-Nya tentang keadaan iman generasi terbaik umat ini (para Shahabat <em>radhiallahu’anhum</em>),</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْأِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Tetapi Allah menjadikan kamu sekalian (wahai para sahabat) cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah (seperti perhiasan) dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan dan perbuatan maksiat. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus</em>” (QS al-Hujuraat,7).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka jadilah iman di hati menjadi sesuatu yang paling indah dan dicintai hamba tersebut, kemudian dengan sebab ini dia merasakan secara nyata kemanisan iman di dalam hatinya. Sehingga batinnya dihiasi dengan landasan dan hakikat iman, serta anggota badannya dihiasi dengan amal-amal ketaatan kepada Allah <em>Ta’ala</em>.</p>
<p align="JUSTIFY">Dalam hadits yang shahih, Rasulullah <em>Shallallahu’alaihi Wasallam</em> berdo’a memohon keindahan ini, “<em>Ya Allah, hiasilah (diri) kami dengan perhiasan (keindahan) iman, serta jadikanlah kami sebagai orang-orang yang (selalu) mendapat petunjuk (dari-Mu) dan memberi petnjuk (kepada orang lain)</em>”<a class="sdfootnoteanc" href="#sdfootnote20sym" name="sdfootnote20anc"><sup>20</sup></a>.</p>
<p align="JUSTIFY"><b>8-</b> Berjuang dengan sungguh-sungguh dan menguatkan diri untuk melawan semua hal yang bertentangan dengan iman, berupa kekufuran, kemunafikan, kefasikan dan kemaksiatan. Ini semua termasuk sebab terbesar untuk menumbuhkan dan menguatkan pohon iman di hati.</p>
<p align="JUSTIFY">Sebagaimana dalam upaya menguatkan iman harus dengan melakukan sebab-sebab yang menumbuhkan pohon iman di hati, maka bersamaan dengan itu, juga harus diusahakan dengan sungguh-sungguh untuk menghilangkan sebab-sebab yang menghalangi dan menghambat pertumbuhan pohon iman di hati.</p>
<p align="JUSTIFY">Usaha yang dilakukan oleh seorang hamba dalam hal ini adalah menjauhkan diri dari perbuatan maksiat, bertaubat dengan sungguh-sungguh dari perbuatan dosa yang pernah dilakukan, menjaga semua anggota badan dari hal-hal yang diharamkan, dan berjuang melawan berbagai macam fitnah <i>syubhat</i> (kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami Islam) yang merusak atau mendangkalkan pemahaman Islam, dan fitnah <i>syahwat</i> (keinginan nafsu yang buruk) yang melemahkan niat-niat yang baik dalam iman.</p>
<p align="JUSTIFY">Ketika seorang hamba dijaga oleh Allah <em>Ta’ala</em> sehingga terhindar dari fitnah-fitnah <i>syubhat</i> dan <i>syahwat</i> maka imannya akan sempurna, keyakinannnya bertambah kuat dan jadilah perumpamaan kebun/taman iman di hatinya sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah <em>Ta’ala</em>,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ}</p>
<p align="JUSTIFY">“… <em>seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun mencukupi). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat</em>” (QS al-Baqarah, 265).</p>
<p align="JUSTIFY">Maka seorang hamba yang beriman senantiasa mengusahakan dua hal,</p>
<ol>
<li>Merealisasikan dasar-dasar iman dan cabang-cabangnya dalam ilmu, amal dan semua keadaan.</li>
<li>Berusaha untuk menolak semua yang merusak atau mengurangi kesempurnaan iman, berupa fitnah-fitnah <i>syubhat</i> dan <i>syahwat</i> yang lahir maupun batin, berusaha memperbaiki kekurangannya dalam hal yang pertama dan bertaubat dengan sungguh-sungguh ketika melanggar hal yang kedua, serta melakukan semua itu dengan segera dan tanpa menunda-nunda sebelum terlambat waktunya.</li>
</ol>
<p align="JUSTIFY">Allah <em>Ta’ala</em> berfirman,</p>
<p dir="RTL" style="text-align: center;" align="JUSTIFY">{إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ}</p>
<p align="JUSTIFY">“<em>Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan mereka</em>” (QS al-A’raaf, 201).</p>
<h4 align="JUSTIFY"><span style="color: #ff0000;"><b>Penutup</b></span></h4>
<p align="JUSTIFY">Demikianlah penjelasan ringkas tentang pohon iman di hati, buah-buahnya yang manis dan sebab-sebab yang menyuburkan pertumbuhannya. Semoga Allah <em>Ta’ala</em> menjadikan tulisan ini bermanfaat dan menjadi motivasi bagi kita semua untuk selalu bersegera dalam melakukan kebaikan dan mninggalkan keburukan dalam rangka mencari keridhaan-Nya.</p>
<p align="JUSTIFY">Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan memohon kepada Allah <em>Ta’ala</em> dengan nama-nama-Nya yang maha indah dan sifat-sifat-Nya yang maha sempurna, agar Dia <em>Ta’ala</em> memudahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk mengusahakan sebab-sebab yang menguatkan dan menyempurnakan iman di dalam hati kita, serta menjauhi hal-hal yang bisa merusak atau melemahkannya. Sesungguhnya Dia <em>Ta’ala</em> maha mendengar lagi maha mengabulkan do’a.</p>
<p align="CENTER">وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين</p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">***</p>
<p style="text-align: left;" align="CENTER">Kota Kendari, 22 Shafar 1437 H</p>
<p align="JUSTIFY">Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, Lc., MA.</p>
<p align="JUSTIFY">Artikel Muslim.or.id</p>
<p align="JUSTIFY">[serialposts]
</p>
<p align="JUSTIFY">___</p>
<div id="sdfootnote1">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote1anc" name="sdfootnote1sym">1</a><span style="font-size: small;"> Pembahasan ini penulis ringkas dari penjelasan Syaikh ‘Abdur Rahman as-Sa’di dalam kitab “<em>at-Taudhiihu wal bayaanu li syajaratil iimaan</em>” (hlmn 45-70), dengan keterangan tambahan dari para ulama ahlus sunnah lainnya.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote2">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote2anc" name="sdfootnote2sym">2</a><span style="font-size: small;"> HSR al-Bukhari (2/981) dan Muslim (no. 2677).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote3">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote3anc" name="sdfootnote3sym">3</a><span style="font-size: small;"><em> Tafsir Ibnu Katsir</em> (3/729).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote4">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote4anc" name="sdfootnote4sym">4</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Raudhatul muhibbiin</em>” (hal. 406).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote5">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote5anc" name="sdfootnote5sym">5</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Madaarijus saalikiin</em>” (1/420).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote6">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote6anc" name="sdfootnote6sym">6</a><span style="font-size: small;"> Dinukil oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab “<em>Tafsir Ibni Katsir</em>” (4/43). </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote7">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote7anc" name="sdfootnote7sym">7</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Madaarijus saalikiin</em>” (1/451). </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote8">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote8anc" name="sdfootnote8sym">8</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (halaman 788). </span></p>
</div>
<div id="sdfootnote9">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote9anc" name="sdfootnote9sym">9</a><span style="font-size: small;"> HR Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain, dinyatakan shahih oleh Imam Ibnu Hibban, Syaikh al-Albani dan lain-lain.</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote10">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote10anc" name="sdfootnote10sym">10</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Mirqaatul mafaatiih syarhu misykaatil mashaabiih</em>” (1/288).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote11">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote11anc" name="sdfootnote11sym">11</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Miftahu daaris sa’aadah</em>” (1/71).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote12">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote12anc" name="sdfootnote12sym">12</a><span style="font-size: small;"> HSR Al Bukhari (no. 79) dan Muslim (no. 2282).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote13">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote13anc" name="sdfootnote13sym">13</a><span style="font-size: small;"><em> Fathul Baari</em> (1/177).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote14">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote14anc" name="sdfootnote14sym">14</a><span style="font-size: small;"><em> Tafsir Ibnu Katsir</em> (3/626).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote15">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote15anc" name="sdfootnote15sym">15</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (hal. 481).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote16">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote16anc" name="sdfootnote16sym">16</a><span style="font-size: small;"> Lihat keterangan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “<em>Fathul Baari</em>” (11/210).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote17">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote17anc" name="sdfootnote17sym">17</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>al-Waabilush shayyib</em>” (hlmn 56).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote18">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote18anc" name="sdfootnote18sym">18</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>al-Waabilush shayyib</em>” (hlmn 117).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote19">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote19anc" name="sdfootnote19sym">19</a><span style="font-size: small;"> Kitab “<em>Taisiirul Kariimir Rahmaan</em>” (hlmn 74).</span></p>
</div>
<div id="sdfootnote20">
<p align="JUSTIFY"><a class="sdfootnotesym" href="#sdfootnote20anc" name="sdfootnote20sym">20</a><span style="font-size: small;"> HR Imam Ahmad (4/264), an-Nasa-i (3/54 dan 3/55), Ibnu Hibban dan al-Hakim (no. 1900), dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, al-Hakim, disepakati oleh adz-Dzahabi dan Syaikh Al Albani dalam kitab “<em>Zhilaalul jannah fii takhriijis sunnah</em>” (no. 424).</span></p>
</div>
 