
<p>Sempat menjadi <i>trend</i> kaum muda di zaman sekarang, bercanda tapi berbohong, yaitu <i>trend</i><strong> “seberapa gregetnya kamu”</strong>. Bercanda dengan cara seperti ini umumnya dengan cara mengarang cerita yang umumnya tidak benar atau berbohong dalam candaan.</p>
<p>Kami nukilkan contohnya (tidak boleh diikuti):</p>
<p>“Kemaren gue lewati polisi tidur, trus gue selimuti polisinya”</p>
<p>“Kemaren gue beli lumpia basah, trus gue jemur supaya kering”</p>
<p>Contoh-contoh di atas adalah bercanda dan mengandung kebohongan. <strong>Hal ini tidak diperbolehkan oleh agama.</strong> Bagaimana pun juga hukum asal berbohong itu tidak boleh dan masih banyak cara lainnya untuk bercanda yang diperkenankan oleh syariat.</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/22443-tidak-boleh-menakut-nakuti-seorang-muslim-walau-bercanda.html">Tidak Boleh Menakut-nakuti Seorang Muslim Walau Bercanda</a></span></p>
<p>Bercanda seperti ini dilarang oleh Nabi <i>shallallahu alaihi wa sallam</i>, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وَيْلٌ لِلَّذِى يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ</span></p>
<p><i>“Celakalah orang yang berbicara kemudian dia berdusta agar suatu kaum tertawa karenanya. Kecelakaan untuknya. Kecelakaan untuknya.” </i>[HR Abu Dawud no. 4990. Hasan]
</p>
<p>Dalam hadits lainnya, Nabi <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> menjamin rumah di surga bagi mereka yang meninggalkan berkata dusta walaupun dalam hal bercanda. Nabi <i>shallallahu alaihi wa sallam</i> bersabda:</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ</span></p>
<p>“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” [HR. Abu Dawud, no. 4800; shahih]
</p>
<p><strong>Baca Juga: </strong><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/43399-terlalu-banyak-tertawa-mengeraskan-hati.html">Terlalu Banyak Tertawa Mengeraskan Hati</a></span></p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa berbohong dalam bercanda dapat menimbulkan permusuhan atau salah paham di antara manusia. Syariat ini dalam rangka untuk menuntup jalan ke arah yang lebih buruk, jadi meskipun tidak menyebabkan langsung, tetapi bisa jadi menjadi penyebab permusuhan dan salah paham di kemudian hari. Beliau berkata,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">وقد قال ابن مسعود : ” إن الكذب لا يصلح في جَدٍّ ، ولا هزل ” … .</span><br>
<span style="font-size: 21pt;">وأما إن كان في ذلك ما فيه عدوان على المسلمين ، وضرر في الدين : فهو أشد تحريماً من ذلك ، وعلى كل حال : ففاعل ذلك – أي : مضحك القوم بالكذب – مستحق للعقوبة الشرعية التي تردعه عن ذلك</span> .</p>
<p>“Ibnu Ma’sud berkata, ‘Berbohong itu tidak layak baik dalam keadaan serius maupun bercanda’. Apabila dalam candaan menimbulkan permusuhan di antara manusia dan menimbulkan madharat dalam agama, maka lebih diharamkan lagi. Pelakunya berhak mendapatkan hukuman yang bisa membuat jera.” (Majmu’ Al-Fatawa 32/256]
</p>
<p>Bisa jadi seseorang menganggap bercanda, tetapi bagi orang lain itu bukanlah bercanda dan menyakiti hatinya. Perhatikan hadits berikut, Rasulullah <i>shallallahu ‘alaihi wa sallam</i> bersabda,</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">لاَ يَأْخُذَنَّ أَحَدُكُمْ مَتَاعَ أَخِيهِ لاَعِبًا وَلاَ جَادًّا</span></p>
<p><i>“Tidak boleh seorang dari kalian mengambil barang saudaranya, baik bercanda maupun serius.”</i> [HR. Abu Dawud, shahih]
</p>
<p>Bercanda dengan berbohong juga termasuk membuang-buang waktu kita yang sangat berharga. Lebih baik kita gunakan untuk hal-hal yang bermanfaat dan semoga Allah memudahkan kita.</p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 21pt;">مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ</span></p>
<p>“Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya’.” [HR. at-Tirmidzi, hasan]
</p>
<p>Demikian semoga bermanfaat</p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/35776-larangan-menjadikan-agama-sebagai-bahan-candaan-dan-lawakan.html">Larangan Menjadikan Agama Sebagai Bahan Candaan dan Lawakan</a></span></li>
<li><span style="color: #ff0000;"><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/12146-bercanda-dan-tertawa-tidak-boleh.html">Bercanda dan Tertawa Tidak Boleh?</a></span></li>
</ul>
<p>@ Yogyakarta Tercinta</p>
<p>Penyusun: <a href="https://muslim.or.id/author/raehan">Raehanul Bahraen</a></p>
<p>Artikel <a href="http://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 