
<p><b>Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin </b><b><i>rahimahullah </i></b><b>ditanya:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Bolehkah meminta fatwa kepada lebih dari satu ulama? Dalam kondisi fatwa yang berbeda-beda, apakah peminta fatwa mengambil fatwa yang lebih mudah atau yang lebih hati-hati?</span></p>
<p><b>Beliau menjawab dengan mengatakan:</b></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila seseorang telah meminta fatwa kepada salah satu ulama yang terpercaya ucapannya, maka ia tidak boleh meminta fatwa kepada ulama yang lain. Sebab, hal itu akan menjerumuskan kepada mempermainkan agama Allah dan mencari-cari </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhshah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (kemudahan). Ia bertanya kepada si A. Jika jawabannya tidak sesuai denga keinginannya, maka ia akan bertanya kepada si B. Jika jawabannya tetap tidak sesuai dengan keinginannya, maka ia akan bertanya kepada si C. Demikian seterusnya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ulama mengatakan, “Siapa yang mencari-cari </span><i><span style="font-weight: 400;">rukhshah</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka ia telah berbuat fasik”. Namun, terkadang seseorang tidak mendapati ulama kecuali seorang saja misalnya. Lalu ia pun bertanya kepadanya karena kondisi darurat. Ia berniat, apabila ia bertemu dengan ulama lain yang lebih terpercaya dalam ilmu dan agama, maka ia akan bertanya kepadanya. Hal ini tidaklah mengapa. Ia bertanya kepada orang pertama karena kondisi darurat. Kemudian, jika ia menjumpai ulama yang lebih </span><i><span style="font-weight: 400;">afdhal</span></i><span style="font-weight: 400;">, maka ia bertanya kepadanya.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Apabila ulama berselisih dalam fatwa maupun nasihat yang ia dengarkan misalnya, maka ia ikuti ulama yang ia pandang lebih dekat kepada kebenaran dalam ilmu maupun agama. Jika ternyata kedua ulama tersebut selevel dalam ilmu maupun agama, maka sebagian ulama berpendapat untuk mengikuti pendapat yang lebih hati-hati yaitu yang lebih sulit. Ulama yang lain berpendapat untuk mengikuti pendapat yang lebih mudah dan inilah yang lebih tepat. Yakni jika fatwa tersebut sama kuat, maka engkau pilih fatwa yang lebih ringan. Karena agama Allah </span><i><span style="font-weight: 400;">Azza wa Jalla </span></i><span style="font-weight: 400;">dibangun di atas kemudahan, bukan kesulitan.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebagaimana ucapan ibunda ‘Aisyah </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiyallahu ‘anha</span></i><span style="font-weight: 400;">,</span></p>
<p style="text-align: right;"><span style="font-weight: 400;">ما خُيِّرَ رَسولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ بيْنَ أَمْرَيْنِ، أَحَدُهُما أَيْسَرُ مِنَ الآخَرِ، إلَّا اخْتَارَ أَيْسَرَهُمَا، ما لَمْ يَكُنْ إثْمًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“<em>Tidaklah Rasulullah </em></span><em><span style="font-weight: 400;">Shallallahu’alaihi wa sallam</span></em><span style="font-weight: 400;"><em> ketika memilih antara dua perkara, dan salah satunya lebih mudah, kecuali beliau pasti memilih yang lebih mudah. Selama bukan perkara dosa</em>” (HR. Bukhari – Muslim).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Sebab, hukum asalnya ialah bebas dari beban syariat dan tidak ada dosa. Dengan demikian, pendapat untuk memilih yang lebih sulit akan menyebabkan terbebani dengan syariat dan dosa.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Diterjemahkan dari </span><i><span style="font-weight: 400;">Kitabul ‘Ilmi</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, penerbit </span><i><span style="font-weight: 400;">Muassasah Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin Al-Khairiyah, </span></i><span style="font-weight: 400;">cetakan kesembilan, tahun 1435 H, hal. 215</span></p>
<p>Penerjemah: Ummu Fathimah</p>
<p>Artikel Muslimah.or.id</p>
<div class="nf-post-footer"><a class="ads-mobile" href="https://www.instagram.com/souvenirnikahislami/" target="_blank" rel="noopener"><img class="ads-mobile aligncenter wp-image-10075 size-medium" src="https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2018/03/souvenir-nikah-islami-buku-saku-dzikir-pagi-petang-300x300.png" alt="" width="300" height="300"></a></div> 