
<h1><b>Bolehkah Menjual Kulit Hewan Kurban namun Hasilnya Disedekahkan?</b></h1>
<p><b>Pertanyaan:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Bolehkah panitia kurban menjual kulit hewan kurban lalu hasil penjualannya disedekahkan untuk orang yang tidak mampu? </span></i></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Karena kulit hewan kurban biasanya hanya bermanfaat jika keadaan utuh. Sedangkan umumnya tidak memungkinkan untuk memberikan kulit secara utuh kepada satu orang miskin. Sehingga panitia biasanya menjual kulit lalu hasil penjualannya dibagikan kepada orang-orang miskin. Mohon pencerahan dan solusinya.</span></i></p>
<p><b>Jawaban:</b></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, ash shalatu was salamu ‘ala Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du,</span></i></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menjual bagian-bagian dari hewan kurban, baik daging, kulit, kepala, dan semisalnya, jika kemudian hasil penjualannya dikembalikan kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">shahibul qurban</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau panitia kurban, ini jelas tidak diperbolehkan. Sebagaimana dalam hadis dari Ali bin Abi Thalib </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu’anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">, ia berkata:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا . قَالَ : نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam memerintahkan kami untuk menyembelih kurban beliau, dan menyedekahkan dagingnya, kulitnya, dan jilal-nya (bagian kulit), serta tidak memberikan salah satu dari itu kepada jagal (sebagai upah). Dan kami biasa memberi upah jagal dari kantong kami”</span></i><span style="font-weight: 400;"> (HR. Al Bukhari no.1717, Muslim no.1317).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Hadis ini jelas menunjukkan tidak bolehnya menjual kulit jika hasilnya kembali kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">shohibul qurban</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau panitia kurban. Al-Hijawi dalam matan </span><i><span style="font-weight: 400;">Zadul Mustaqni</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ولا يبيع جلدها ولا شيئا منها ، بل ينتفع به</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Tidak boleh menjual kulit hewan kurban dan tidak boleh menjual bagian apapun darinya. Bahkan seharusnya dimanfaatkan (disedekahkan)”.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun masalahnya berbeda jika kasusnya adalah menjual kulit hewan kurban lalu hasilnya disedekahkan, bukan dikembalikan kepada </span><i><span style="font-weight: 400;">shohibul qurban</span></i><span style="font-weight: 400;"> atau panitia.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumhur ulama melarang menjual kulit sama sekali, walaupun untuk disedekahkan. Sebagian ulama membolehkan dengan alasan bahwa ditukarnya kulit dengan uang lalu disedekahkan, ini tidak keluar dari makna kalimat </span><i><span style="font-weight: 400;">“menyedekahkan dagingnya, kulitnya”</span></i><span style="font-weight: 400;"> yang ada dalam hadis di atas. Selama daging tersebut memberi kemanfaatan kepada orang miskin dan masyarakat, maka sudah tercapai tujuan dari distribusi hewan kurban. Diriwayatkan oleh al-Khallal dengan sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Umar </span><i><span style="font-weight: 400;">radhiallahu ‘anhu</span></i><span style="font-weight: 400;">:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">إن ابن عمر باع جلد بقرةٍ وتصدق بثمنه</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Bahwa Ibnu Umar pernah menjual kulit sapi dan menyedekahkan hasil penjualannya” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Inshaf</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/93).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Ishaq bin Manshur pernah bertanya kepada Imam Ahmad:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">جلود الأضاحي ما يصنع بها ؟ قال : ينتفع بها ويتصدق بثمنها . قلت : تباع ويتصدق بثمنها ؟ قال : نعم ، حديث ابن عمر</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Kulit hewan kurban harus diapakan wahai Imam Ahmad? Beliau menjawab: Dimanfaatkan dan disedekahkan dari hasil penjualannya. Ishaq bin Manshur bertanya lagi: Berarti boleh dijual dan hasilnya disedekahkan? Imam Ahmad menjawab: Iya benar, dalilnya hadis (perbuatan) Ibnu Umar” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Al-Inshaf</span></i><span style="font-weight: 400;">, 4/93).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Pendapat yang membolehkan menjual kulit untuk disedekahkan adalah pendapat </span><i><span style="font-weight: 400;">mu’tamad </span></i><span style="font-weight: 400;">dalam mazhab Hanafi. Disebutkan dalam kitab </span><i><span style="font-weight: 400;">Tabyinul Haq</span></i><span style="font-weight: 400;"> (Kitab Fiqih Hanafi):</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">ولو باعهما بالدراهم ليتصدق بها جاز ; لأنه قربة كالتصدق بالجلد واللحم</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Andaikan seseorang menjual kulit hewan kurban dan mendapatkan dirham darinya, lalu bersedekah darinya, ini boleh. Karena ini adalah bentuk ketaatan yang sama seperti menyedekahkan kulit dan daging secara langsung” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Tabyinul Haq</span></i><span style="font-weight: 400;">, 6/9).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Asy-Syaukani </span><i><span style="font-weight: 400;">rahimahullah</span></i><span style="font-weight: 400;"> mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">اتفقوا على أن لحمها لا يباع فكذا الجلود. وأجازه الأوزاعي وأحمد وإسحاق وأبو ثور وهو وجه عند الشافعية قالوا : ويصرف ثمنه مصرف الأضحية</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Para ulama sepakat tentang tidak bolehnya menjual daging kurban. Maka demikian juga kulit. Namun sebagian ulama membolehkan seperti Al-Auza’i, Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur, dan salah satu pendapat Syafi’iyyah. Mereka mengatakan: boleh jika hasilnya disedekahkan kepada para penerima daging kurban” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Nailul Authar</span></i><span style="font-weight: 400;">, 5/153).</span></p>
<p><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">, pendapat yang membolehkan menjual kulit hewan kurban untuk disedekahkan hasilnya, adalah pendapat yang kuat. Karena dilandasi oleh hadis-hadis dan </span><i><span style="font-weight: 400;">atsar</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari sahabat Nabi. Sehingga tidak mengapa menjual kulit hewan kurban kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, kemudian hasilnya disedekahkan kepada orang-orang miskin atau para penerima kurban. </span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Namun kami lebih menyarankan solusi yang lebih baik, yaitu agar panitia hewan kurban menyedekahkan kulit hewan kurban kepada orang miskin atau kepada masyarakat secara utuh. Kemudian setelah diserahkan kepada mereka, barulah mereka yang menjual sendiri kulitnya kepada pengepul kulit atau pihak lainnya, andaikan mereka menginginkan demikian. Syaikh Muhammad Ali Farkus Al-Jazairi mengatakan:</span></p>
<p class="arab"><span style="font-weight: 400;">وأمَّا بيعُ الفقير أو المسكينِ لجلود الأضحية بعد التصدُّق بها عليه فجائزٌ لتَمَلُّكِها أوَّلًا</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">“Adapun jika orang fakir atau miskin menjual kulit hewan kurban yang mereka dapatkan setelah disedekahkan (oleh panitia atau </span><i><span style="font-weight: 400;">shahibul qurban</span></i><span style="font-weight: 400;">), maka ini boleh. Karena memang kulit tersebut sudah menjadi milik mereka” (</span><i><span style="font-weight: 400;">Fatawa Syaikh Muhammad Ali Farkus</span></i><span style="font-weight: 400;"> no.94).</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Solusi ini lebih baik dan lebih hati-hati karena keluar dari khilaf ulama. </span><i><span style="font-weight: 400;">Wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Semoga Allah memberi taufik.</span></p>
<p><span style="font-size: inherit;">***</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dijawab oleh Ustadz </span><span style="font-weight: 400;">Yulian Purnama, S.Kom.</span><span style="font-weight: 400;"> </span></p>
<p><strong>Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Tanya Ustadz untuk Android</a>. <a href="https://play.google.com/store/apps/details?id=org.yufid.tanyaustadz" target="_blank" rel="noopener noreferrer">Download Sekarang !!</a></strong></p>
<p><strong>Dukung Yufid dengan menjadi SPONSOR dan DONATUR.</strong></p>
<ul>
<li>
<strong>REKENING DONASI</strong>:</li>
</ul>
<p>BANK SYARIAH INDONESIA<br>
7086882242<br>
a.n. YAYASAN YUFID NETWORK<br>
Kode BSI: 451</p>
 