
<p><span style="font-weight: 400;">Mari kita tinjau sebuah masalah berikut. Jika Ahmad mewakilkan penjualan barang miliknya kepada Hasan, maka apakah boleh bagi Hasan untuk membeli barang tersebut untuk dirinya sendiri, padahal di saat yang sama dia juga bertindak sebagai wakil dari penjual, yaitu Ahmad?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Jumhur ulama’ dari kalangan mazhab yang empat berpendapat bahwa tidak boleh bagi wakil untuk menjual barang tersebut kepada dirinya sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[Lihat misalnya: </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mabsuth</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya as-Sarakhsiy (13/124), </span><i><span style="font-weight: 400;">Mawahibul-Jalil</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Haththab (7/190), </span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhfatul-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Haitsamiy (5/318), </span><i><span style="font-weight: 400;">Kasysyaful-Qina’</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Buhutiy (8/434), dll.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Dalil yang digunakan adalah sebagai berikut:</span></p>
<p><b>Pertama,</b><span style="font-weight: 400;"> secara ‘<em>urf</em>, jual-beli itu terjadi antara dua belah pihak, yaitu pihak penjual dan pembeli. Sehingga jika Ahmad mewakilkan penjualan barang miliknya kepada Hasan, maka yang dipahami secara ‘<em>urf</em> adalah Hasan hendaknya menjual barang tersebut kepada orang lain, bukan kepada dirinya sendiri.</span></p>
<p><b>Kedua,</b><span style="font-weight: 400;"> karena hukum asalnya adalah tidak mungkin dua tujuan bisa bersatu dalam satu orang, yaitu tujuan </span><i><span style="font-weight: 400;">istirkhash</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari pihak pembeli (berusaha agar harga barang lebih murah), dan tujuan </span><i><span style="font-weight: 400;">istiqsha’</span></i><span style="font-weight: 400;"> dari pihak penjual (berusaha agar harga barang lebih mahal). Yakni, tidak mungkin bersatu antara pihak yang melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">ijab</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan pihak yang melakukan </span><i><span style="font-weight: 400;">qabul</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><b>Ketiga,</b><span style="font-weight: 400;"> agar tidak ada tuduhan kepada wakil dari penjual karena dia telah membeli barang tersebut untuk dirinya sendiri.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[Lihat misalnya: </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Mughniy</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Ibnu Qudamah (7: 229), </span><i><span style="font-weight: 400;">Syarh Muntahal-Iradat</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Buhutiy (3: 521), </span><i><span style="font-weight: 400;">Kasysyaful-Qina’</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Buhutiy (8: 434), </span><i><span style="font-weight: 400;">Tuhfatul-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya al-Haitamiy (5: 318), </span><i><span style="font-weight: 400;">Mughnil-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya asy-Syirbiniy (2: 291), </span><i><span style="font-weight: 400;">Nihayatul-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya ar-Ramliy (5: 35), </span><i><span style="font-weight: 400;">Raddul-Muhtar</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Ibnu ‘Abidin (8: 257), </span><i><span style="font-weight: 400;">al-Fatawa al-Hindiyyah</span></i><span style="font-weight: 400;"> (3: 589), dll.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Penting untuk dicatat bahwa poin ketiga di atas tidak disepakati sebagai dalil oleh seluruh jumhur ulama’ tersebut. Misalnya, mazhab Hanbaliy menjadikannya sebagai dalil, bahkan tampaknya inilah dalil terkuat mereka dalam masalah ini, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam.</span></i><span style="font-weight: 400;"> Sementara mazhab Syafi’iy tidak menganggapnya sebagai dalil, walaupun Ibnur-Rif’ah, al-Mahalliy, Ibnu Qadhiy Syuhbah <em>rahimahumullah</em>, dan lainnya berdalil dengan pendalilan ini.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">[Lihat misalnya: </span><i><span style="font-weight: 400;">Kifayatun-Nabih</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Ibnur-Rif’ah (10: 233), </span><i><span style="font-weight: 400;">Kanzur-Raghibin</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Jalalud-Din al-Mahalliy (1: 734), </span><i><span style="font-weight: 400;">Bidayatul-Muhtaj</span></i><span style="font-weight: 400;"> karya Ibnu Qadhiy Syuhbah (2: 255), dll.]</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Perbedaan dalam pendalilan di antara mazhab Syafi’iy dan Hanbaliy ini, walaupun menghasilkan pendapat yang sama dalam masalah di atas, akan memberikan pengaruh dalam masalah-masalah yang lain.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Misalnya, mari kita tinjau masalah kedua berikut. Jika Ahmad mewakilkan penjualan barang miliknya kepada Hasan </span><b>dan membolehkannya untuk membeli barang itu untuk dirinya sendiri</b><span style="font-weight: 400;">, maka apakah sekarang boleh bagi Hasan untuk membeli barang tersebut?</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Menurut mazhab Syafi’iy, hukumnya tetap tidak boleh, karena pendalilan mereka dalam kasus ini tetap berlaku, yaitu tidak mungkin adanya dua tujuan yaitu </span><i><span style="font-weight: 400;">istirkhash</span></i><span style="font-weight: 400;"> dan </span><i><span style="font-weight: 400;">istiqsha’</span></i><span style="font-weight: 400;"> dalam satu orang yaitu Hasan, walaupun telah ada izin dari Ahmad, dan walaupun Ahmad telah menetapkan harga jual dari barang tersebut.</span></p>
<p><span style="font-weight: 400;">Akan tetapi, menurut mazhab Hanbaliy, karena Ahmad mengizinkan Hasan untuk membeli barang tersebut untuk dirinya sendiri sehingga tidak ada lagi kekhawatiran terhadap adanya tuduhan pada Hasan dalam kasus ini, maka hukumnya adalah boleh, apalagi jika Ahmad telah menetapkan harga jual dari barang tersebut. Dan inilah pendapat yang kami pilih, mengingat kuatnya argumentasi yang dikemukakan untuk menopang pendapatnya, </span><i><span style="font-weight: 400;">wallahu a’lam</span></i><span style="font-weight: 400;">.</span></p>
<p><strong>Baca Juga:</strong></p>
<div class="post-title">
<ul>
<li><span style="color: #ff0000;" data-darkreader-inline-color=""><strong><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/62249-syarat-dan-rukun-jual-beli.html" data-darkreader-inline-color="">Syarat dan Rukun Jual-Beli</a></strong></span></li>
<li><strong style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color=""><a style="color: #ff0000;" href="https://muslim.or.id/61826-hukum-jual-beli-dengan-uang-muka.html" data-darkreader-inline-color="">Hukum Jual Beli Dengan Uang Muka</a></strong></li>
</ul>
</div>
<p>***</p>
<p><span style="font-weight: 400;"><strong>Penulis: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Dr. Andy Octavian Latief, M.Sc.</span></strong></span></p>
<p><strong>Artikel: <span style="color: #ff0000; --darkreader-inline-color: #ff1010;" data-darkreader-inline-color="">Muslim.or.id</span></strong></p>
 