
<p><strong>Tanya:</strong><br>
<em>Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>Ustadz, ana mau tanya, bolehkah seseorang berwudhu menggunakan air hangat? Apakah sah wudhunya? Begitu juga karena seseorang itu sakit sehingga harus mandi dengan air hangat/dokter tidak menyarankan dengan air dingin, bolehkah mandi besar menggunakan air hangat? Sahkah mandi besarnya? Berikut dalilnya ya Ustadz. Jazakallahu khairan.<br>
<em>Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.</em></p>
<p>(Desri Wardani, Yogyakarta).<br>
<span><br>
<strong>Jawab:</strong></span></p>
<p><span><strong></strong> <em>Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu. </em><br>
</span></p>
<p><span>Boleh bagi seseorang berwudhu atau mandi dengan air yang dihangatkan dan wudhunya sah karena tidak ada dalil shahih yang melarangnya. Bahkan datang atsar-atsar dari para salaf yang menunjukkan bolehnya berwudhu dan mandi dengan air yang dihangatkan.<br>
</span></p>
<p><span>Dari Aslam Al-Qurasyiy Al-‘Adawy, Maula Umar bin Al-Khaththab bahwasanya Umar dahulu mandi dari air yang dihangatkan. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1/174 no: 675, dan sanadnya dishahihkan Ibnu Hajar dalam <em>Fathul Bary</em> 1/299)<br>
</span></p>
<p><span>Berkata Nafi’:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">كان ابن عمر يتوضأ بالحميم</p>
<p><span>“Dahulu Ibnu Umar berwudhu dengan air yang dihangatkan” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah di<em> Al-Mushannaf</em> 1/47 no: 257, dan Abdurrazzaq di dalam<em> Al-Mushannaf</em> 1/175 no: 676 dan sanadnya dishahihkan Syeikh Al-Albany di <em>Irwaul Ghalil</em> no: 17)<br>
</span></p>
<p><span>Ibnu Abbas juga berfatwa tidak mengapa berwudhu dan mandi dengan air yang dihangatkan. (Dikeluarkan oleh Abdurrazzaq di dalam <em>Al-Mushannaf</em> 1/175)<br>
</span></p>
<p><span>Berkata Ibnu Hajar:</span></p>
<p class="arab" style="text-align: right;">وأما مسألة التطهر بالماء المسخن فاتفقوا على جوازه الا ما نقل عن مجاهد</p>
<p><span>“Adapun masalah bersuci dengan air yang dihangatkan maka mereka (para ulama) bersepakat atas kebolehannya kecuali apa yang dinukil dari Mujahid” (Fathul bary 1/299)<br>
</span></p>
<p><span>Wallahu a’lam. </span></p>
<p>Ustadz Abdullah Roy, Lc.</p>
<p>Sumber: tanyajawabagamaislam.blogspot.com</p>
 