
<p>Dari Anas bin Malik <em>radhiyallahu’anhu</em>, beliau mengisahkan bahwa suatu saat Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> memboncengkan Mu’adz di atas seekor  binatang tunggangan (keledai bernama ‘Ufair). Nabi berkata, <em>“Hai Mu’adz.”</em> Mu’adz menjawab, <em>“Kupenuhi panggilanmu dengan senang hati,  wahai Rasulullah.”</em> Lalu  Nabi berkata, <em>“Hai  Mu’adz.”</em> Mu’adz menjawab,  <em>“Kupenuhi panggilanmu  dengan senang hati, wahai Rasulullah.”</em> Sampai tiga kali. Nabi pun bersabda, <em>“Tidak ada seorang pun yang bersaksi bahwa  tidak ada sesembahan -yang benar- selain Allah dan Muhammad adalah  utusan Allah secara jujur dari dalam hatinya kecuali Allah pasti akan  mengharamkan dia dari tersentuh api neraka.”</em> Mu’adz berkata, <em>“Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya  saya menyampaikan kabar ini kepada orang-orang agar mereka bergembira?”</em>. Beliau menjawab, <em>“Kalau hal itu disampaikan, nantinya mereka  justru bersandar kepadanya (malas beramal)?”</em>. Menjelang kematiannya, Mu’adz pun  menyampaikan hadits ini karena khawatir terjerumus dalam dosa  (menyembunyikan ilmu) (HR. Bukhari dan Muslim, lihat <em>Fath al-Bari</em> [1/273] dan <em>Syarh Muslim</em> [2/73-76], ini adalah lafaz Bukhari)</p>
<p>Hadits  yang agung ini menyimpan pelajaran penting, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Diperbolehkan  	mengkhususkan suatu bagian dari ilmu kepada sekelompok orang tanpa 	 memberitahukannya kepada kepada kelompok lainnya karena 	dikhawatirkan  mereka tidak bisa memahaminya yang mengakibatkan 	mereka terjatuh dalam  kekeliruan (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab 	al-’Ilm</em>, hal. 43)</li>
<li>Dianjurkan  	untuk memberi nama pada binatang tunggangan atau kendaraan yang 	 dimiliki (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab 	al-Jihad wa as-Siyar</em>, 	hal. 601)</li>
<li>Diperbolehkan  	seseorang untuk membonceng kepada orang lain -berdua- di atas seekor 	 keledai  atau kendaraannya, dengan syarat tidak menyulitkan bagi 	hewan  atau kendaraan tersebut (lihat Shahih al-Bukhari, <em>Kitab 	al-Libas</em>, hal. 1233, <em>Fath al-Bari</em> [11/384], <em>al-Qaul 	al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid</em> [1/33])</li>
<li>Yang 	 dimaksud dengan bersaksi <strong>‘secara jujur dari dalam hatinya</strong>’ adalah 	dia  mengucapkan syahadat tersebut dengan tulus, tidak sebagaimana 	 syahadatnya kaum munafikin yang dilandasi dengan kedustaan dan 	 kepura-puraan. Artinya <strong>orang tersebut mengucapkan syahadat itu 	dengan  lisannya dan hatinya pun membenarkan isinya</strong> (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [1/274])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan bahwa salah satu syarat diterimanya syahadat adalah 	 harus diucapkan dengan jujur, bukan pura-pura atau dilandasi dengan 	 keudustaan (lihat <em>at-Tanbihat  	al-Mukhtasharah Syarh al-Wajibat</em>, 	hal. 51-52)</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan ketawadhu’an Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> (lihat <em>Fath al-Bari</em> [11/384])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan keutamaan Mu’adz bin Jabal dan kelembutan adabnya 	 dalam bertutur kata (lihat <em>Fath  	al-Bari</em> [11/384])</li>
<li>Hadits  	ini juga menunjukkan kedekatan hubungan antara Mu’adz dengan Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa 	sallam</em> (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [11/384])</li>
<li>Hadits  	ini juga menunjukkan kedalaman ilmu Mu’adz bin Jabal yang mana Nabi <em>shallallahu ‘alaihi wa 	sallam</em> mengkhususkan 	ilmu -yang membawa resiko  berat- ini kepada dirinya (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [1/275])</li>
<li>Dianjurkan  	untuk mengulangi ucapan -ketika mengajar- dalam rangka memberikan 	 penegasan dan menanamkan pemahaman dengan sebaik-baiknya (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [11/384])</li>
<li>Sebagian  	ulama menjelaskan bahwa dari hadits ini juga bisa dipetik pelajaran 	 tidak bolehnya mempopulerkan hadits-hadits tentang 	rukhshah/keringanan  kepada masyarakat umum karena dikhawatirkan akan 	menimbulkan  kesalahpahaman dalam diri mereka (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [11/384])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan bahwa intisari dakwah Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> kepada umatnya adalah mengajak mereka  untuk mentauhidkan Allah <em>tabaraka  wa ta’ala</em> (lihat Shahih  al-Bukhari, <em>Kitab 	 at-Tauhid</em>, hal. 1467)</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan dianjurkan untuk menyampaikan sesuatu yang bisa 	 menggembirakan hati sesama muslim (lihat <em>al-Qaul 	al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid</em> [1/31])</li>
<li>Larangan  	bersandar kepada keluasan rahmat Allah yang menyebabkan tumbuhnya 	 perasaan aman dari makar Allah (lihat <em>al-Qaul 	al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid</em> [1/31])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan wajibnya menyampaikan ilmu dan menyembunyikannya 	 merupakan perbuatan dosa (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [1/275])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan bahwa seorang murid boleh meminta penjelasan 	tambahan  kepada gurunya akan sesuatu yang terasa meragukan atau 	belum mapan di  dalam pikirannya (lihat <em>Fath  	al-Bari</em> [1/275])</li>
<li>Hadits  	ini juga menunjukkan semestinya seorang murid meminta ijin kepada 	 gurunya yang telah mengajarkan kepadanya suatu ilmu khusus yang 	tidak  diberikan kepada selainnya apabila akan menyebarkan ilmu 	tersebut  (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [1/275])</li>
<li>Tindakan  	Mu’adz menyampaikan hadits ini menjelang kematiannya setelah adanya 	 larangan dari Nabi<em> shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> menunjukkan bahwa Mu’adz memahami larangan tersebut bukan  mengandung 	hukum haram, akan tetapi dalam rangka menyelamatkan sebagian  orang 	dari kesalahpahaman (lihat <em>Fath 	al-Bari</em> [1/275])</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> kepada umatnya. Beliau berusaha keras  untuk menutup segala celah 	yang mungkin mengantarkan mereka menuju  kehancuran. Di antaranya 	adalah upaya beliau agar umatnya tidak salah  paham dalam menyikapi 	hadits-hadits yang menceritakan keutamaan tauhid.</li>
<li>Hadits ini 	juga  -secara tidak langsung- menunjukkan keutamaan ilmu agama dan 	kepahaman  di dalamnya. Karena dengan pemahaman yang benar akan 	membentengi  seseorang dari kekeliruan bersikap dan mengambil 	tindakan.</li>
<li>Hadits  	ini menunjukkan bahwa pemahaman tauhid yang benar tidak akan membawa 	 pemiliknya untuk bersandar kepada rahmat Allah semata dan merasa 	aman  dari makar-Nya. Justru sebaliknya, kita temukan bahwa 	orang-orang yang  telah diakui ketauhidannya dan menjadi teladan di 	dalamnya adalah sosok  manusia yang sangat khawatir terjerumus ke 	dalam kemusyrikan dan  kemunafikan. Lihatlah doa yang dipanjatkan 	oleh Nabi Ibrahim<em> ‘alaihis salam</em>! <em>“Ya 	Allah jauhkanlah aku dan anak keturunanku dari menyembah 	 patung-patung.” </em>(QS. 	Ibrahim: 35). Dan lihatlah para  sahabat yang merasa khawatir dirinya 	terjangkit kemunafikan… Lalu  bagaimanakah lagi dengan keadaan kita 	yang baru belajar tauhid kemarin  sore?! <em>Nas’alullahas  	salamah</em>.</li>
<li>Hadits  ini juga menunjukkan betapa besar semangat generasi salaf 	dalam  menyebarkan ilmu, bahkan meskipun di saat-saat menjelang 	kematian  mereka!</li>
<li>Hendaknya  seorang da’i memperhitungkan maslahat dan madharat dari 	metode dakwah  yang dia jalankan. Tidak semua kebenaran harus 	disampaikan dalam satu  waktu dan kesempatan. Bisa jadi yang terbaik 	adalah menunda  penyampaiannya di waktu yang lain demi mengantisipasi 	madharat yang  lebih besar</li>
<li>Pemahaman 	tauhid yang benar akan  mengantarkan seseorang untuk bersemangat 	dalam beramal demi menggapai  kedekatan diri dengan-Nya dan agar 	dirinya bisa menjadi seorang hamba  yang pandai mensyukuri 	nikmat-Nya. Tidakkah kita ingat keteladanan  Rasulullah <em>shallallahu  	‘alaihi wa sallam</em> -manusia terhebat dalam mewujudkan  tauhid-? Ternyata, beliau tidak 	bermalas-malasan, bahkan beliau sholat  malam sampai telapak kakinya 	pecah-pecah!! Bandingkanlah dengan kondisi  sebagian kita di hari ini <em>ayyuhal ikhwah</em>! <em>Allahumma arinal 	haqqa haqqa warzuqnat  tiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqna 	jtinabah …</em> Aduhai, 	 betapa sering muncul anggapan bahwa kita telah paham tauhid, namun 	 kenyataannya kita adalah orang yang paling bodoh tentangnya. <em>Wallahul 	muwaffiq</em>.</li>
</ol>
<p>Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi</p>
<p>Artikel www.muslim.or.id</p>
 