
<p>Dari Qais bin Abi Hazim, dari Jarir bin Abdullah al-Bajali <em>radhiyallahu’anhu</em>, Jarir berkata: Suatu ketika Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> berkata kepadaku, <em>“Wahai Jarir, maukah engkau menenangkan hatiku dari memikirkan Dzul Khalashah?”</em> –itu adalah sebuah rumah di Khats’am  (sebuah tempat di Yaman, pent) yang dijuluki sebagai <strong>Ka’bahnya Yaman</strong> (yang di dalamnya terdapat berhala yang dipuja-puja, pent)–. Jarir berkata: Akupun bergegas berangkat -ke sana, untuk berperang, pent- bersama dengan seratus lima puluh pasukan berkuda -dari suku Ahmas, pent-. Sebenarnya aku ini tidak begitu tangguh mengendarai kuda. Hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, maka beliau pun menepukkan telapak tangannya ke dadaku seraya berdoa, <em>“Ya Allah, teguhkanlah dia dan jadikan dia pemberi petunjuk dan senantiasa terbimbing.” </em>Qais berkata: Maka berangkatlah Jarir ke sana dan berhasil membakar hangus rumah itu dengan api. Kemudian Jarir mengutus seseorang di antara kami untuk menyampaikan berita gembira ini kepada Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>. Orang itu biasa dipanggil dengan sebutan Abu Arthah -nama aslinya Husain bin Rabi’ah, pent-. Sesampainya dia di hadapan Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em>, dia pun melapor, <em>“Tidaklah saya datang menghadap anda kecuali kami telah meninggalkannya dalam keadaan -hangus, pent- bagaikan seekor onta yang terkena kudis di sekujur tubuhnya.” </em>Maka Rasulullah <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> pun mendoakan keberkahan bagi kuda-kuda suku Ahmas beserta pasukannya sebanyak lima kali. (<strong>HR. Bukhari dan Muslim</strong>, lihat <em>Syarh Muslim</em> [8/98-100] dan <em>Shahih Bukhari</em> hal. 633,635,795,900,1253,1293)</p>
<p><strong>Hadits yang agung ini menyimpan berbagai mutiara hikmah, di antaranya:</strong></p>
<ol>
<li>Anjuran untuk mengirimkan utusan yang menyampaikan kabar gembira berupa keberhasilan penaklukan musuh dan yang semacamnya (lihat <em>Syarh 	Muslim</em> [8/99]). Hadits ini juga menunjukkan anjuran untuk memberikan kabar gembira kepada sesama muslim yang dapat membuat hatinya senang, sebagaimana dalam hadits Mu’adz bin Jabal yang populer itu.</li>
<li>Kesenangan 	dan kebahagiaan jiwa Rasulullah <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> dan para sahabatnya adalah dengan berjayanya tauhid dan tumbangnya 	syirik. Maka perhatikanlah hal ini baik-baik <em>wahai 	saudaraku terutama para da’i</em>,… Hendaknya kita berupaya untuk meneladani mereka. Betapa besarnya perjuangan mereka -generasi salaf- dalam mendakwahkan tauhid ke berbagai penjuru dunia. Yang hal itu menunjukkan kepada kita bahwa yang menjadi <strong>cita-cita 	tertinggi</strong> perjuangan mereka adalah agar umat manusia menyembah kepada Allah saja dan mengingkari thaghut/sesembahan selain Allah. Bukankah Allah telah menegaskan tujuan agung ini dalam firman-Nya (yang artinya), <em>“Sungguh Kami 	telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang menyeru; 	sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.”</em> (QS. an-Nahl: 36). Sehingga dakwah tauhid itulah yang menjadi ruh perjuangan mereka, bukan dakwah menuju kekuasaan ataupun kesejahteraan ekonomi, apalagi tendensi untuk meraih simpati duniawi semua umat beragama! <em>Camkan 	hal ini baik-baik, wahai para pemuda!</em>
</li>
<li>al-Hafizh 	Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Tidak ada sesuatu pun yang lebih melelahkan bagi hati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan keberadaan sosok pujaan selain Allah ta’ala yang dipersekutukan dengan-Nya -dalam hal ibadah-.”</em> (<em>Fath al-Bari</em> [7/671] pdf). Maka hal ini mencerminkan kebencian dan keresahan yang 	amat mendalam pada diri Rasulullah <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> karena bercokolnya kemusyrikan di atas muka bumi ini. Tentunya hal ini sangat bertolak belakang dengan sikap sebagian orang yang dijuluki sebagai cendekiawan Islam dan ‘kelompok pembaharu’ (baca: <strong>JIL dan 	antek-anteknya</strong>) yang sangat tidak suka apabila rasa kebencian terhadap syirik dan pelakunya itu ditanamkan dalam hati umat Islam. Tidakkah kita ingat, wahai pembaca yang budiman.. indahnya firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Sungguh telah ada bagi kalian teladan yang baik pada diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya. Yaitu ketika mereka berkata kepada kaumnya, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami mengingkari kalian dan </em><em><strong>telah 	tampak jelas adanya permusuhan dan kebencian antara kami dengan 	kalian</strong></em><em>, untuk 	selama-lamanya sampai kalian mau beriman (beribadah) kepada Allah 	semata…”</em> (QS. al-Mumtahanah: 4). Maka ambillah pelajaran, wahai <em>ulil 	abshar</em> (orang yang punya pikiran)…!</li>
<li>al-Hafizh 	Ibnu Hajar <em>rahimahullah</em> berkata, <em>“Di dalam hadits ini terkandung ajaran yaitu disyari’atkannya melenyapkan sesuatu yang memicu merajalelanya fitnah/keburukan bagi manusia, baik yang berujud bangunan atau selainnya; apakah dia tergolong jenis manusia, binatang, atau bahkan benda mati.” </em>(<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). Di antara pemicu fitnah terbesar di negeri ini yang harus [segera] dilenyapkan adalah keberadaan Jaringan Islam Liberal beserta segala institusi yang mereka bangun untuk mempropagandakan kesesatan mereka. Mudah-mudahan pemerintah negeri ini –<em>semoga 	Allah membimbing mereka</em>– 	bisa segera mengambil tindakan demi keselamatan akidah kaum 	muslimin, <em>Allahumma 	amin</em>. Demikian juga tindakan ini mestinya diberlakukan kepada semua penebar fitnah kekafiran dan kemusyrikan di mana saja. Hal ini mengisyaratkan pentingnya pemerintah kaum muslimin untuk <strong>memahami 	akidah yang benar dan berjuang mempertahankannya</strong> dengan kekuasaan 	yang mereka miliki.</li>
<li>Ajaran untuk menjinakkan hati suatu masyarakat dengan mengangkat orang sebagai pemimpin bagi mereka yang dia itu adalah berasal dari masyarakat itu sendiri (putra daerah) (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). <em> </em> <em> </em>
</li>
<li>Keutamaan 	pasukan penunggang kuda di dalam peperangan (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). Hal ini merupakan bagian dari perwujudan firman Allah <em>ta’ala</em> (yang artinya), <em>“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka -orang kafir- kekuatan apa saja yang mampu kalian siapkan, dan juga kuda-kuda yang ditambatkan -khusus untuk perang- dalam rangka menakut-nakuti musuh Allah dan musuh kalian serta musuh lain selain mereka…”</em> (QS. al-Anfal: 60)</li>
<li>Wajibnya 	menerima <strong>hadits ahad</strong> (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). Yaitu tatkala Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> menerima berita seorang utusan Jarir yang menyampaikan kabar gembira tersebut. Dan tentu saja di dalam berita itu terkandung konsekuensi aqidah; yaitu meyakini kebenarannya. Maka hadits yang mulia ini merupakan bantahan bagi sebagian gerakan dakwah yang menyerukan untuk kembali kepada syari’at Islam namun pada saat yang sama mereka sendiri justru tidak memahami syari’ah, bahkan tidak paham aqidah, <em>Sadarlah wahai 	Syabaab..</em>
</li>
<li>Bolehnya 	tindakan yang agak berlebihan dalam menghancurkan musuh (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). Tentu saja hal ini dengan mempertimbangkan maslahat dan madharat yang ditimbulkan. Karena kita mengetahui bahwa salah satu kaidah baku dalam bab <em>amar 	ma’ruf dan nahi mungkar</em> adalah tidak boleh melakukan ingkarul mungkar tatkala dampaknya 	justru melahirkan kemungkaran lain yang lebih besar (lihat <em>al-Amru 	bil Ma’ruf wa an-Nahyu ‘anil Munkar</em> oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 33).</li>
<li>Keutamaan 	sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali <em>radhiyallahu’anhu</em> beserta kaumnya (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf). Yaitu berupa kepatuhan beliau terhadap Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> dan perjuangannya dalam menumpas kesyirikan.</li>
<li>Barokah 	yang ada pada telapak tangan Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> dan doa yang beliau panjatkan (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf).</li>
<li>Dianjurkan 	untuk mengulangi doa sebanyak jumlah bilangan ganjil. Hadits ini 	menunjukkan bahwa Nabi <em>shallallahu 	‘alaihi wa sallam</em> terkadang mengulangi doanya lebih dari 3 kali. Maka hadits ini 	merupakan dalil pengkhusus/<em>takhshish</em> terhadap ucapan Anas, <em>“Beliau/Nabi 	kalau berdoa -mengulanginya- sebanyak tiga kali.”</em> Sehingga 3 kali itu ditafsirkan sebagai kebiasaan beliau secara umum. Kejadian ini menunjukkan bahwa kondisinya memang menuntut hal itu -yaitu mendoakan mereka lebih dari 3 kali- dikarenakan jasa mereka yang sangat besar dalam memberantas kekafiran dan membela Islam (<em>Fath 	al-Bari</em> [7/673] pdf).</li>
</ol>
<p>Penulis: <a href="http://abumushlih.com">Abu Mushlih Ari Wahyudi</a></p>
<p>Artikel <a href="https://muslim.or.id">www.muslim.or.id</a></p>
 